Asbanda minta BPD siapkan strategi bila regulator cabut restrukturisasi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Bank Pembangunan Daerah (Asbanda) menyatakan rata-rata kredit BPD yang direstrukturisasi mencapai 7% dari portofolio pembiayaan yang disalurkan. Ia bilang BPD telah restrukturisasi kredit dengan outstanding Rp 35,94 triliun dari total kredit Rp 503 triliun per Juni 2021. 

Ketua Umum Asbanda, yang juga CEO Bank Jateng Supriyatno menyatakan BPD harus menjaga rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) bila restrukturisasi kredit dihentikan oleh regulator pada Maret 2023. 

“Ini harus hati-hati, kita harus memperhatikan siklus kredit, penanganan kredit di internal, dan manajemen kredit yang sudah tidak bisa ditagih lagi. Strategi ini harus disiapkan sedini mungkin,” ujarnya. 


Baca Juga: Lakukan transformasi digital, Bank Jatim akan tingkatkan belanja modal IT

Ia menyatakan rasio NPL BPD berada di kisaran 2,9% per Juni 2021. Lebih rendah dibandingkan NPL industri perbankan yang mencapai 3,24%. 

Berdasarkan stress test, apabila tidak dilakukan perpanjangan restrukturisasi pada Maret 2022, maka rasio NPL BPD seluruh Indonesia akan meningkat di kisaran 8%.

“Kita selalu melakukan stress test, karena ini penting agar NPL BPD tidak sampai di atas 5%. Sebab akan menjadi ancaman bagi BPD,” jelasnya. 

Asal tahu saja, kredit BPD mampu tumbuh 6,04% year on year (yoy) menjadi Rp 498,6 triliun per Juli 2021. Padahal secara industri, kredit perbankan baru tumbuh 0,5% yoy menjadi Rp 5.563,7 triliun di tujuh bulan pertama 2021.

Selanjutnya: Begini perkembangan penyaluran dana PEN oleh BPD

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Herlina Kartika Dewi