Aset Bank Syariah Indonesia (BRIS) di Regional Aceh Capai Rp 18,32 Triliun di 2022



KONTAN.CO.ID - LHOKSEUMAWE. PT Bank Syariah Indonesia Tbk mengoptimalkan bisnis di  Provinsi Aceh pasca melakukan merger dan penerapan Qanun. BSI berhasil membukukan pertumbuhan aset di Regional Aceh sebesar 11,98% year on year (YoY) mencapai Rp18,32 triliun hingga akhir 2022.

Ini berkat kemampuan BSI menghimpun dana pihak ketiga (DPK) naik 10,45% secara tahunan menjadi senilai Rp16,10 triliun pada tahun lalu di Tanah Rencong ini. Sedangkan pembiayaan di regional Aceh naik 15,19% secara tahunan menjadi Rp16,94 triliun di penghujung 2022.

Direktur Utama BSI Hery Gunardi mengatakan memang memiliki catatan positif dalam penyaluran pembiayaan di provinsi ini. Terutama dalam mencurahkan kredit usaha rakyat (KUR) berbasis syariah.


Hingga Desember 2022, penyaluran KUR BSI Region I Aceh mencapai angka Rp2,79 triliun atau naik senilai Rp1,19 triliun secara tahunan. Angka penerima KUR pun meningkat dari 30.943 nasabah pada 2021 menjadi 39.872 nasabah pada akhir 2022 atau bertambah 8.929 nasabah.

Hery menyebut sebagai bank syariah terbesar, BSI akan terus berupaya memberikan solusi bagi masyarakat Aceh dengan menjadi sahabat finansial, spiritual, dan sosial.

Baca Juga: BSI Catatkan Pembiayaan Kendaraan Bermotor Naik 44% Jadi Rp 2,76 Triliun pada 2022

“BSI sekarang sudah menjadi bagian tidak terpisahkan dari masyarakat Aceh. Bersama-sama kita harus bisa membawa Aceh keluar dari jerat kemiskinan dan memberikan angin segar bagi kemajuan provinsi ini,” tuturnya pada Jumat (10/2) di h

Adapun secara keseluruhan, BSI berhasil membukukan pertumbuhan aset sebesar 15,24% YoY mencapai Rp 305,73 triliun pada tahun lalu. Sejalan dengan itu, pertumbuhan bisnis BSI juga ditopang segmen ritel dan wholesale serta didukung oleh peningkatan dana murah, kualitas pembiayaan yang baik, efisiensi dan efektivitas biaya dan fee based income (FBI).

Sedangkan himpunan DPK secara keseluruhan mencapai Rp261,49 triliun yang tumbuh 12,11% secara YoY. Likuiditas yang memadai itu membuat pembiayaan BSI tumbuh 21,26% secara yoy menjadi Rp 207,70 triliun.

Seiring dengan itu, kualitas pembiayaan yang terjaga baik tecermin dari non performing financing (NPF) Gross di level 2,42%. Serta peningkatan fee based income BSI Mobile mencapai Rp 251 miliar, tumbuh 67% secara YoY.

Hingga Desember 2022, total pembiayaan BSI mencapai Rp 207,70 triliun, dengan porsi pembiayaan yang didominasi oleh pembiayaan konsumer sebesar Rp 106,40 triliun, tumbuh 25,94% secara YoY.

 
BRIS Chart by TradingView

Selain itu, pembiayaan wholesale sebesar Rp 57,18 triliun atau tumbuh 15,80%  secara YoY dan pembiayaan mikro yang mencapai Rp 18,74 triliun, tumbuh 32,71% secara YoY.

Meningkatnya pemahaman literasi keuangan syariah di Indonesia, tambah Hery, juga menjadi pendorong pertumbuhan kinerja dan efektivitas layanan digital yang mampu menjangkau nasabah sesuai segmen.

“Capaian ini merupakan apresiasi bagi BSI atas kepercayaan nasabah terhadap kinerja positif industri perbankan syariah di Indonesia. Ke depan, perseroan secara kontinu akan lebih agile untuk mewujudkan BSI menjadi top 5 di pasar domestik dan top 10 di level global,” tutup Hery.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Anna Suci Perwitasari