ASEI: Pertumbuhan Kredit Properti Berpotensi Dorong Pemulihan Premi Asuransi Properti



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Asuransi Asei Indonesia melihat pertumbuhan kredit properti sebagai katalis perbaikan premi asuransi properti.

Menurut laporan analisis uang beredar Bank Indonesia, kredit properti berhasil tumbuh 18,3% secara tahunan pada Agustus 2026.

Direktur Utama Asuransi Asei Dody Dalimunthe mengatakan, pertumbuhan kredit properti mencerminkan peningkatan aktivitas pembelian, pembangunan, dan pembiayaan aset. Seiring bertambahnya aset yang dibiayai, kebutuhan perlindungan terhadap risiko kebakaran, bencana alam, kerusakan, dan risiko lainnya juga berpotensi meningkat.


Baca Juga: Pembiayaan Investasi Masih Mendominasi Penyaluran Multifinance ke Sektor UMKM

Sayangnya, pertumbuhan kredit properti tersebut belum cukup menjamin premi properti bisa langsung berbalik tumbuh.

"Namun, transmisi dari pertumbuhan kredit ke premi asuransi membutuhkan waktu," ujarnya kepada Kontan, Kamis (9/10/26).

Menurut Dody, pertumbuhan premi properti juga dipengaruhi oleh nilai pertanggungan, tarif, kualitas risiko, retensi sendiri, kapasitas reasuransi, serta pola penutupan dari perbankan.

Ia lihat pertumbuhan kredit properti lebih tepat sebagai leading indicator bagi pemulihan asuransi properti, bukan sebagai faktor tunggal penentu pertumbuhan premi.

Di samping itu, Dody menilai kualitas pertumbuhan kredit lebih penting daripada sekadar besaran pertumbuhannya. Pembiayaan yang mendorong pembangunan kawasan industri, pergudangan, properti komersial, perumahan, infrastruktur, dan aset produktif lainnya dinilai berpotensi memberikan dampak lebih besar terhadap kebutuhan asuransi.

Terkait prospek, Dody memandang peluang perbaikan premi properti mulai terbuka pada semester II-2026. Namun, pemulihannya diperkirakan bertahap.

Sebagai gambaran, Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) mencatatkan penurunan premi pada asuransi properti sebesar 13,6% pada semester I-2026.

"Kontraksi premi properti sebesar 13,6% pada semester I menunjukkan masih adanya gap antara pertumbuhan aktivitas pembiayaan dan penetrasi perlindungan risikonya," katanya.

Menurutnya setidaknya ada tiga sumber peluang pertumbuhan premi di akhir tahun ini. Pertama, segmen hunian yang didukung pertumbuhan kredit pemilikan rumah (KPR), terutama untuk properti yang membutuhkan perlindungan asuransi sebagai bagian dari pembiayaan.

Kedua, properti komersial dan industri yang memiliki nilai pertanggungan lebih besar serta kebutuhan perlindungan lebih kompleks. Cakupannya antara lain risiko kebakaran, gempa bumi, kerusakan mesin, gangguan usaha atau business interruption, hingga risiko rekayasa atau engineering risks.

Ketiga, perkembangan risiko properti baru, seperti pusat data atau data center, kawasan industri, pergudangan, logistik, dan infrastruktur digital. Segmen tersebut berpotensi menciptakan kebutuhan perlindungan dengan nilai pertanggungan yang besar.

Peluang tersebut tidak hanya berkaitan dengan pemulihan premi yang hilang, tetapi juga pergeseran portofolio menuju risiko properti yang lebih produktif dan bernilai tambah tinggi.

Untuk menangkap peluang tersebut, Dody menilai perusahaan asuransi perlu memperkuat kerja sama dengan perbankan, terutama pada pembiayaan KPR, kredit komersial, kredit investasi, dan sektor produktif. Distribusi juga perlu diperluas melalui pialang, pengembang, kawasan industri, perusahaan pembiayaan, dan pelaku di ekosistem properti.

Di sisi pengelolaan risiko, perusahaan perlu menerapkan tarif berdasarkan profil risiko serta memperkuat survei dan rekayasa risiko, khususnya untuk properti industri, pergudangan, pusat data, dan aset bernilai besar. Langkah ini dinilai penting agar pertumbuhan premi tetap diimbangi kualitas portofolio yang terjaga.

Perusahaan juga bisa menawarkan paket perlindungan yang mencakup asuransi properti, business interruption, machinery breakdown, dan gempa bumi sesuai kebutuhan nasabah. Pemanfaatan data dan analitik turut diperlukan untuk mempertajam segmentasi risiko, menentukan tarif, serta membangun sistem peringatan dini.

Meski demikian, pertumbuhan premi harus tetap diimbangi disiplin underwriting dan dukungan reasuransi yang memadai agar menghasilkan portofolio yang sehat. Oleh karena itu, bagi Asuransi Asei peluang tersebut perlu dimanfaatkan secara selektif dengan memperbesar premi sekaligus menjaga kualitas portofolio dan disiplin underwriting.

Baca Juga: Tumbuh 69,73%, Laba Industri Pergadaian Capai Rp 8,57 Triliun per Agustus 2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News