ASEAN Desak Perang di Timur Tengah Dihentikan, Ekonomi Kawasan Terancam



KONTAN.CO.ID - MANILA. Para menteri luar negeri dan ekonomi dari negara-negara Asia Tenggara menyerukan penghentian segera konflik bersenjata di Timur Tengah. Mereka memperingatkan bahwa lonjakan harga minyak dunia serta gangguan jalur perdagangan global mulai memberikan dampak nyata terhadap perekonomian kawasan.

Seruan tersebut disampaikan dalam pertemuan khusus para pejabat tinggi dari Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) yang digelar di Manila pada Jumat (13/3). Dalam pertemuan tersebut, para menteri menyatakan kekhawatiran serius atas eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah dan potensi dampaknya terhadap stabilitas ekonomi regional.

Sekretaris Luar Negeri Filipina, Ma. Theresa Lazaro, mengatakan ASEAN menekankan pentingnya penghentian permusuhan secara segera serta mendesak semua pihak untuk menahan diri.


“Kami menyampaikan kekhawatiran serius atas situasi di Timur Tengah dan dampaknya bagi kawasan, serta menekankan pentingnya penghentian segera permusuhan,” kata Lazaro dalam konferensi pers setelah pertemuan tersebut.

Dampak Langsung bagi Ekonomi Asia Tenggara

Pertemuan darurat ini diselenggarakan oleh Filipina yang saat ini menjabat sebagai ketua ASEAN tahun ini. Langkah tersebut diambil menyusul meningkatnya kekhawatiran terhadap konflik yang melibatkan Iran dan potensi eskalasinya terhadap jalur energi global.

Baca Juga: Soal Stabilisasi Pasar Minyak Dunia, AS dan Rusia Punya Kepentingan Sama

Beberapa negara anggota ASEAN dilaporkan mulai mengambil langkah-langkah untuk mengurangi dampak ekonomi dari krisis tersebut. Kebijakan yang diterapkan antara lain penghematan energi, stabilisasi pasar domestik, serta perlindungan terhadap sektor-sektor rentan seperti pariwisata.

Harga minyak mentah dunia saat ini diperdagangkan mendekati US$100 per barel, dipicu kekhawatiran terhadap pasokan global. Ketidakpastian semakin meningkat setelah pemimpin tertinggi baru Iran berjanji untuk mempertahankan penutupan Selat Hormuz, jalur laut strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Risiko Gangguan Rantai Pasok

Dalam pernyataan terpisah, para menteri ekonomi dari blok beranggotakan 11 negara tersebut menyatakan bahwa eskalasi konflik telah memicu dampak ekonomi yang meluas, terutama melalui volatilitas tinggi di pasar energi global serta gangguan pada jalur pelayaran dan rantai pasok utama.

Mereka menekankan bahwa ketergantungan kawasan terhadap rute pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) global membuat Asia Tenggara sangat rentan terhadap guncangan tambahan.

Lazaro juga mengungkapkan bahwa Filipina, yang sangat bergantung pada impor bahan bakar dari Timur Tengah, sedang mempertimbangkan opsi pembelian minyak dari Rusia. Namun, ia tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai rencana tersebut.