KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Singapura akan menjadikan pengembangan ASEAN Power Grid (APG) sebagai salah satu agenda utama saat memegang keketuaan ASEAN tahun depan. Inisiatif integrasi jaringan listrik regional tersebut dinilai tidak hanya mendukung ketahanan energi kawasan, tetapi juga membuka peluang investasi besar pada sektor transmisi dan interkoneksi listrik lintas negara. Menteri di Prime Minister's Office sekaligus Second Minister for Finance and National Development Singapura, Indranee Rajah mengungkapkan, ASEAN Power Grid menjadi semakin relevan di tengah meningkatnya kebutuhan diversifikasi sumber energi serta tantangan geopolitik yang memengaruhi rantai pasok energi global.
Menurut Indranee, konsep dasar ASEAN Power Grid adalah menghubungkan negara-negara yang memiliki kelebihan kapasitas pembangkit listrik dengan negara-negara yang membutuhkan pasokan energi tambahan.
Baca Juga: Indonesia Jadi Kontributor Utama Pertumbuhan SCG di ASEAN "Ada negara anggota ASEAN yang memiliki sumber daya untuk pembangkitan energi dan kapasitas berlebih. Ada anggota ASEAN lainnya yang perlu mengimpor energi," ujar Indranee dalam forum diskusi Asia Infrastructure Forum (AIF) 2026 di Singapura, Selasa (16/6/2026). Ia menjelaskan, jaringan listrik regional dapat membantu negara-negara ASEAN mengurangi ketergantungan terhadap impor energi dari luar kawasan sekaligus meningkatkan diversifikasi sumber pasokan energi. Selain itu, integrasi sistem kelistrikan regional juga diyakini dapat memperkuat stabilitas pasokan energi dan mengurangi volatilitas yang muncul akibat gangguan geopolitik maupun rantai pasok global. Indranee mencontohkan proyek perdagangan listrik lintas negara yang mengalir dari Laos melalui Thailand dan Malaysia menuju Singapura. Menurutnya, proyek tersebut menjadi bukti konsep bahwa integrasi jaringan listrik regional dapat dijalankan secara efektif. "Itu semacam bukti konsep dan telah memberikan studi kasus yang baik tentang bagaimana ASEAN Power Grid dapat bekerja ke depan," katanya. Meski demikian, Indranee menilai pengembangan ASEAN Power Grid tidak cukup hanya berfokus pada pembangunan kapasitas pembangkit listrik. Investasi besar juga dibutuhkan pada jaringan transmisi agar energi dapat disalurkan secara efisien ke negara-negara yang membutuhkan.
Baca Juga: Harga BBM Nonsubsidi Naik, BBM Indonesia Termasuk Paling Murah di ASEAN "Ada banyak fokus pada pembangkitan listrik, tetapi kita juga perlu melihat bagian transmisi. Jika tidak bisa menyalurkan elektron bersih dari sumber ke negara yang membutuhkannya, maka akan muncul masalah," ujarnya. Menurut Indranee, sejumlah bank pembangunan multilateral telah menunjukkan minat untuk mendukung proyek tersebut. Di saat yang sama, keterlibatan sektor swasta juga akan menjadi faktor penting untuk mempercepat realisasi jaringan listrik terintegrasi di kawasan. Dalam diskusi yang sama, Sekretaris Negara Kementerian Ekonomi dan Keuangan Kamboja Pen Thirong mengatakan negaranya telah terlibat dalam berbagai proyek konektivitas energi regional melalui kerja sama di tingkat ASEAN maupun Greater Mekong Subregion (GMS). Ia menilai stabilitas kawasan menjadi faktor utama agar berbagai proyek konektivitas energi lintas negara dapat berjalan optimal.
Pengembangan ASEAN Power Grid sendiri telah lama menjadi salah satu proyek strategis ASEAN untuk memperkuat ketahanan energi kawasan. Namun, meningkatnya kebutuhan energi bersih, elektrifikasi ekonomi, serta pertumbuhan pusat data dan industri berbasis digital membuat urgensi proyek tersebut semakin tinggi. Bagi investor, kebutuhan pembangunan jaringan transmisi, kabel bawah laut, interkoneksi lintas batas, hingga infrastruktur pendukung energi terbarukan berpotensi membuka peluang investasi baru di kawasan Asia Tenggara.
Baca Juga: Indonesia Dorong Penguatan Konektivitas Infrastruktur Energi di Subkawasan ASEAN Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News