ASEAN Soroti Tingginya Pergantian Tenaga Kerja Pariwisata, Ini Tantangannya



KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Industri pariwisata di kawasan ASEAN menghadapi tantangan mempertahankan tenaga kerja yang telah mendapatkan pelatihan.

Pekerja yang keluar dari industri membuat pelaku usaha harus kembali merekrut dan melatih tenaga kerja baru.

Ketua Dewan AI ASEAN P2A, Ethel Agnes Pascua-Valenzuela, mengatakan persoalan retensi perlu menjadi perhatian dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM) pariwisata.


Pasalnya, pelatihan yang telah diberikan belum tentu berlanjut menjadi pengembangan karier di industri tersebut. 

“Kita juga perlu menyadari bahwa kita kehilangan banyak tenaga kerja pariwisata. Kita harus mempertahankan mereka. Setelah dilatih, mereka keluar dari industri sehingga kita harus mulai dari nol lagi,” ujar Ethel dalam ASEAN-Korea Roundtable in Tourism 2026 di Jakarta, Jumat (6/11/2026).

Baca Juga: Panorama (PANR) Bidik 30.000 Wisatawan Indonesia ke Korea Selatan pada 2027

Dia mencontohkan pengalamannya di Cebu, Filipina, yang menjadi tuan rumah sejumlah pertemuan ASEAN.

Hampir 1.000 orang dilibatkan dalam persiapan kegiatan tersebut, mulai dari mahasiswa, dosen, pengemudi taksi daring, pemandu wisata hingga pedagang.

Mereka mendapatkan pelatihan untuk mendukung pelayanan delegasi dan wisatawan. Materinya mencakup hubungan tamu (guest relations), protokol, komunikasi, hingga keselamatan.

Namun, Ethel mempertanyakan keberlanjutan kompetensi para peserta setelah kegiatan selesai. Menurutnya, pelatihan sering kali hanya berorientasi pada kebutuhan acara dan tidak terhubung dengan pengembangan karier.

“Setelah mengambil peran besar, menerima sertifikat, dan mendapatkan apresiasi, lantas apa yang terjadi setelah itu?” katanya.

Persoalan tersebut menjadi penting mengingat besarnya potensi pasar pariwisata ASEAN. Ethel menyebut kawasan ini menerima hampir 100 juta wisatawan setiap tahun. Lebih dari 10 juta di antaranya berasal dari Korea.

Baca Juga: Kemenpar Dorong Potensi Wisata Kuliner melalui WIG Culinary Festival 2026

Ia juga menyebut penerimaan sektor pariwisata ASEAN telah mencapai sekitar US$ 132 miliar. Besarnya potensi tersebut perlu diimbangi dengan ketersediaan tenaga kerja yang kompeten dan berkelanjutan. Untuk menjawab tantangan tersebut, Ethel mengusulkan kerangka kerja 3R dalam pendidikan pariwisata, yakni Relevance (relevansi), Recognition (pengakuan), dan Retention (retensi). Ketiganya mencakup kesesuaian pelatihan dengan kebutuhan industri, pengakuan kompetensi, serta upaya mempertahankan pekerja. Dari sisi relevansi, kurikulum pendidikan pariwisata perlu menyesuaikan perkembangan industri. Keterampilan digital, kecerdasan buatan (AI), manajerial, komunikasi, kewirausahaan, dan pemahaman lintas budaya menjadi kompetensi yang perlu diperkuat.

Ethel menilai masa depan pariwisata akan mengandalkan perpaduan teknologi dan interaksi manusia. Pemanfaatan AI harus tetap diimbangi pelayanan yang mengutamakan kebutuhan wisatawan.

“Kita dapat melihat perpaduan antara teknologi tinggi (high-tech) dan sentuhan manusia yang tinggi (high-touch), dan realitas ini terus berkembang. Saya mengusulkan agar kita mempertimbangkan dan menggabungkannya dengan teknologi tinggi, namun tentu tetap mempertahankan sentuhan manusia yang tinggi,” jelasnya.

Baca Juga: Kemenpar Dorong Potensi Wisata Kuliner melalui WIG Culinary Festival 2026

Menurutnya, keramahan, kehangatan, empati, dan kemampuan mendengarkan wisatawan tetap menjadi faktor penting dalam kualitas pelayanan. Keterampilan tersebut perlu mendapatkan porsi lebih besar dalam kurikulum pendidikan dan pelatihan pariwisata.

Dari sisi pengakuan, Ethel mendorong pengembangan sertifikasi kualifikasi mikro (micro-credentials) yang dapat diakui lintas negara ASEAN.

Sertifikasi ini diharapkan tidak sekadar menjadi bukti keikutsertaan pelatihan, tetapi juga memiliki nilai kredit untuk pendidikan lanjutan.

“Kita menginginkan kualifikasi yang portabel di ASEAN, dinilai dan diakui, sehingga dapat digunakan untuk jenjang kualifikasi makro seperti sarjana, magister, hingga doktor,” ujarnya.

Untuk mendukung pengembangan SDM, Ethel mengusulkan pembentukan Akademi Pelatihan Pariwisata Bersama ASEAN-Korea. Programnya dapat mencakup mobilitas mahasiswa dan tenaga kerja, pertukaran bahasa dan budaya, serta pelatihan AI, pariwisata digital, dan pariwisata berkelanjutan. 

Ethel menegaskan, pendidikan pariwisata harus diarahkan pada pembelajaran sepanjang hayat. Dengan begitu, pelatihan dapat membangun kompetensi dan prospek karier jangka panjang di industri pariwisata.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News