KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengungkap dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terhadap operasional penerbangan di sejumlah wilayah Kalimantan. Asap tebal membuat sejumlah penerbangan dibatalkan hingga mengalami keterlambatan akibat menurunnya jarak pandang. Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub, Lukman F. Laisa, mengatakan jarak pandang merupakan salah satu faktor penting dalam keselamatan penerbangan. Jika berada di bawah batas operasional yang dipersyaratkan, penerbangan dapat ditunda, dialihkan, maupun dibatalkan. “Keselamatan penerbangan merupakan prioritas utama. Operator wajib melakukan penyesuaian apabila kondisi jarak pandang tidak memenuhi persyaratan. Kami terus memantau kondisi dan berkoordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan,” ujar Lukman dalam keterangan resminya, Jumat (21/8/2026).
Baca Juga: Beli Kapal hingga Akuisisi FOS, WINS Genjot Ekspansi Armada untuk Dorong Kinerja 2027 Gangguan penerbangan tersebut terjadi di tengah tingginya aktivitas karhutla di Kalimantan. Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) per 20 Agustus 2026, asap terdeteksi di sejumlah wilayah, termasuk Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara. BMKG mendeteksi 1.106 titik panas di Kalimantan. Sebarannya terdiri dari 521 titik di Kalimantan Barat, 424 titik di Kalimantan Tengah, 40 titik di Kalimantan Selatan, 103 titik di Kalimantan Timur, dan 18 titik di Kalimantan Utara. BMKG juga mencatat sebaran asap bergerak ke arah barat-timur laut. Sementara itu, arah angin di Indonesia pada umumnya bertiup dari tenggara menuju barat laut-utara. Kondisi jarak pandang di sejumlah wilayah Kalimantan turut menunjukkan dampak asap yang cukup signifikan. Pada 19 Agustus, misalnya, BMKG mencatat jarak pandang di Bandara Supadio, Pontianak, sekitar 1,2 kilometer dalam kondisi berasap. Di Palangkaraya sekitar 3 kilometer, sedangkan di Bandara Internasional Syamsudin Noor, Kalimantan Selatan, jarak pandang sempat turun hingga sekitar 400 meter. Dampak paling signifikan tercatat di Bandara Singkawang (SKJ). Asap tebal menyebabkan sejumlah penerbangan terdampak pada 16, 18, dan 19 Agustus 2026. Baca Juga:
Prospek Migas Cerah, WINS Bidik Lonjakan Permintaan Kapal Offshore hingga 2027 Pada 16 Agustus, ketika jarak pandang sekitar 3.000 meter, penerbangan TransNusa rute Soekarno-Hatta (CGK)-Singkawang terdampak dengan 174 penumpang dan rute SKJ-CGK dengan 153 penumpang. Sementara Super Air Jet terdampak dengan 180 penumpang pada rute CGK-SKJ dan 87 penumpang pada rute SKJ-CGK. Pada 18 Agustus, jarak pandang turun menjadi sekitar 2.000 meter. TransNusa terdampak dengan masing-masing 174 penumpang pada rute CGK-SKJ dan SKJ-CGK. Super Air Jet masing-masing terdampak 180 dan 179 penumpang. Kemudian pada 19 Agustus, dengan jarak pandang sekitar 2.500 meter, TransNusa kembali terdampak dengan 164 penumpang pada rute CGK-SKJ dan 165 penumpang pada rute SKJ-CGK. Sementara Super Air Jet terdampak masing-masing 180 penumpang pada kedua rute. Penumpang terdampak memperoleh penanganan berupa pengembalian dana penuh atau perubahan tanggal penerbangan secara gratis hingga tujuh hari ke depan, sesuai kebijakan masing-masing maskapai. Gangguan juga terjadi di Bandara Iskandar-Pangkalan Bun (PKN), Kalimantan Tengah. Dampak asap menyebabkan penerbangan NAM Air mengalami keterlambatan. Penerbangan CGK-PKN yang semula dijadwalkan pukul 07.00 WIB menjadi 08.50 WIB. PKN-SRG mundur dari 07.30 WIB menjadi 09.38 WIB, SRG-PKN dari 10.15 WIB menjadi 12.05 WIB, dan PKN-SUB dari 10.45 WIB menjadi 12.34 WIB. Selain itu, Kemenhub terus memantau operasional sejumlah bandara di Kalimantan Timur. Pemantauan dilakukan di Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan, A.P.T. Pranoto, Kalimarau, Nusantara, Datah Dawai, Maratua, dan Melalan. Bandara Nusantara, Datah Dawai, Maratua, dan Melalan masih beroperasi normal, sedangkan bandara lainnya terus dipantau.
Baca Juga: PTPN I Gandeng Geo Dipa Kembangkan Produksi Teh Berkelanjutan Di Kalimantan Tengah, pemantauan mencakup Bandara Tjilik Riwut, Iskandar, H. Asan, H.M. Sidik, Tumbang Samba, Kuala Kurun, Kuala Pembuang, Sanggu, dan Bandara Khusus Puruk Cahu. Bandara Tumbang Samba dan Bandara Khusus Puruk Cahu beroperasi normal. Sementara di Kalimantan Utara, Kemenhub memantau Bandara Juwata, Tanjung Harapan, Yuvai Semaring, Kolonel Robert Atty Bessing, Long Apung, dan Nunukan. Bandara Tanjung Harapan dan Nunukan beroperasi normal, sementara bandara lainnya terus dipantau.
Kemenhub menginstruksikan seluruh penyelenggara bandar udara dan operator penerbangan meningkatkan kewaspadaan serta memantau cuaca dan jarak pandang secara berkala. Penyesuaian penerbangan dilakukan berdasarkan kondisi aktual dan pertimbangan keselamatan sehingga jadwal dapat berubah sewaktu-waktu. “Kami mengimbau masyarakat yang akan melakukan perjalanan dari dan ke wilayah terdampak asap untuk memperhatikan informasi terbaru dari maskapai dan bandar udara serta mengikuti arahan petugas apabila terjadi penyesuaian penerbangan,” kata Lukman. Kemenhub bersama penyelenggara bandara, maskapai, AirNav Indonesia, BMKG, dan instansi terkait terus berkoordinasi memantau perkembangan karhutla dan dampaknya terhadap operasional penerbangan. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News