KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) melakukan langkah proaktif untuk membentengi nilai tukar rupiah dari dampak ketidakpastian geopolitik, dengan menyesuaikan struktur suku bunga pasar melalui kenaikan imbal hasil atau yield instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). PT Asuransi Asei Indonesia mencermati perkembangan kenaikan
yield tersebut menjadikan instrumen SRBI sebagai salah satu alternatif penempatan investasi jangka pendek yang menarik. Direktur Utama Asuransi Asei Dody Dalimunthe mengatakan pada prinsipnya, SRBI memiliki karakteristik yang sesuai bagi industri asuransi.
Baca Juga: Ini 10 Unitlink Pasar Uang yang Mencetak Return Tertinggi per April 2026 "Sebab, menawarkan imbal hasil kompetitif dengan risiko relatif rendah, serta likuiditas yang baik," katanya kepada Kontan, Jumat (8/5/2026). Meski demikian, Dody mengatakan keputusan alokasi investasi Asei tetap dilakukan secara
prudent dengan mempertimbangkan beberapa faktor, antara lain profil liabilitas perusahaan, kebutuhan likuiditas operasional dan klaim, ketentuan regulator, kondisi pasar keuangan, serta strategi
asset liability management (ALM) perusahaan. "Jadi, SRBI dapat menjadi bagian dari diversifikasi portofolio investasi, khususnya dalam menjaga fleksibilitas likuiditas di tengah volatilitas pasar," tuturnya. Dody menyebut terdapat beberapa kelebihan penempatan investasi pada instrumen SRBI, antara lain imbal hasil relatif kompetitif dibandingkan instrumen pasar uang lainnya, terutama pada periode suku bunga tinggi. Selain itu, memiliki kelebihan risiko relatif rendah karena diterbitkan oleh Bank Indonesia, likuiditas cukup baik sehingga dapat mendukung pengelolaan
cash flow perusahaan, serta cocok sebagai instrumen defensif di tengah ketidakpastian global dan volatilitas nilai tukar. "Membantu juga menjaga kualitas portofolio investasi perusahaan dari sisi keamanan aset dan stabilitas hasil investasi," ungkapnya.
Baca Juga: Bank Danamon Pastikan Portofolio Kredit Hijaunya Tumbuh Positif pada 2026 Bagi perusahaan asuransi, Dody menerangkan aspek keamanan dan likuiditas menjadi sangat penting. Sebab, investasi tidak hanya ditujukan untuk memperoleh return, tetapi juga memastikan kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban kepada pemegang polis. Berdasarkan laporan keuangan perusahaan di situs resmi, Asei mencatatkan jumlah investasi senilai Rp 509,90 miliar per Maret 2026. Adapun deposito berjangka mendominasi portofolio investasi perusahaan dengan nilai mencapai Rp 224,13 miliar per Maret 2026. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News