GAGAL menggelar Sail Derawan 2013 karena ”dikalahkan” Sail Komodo, Pemerintah Kabupaten Berau, juga Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, tidak patah arang. Target Sail Derawan kembali dicanangkan tahun 2015. Siapkah Derawan, mengingat Derawan masih dibalut setumpuk masalah? Begitu dipastikan urung menghelat Sail Derawan 2013, segera digelar Festival Derawan, yang sengaja ditujukan sebagai acara pendamping Sail Komodo. Harapannya, Festival Derawan bisa menarik perhatian pemerintah pusat, dan muaranya nanti, mengabulkan Sail Derawan 2015. Sayangnya, festival tidak terlalu bergaung. Bagi warga Derawan, festival ini hanya sebatas acara sekilas penambal kekecewaan. Warga telanjur memasang harapan tinggi, merenovasi rumah, dan tentu saja sudah mengeluarkan uang demi Sail Derawan 2013 yang batal.
Berenang dan snorkeling 50-an meter dari tepi pantai Derawan saja, kita bisa menjumpai ikan berwarna-warni berseliweran di antara terumbu karang. Jika beruntung, kita akan ”ditemani” penyu. Derawan juga termasuk rutin didatangi penyu untuk bertelur. Sangalaki yang merupakan taman wisata alam dan konservasi penyu tak kalah indah. Kita bisa melihat anak penyu (tukik) yang baru berumur sehari yang siap dilepas ke laut. Ikan pari manta juga berseliweran di perairan Sangalaki. Begitu melihat kecipak air, tinggal mencebur ke laut memakai peralatan snorkeling untuk menyaksikannya. Perairan di Maratua, pulau terluar di Berau, juga ”surga” bagi para penyelam. Daya tarik lain adalah Danau Kakaban di tengah Pulau Kakaban. Inilah habitat ubur-ubur yang tidak menyengat. Hanya dua tempat yang seperti ini di dunia, yakni Pulau Kakaban dan Pulau Palau di Micronesia. Lebih dari 3.000 wisatawan ke Kepulauan Derawan setiap bulan. Derawan, dan mungkin juga tempat wisata indah lain di Indonesia, masih terbalut kesulitan klasik. Sulit dijangkau dan mahal. Satu wisatawan setidaknya mesti menyiapkan Rp 3 juta hingga Rp 3,5 juta untuk menginap tiga hari dua malam, itu pun di luar biaya tiket pesawat. Berbagai masalah Kembali ke persoalan Sail Derawan, Pemkab Berau dan Pemprov Kaltim optimistis bisa menjadi tuan rumah, September 2015. Namun, apakah Derawan siap? Untuk saat ini, Derawan belum siap. Demikian juga masyarakatnya. Pemerintah daerah mesti bekerja keras dalam waktu singkat. Sulitnya menjangkau Derawan tetap jadi masalah pelik. Dari Tanjung Redep harus mencarter mobil menuju pelabuhan Tanjung Batu, baru menyeberang menuju Pulau Derawan. Tidak ada standar baku tarif speedboat merupakan kendala yang membingungkan wisatawan. Belum lagi pengemudi speedboat yang harus menunggu bahan bakar minyak baru bisa mengantar tamu. Pemandangan Derawan yang indah dari kejauhan tereduksi oleh sampah-sampah berserakan di daratannya. Tiadanya tempat pembuangan sampah, ditambah belum ada kesadaran warga, juga wisatawan, adalah akar masalahnya. Di balik bening air Derawan pun tersembul sampah plastik. Berlanjut ke soal kuliner dan layanan pendukung, Derawan cukup memprihatinkan. Wisatawan dijamin kesulitan menemukan warung yang menyediakan masakan laut ataupun sekadar menyeruput kopi. Pilihan makan akhirnya terbatas, hanya mi instan dan minuman instan. Penyewaan sepeda yang dibanderol Rp 20.000 per jam tidak memberi kesan. Kompas menjajalnya pekan lalu. Nyaris semua sepeda tidak dalam kondisi bersih karena hanya diparkir di teras. Sebagian besar rantai sepeda berkarat dan rem tidak pakem sehingga sepeda tidak nyaman dikendarai. Bannya pun rata-rata kempis sehingga harus dipompa lebih dulu. Melongok ke homestay yang menyatu dengan rumah penduduk belum ada aturan baku. Mardiawati pun mengeluh soal banting-bantingan tarif kamar. ”Homestay yang di tepi pantai laku duluan. Kalau mereka memasang tarif lebih murah, kami dapat sisa-sisa tamu,” katanya. Mengurai masalah Pemkab Berau berupaya mengurai persoalan. Untuk mengatasi sampah, tengah dipikirkan untuk membawa sampah menuju Tanjung Batu. Ruas jalan menuju Tanjung Batu sudah diperhalus di sejumlah titik. Warga juga pelan-pelan diajak membuka cakrawala kulinernya.