Asahimas (AMFG) bukukan penurunan pendapatan 3,7% kuartal-III 2019



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Produsen kaca, PT Asahimas Flat Glass Tbk (AMFG) mengakui bahwa tahun ini penuh tantangan untuk menggenjot kinerjanya. Manajemen bilang, sektor otomotif dan properti yang menjadi tumpuan serapan produk perseroan melemah dan mempengaruhi bisnis AMFG.

Mengulik laporan penjualan perseroan sampai akhir September tercatat senilai Rp 3,14 triliun atau turun 3,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp 3,26 triliun. Sementara beban pokok penjualan naik 0,7% year on year (yoy) menjadi Rp 2,78 triliun di kuartal ketiga tahun ini.

Baca Juga: Grup Bumi Resources bertekad jadi penyumbang PNBP terbesar


Rusli Pranadi, Direktur AMFG bilang penurunan di pasar otomotif dan belum kencangnya industri properti berdampak langsung bagi perseroan. "Seperti yang diketahui perusahaan memproduksi kaca lembaran yang kontribusinya 65% bagi penjualan, dan pasar utamanya properti dan perumahan," ungkapnya saat paparan publik perseroan berlangsung, Jumat (22/11).

Sementara sisanya disumbangkan oleh segmen kaca otomotif dengan kontribusi penjualan sebanyak 35% dari total revenue di kuartal tiga tahun ini. Turunnya pendapatan diiringi pula dengan kenaikan beban produksi, yang menurut Rusli disebabkan biaya depresiasi pabrik baru di Cikampek.

Dimana tahun ini perusahaan secara final merelokasi pabrik kaca lembaran dari Ancol ke Cikampek, dengan kapasitas produksi 420.000 ton per tahun. Manajemen mengaku saat ini pabrik baru sudah mulai beroperasi secara normal, namun dampaknya akan terasa bagi kinerja operasional butuh waktu.

Bisnis kaca Asahimas pun mendapatkan hambatan dengan maraknya barang impor. Rusli bilang, produk kaca Malaysia cukup membludak di dalam negeri dimana produsen di negeri jiran mendapatkan keuntungan dari harga gas industri lebih murah ketimbang Indonesia.

Baca Juga: Bayar utang, Barito Pacific (BRPT) akan menerbitkan obligasi Rp 750 miliar

Selain itu beban keuangan AMFG sepanjang sembilan bulan pertama juga naik, ditambah pula rugi kurs yang diperoleh Rp 20,68 miliar. Hal tersebut menggerus bottomline perseroan semakin dalam, dari rugi bersih Rp 91,08 miliar di kuartal-III 2018 menjadi rugi bersih Rp 111,45 miliar di kuartal-III 2019.

Soal proyeksi sampai akhir tahun, manajemen bilang agak sulit mengejarnya, diproyeksikan ada penurunan pendapatan sedikit dibandingkan tahun lalu. Sementara bottomline juga diperkirakan masih turun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Tendi Mahadi