KONTAN.CO.ID - Aset pasar negara berkembang atau emerging markets (EM) menuju kenaikan mingguan pada Jumat (25/9/2026). Investor menimbang ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dan ketegangan geopolitik di tengah padatnya agenda data ekonomi serta keputusan bank sentral di negara berkembang. Melansir
Reuters, Indeks MSCI yang mengukur mata uang negara berkembang naik 0,3% dan berada di jalur penguatan mingguan.
Investor masih melihat fundamental ekonomi sejumlah negara berkembang relatif kuat meski dolar AS menguat.
Baca Juga: Rupiah Tertekan, Potensi Sentuh Rp 18.000 per Dolar AS Masih Besar Di Asia, pergerakan mata uang bervariasi. Won Korea Selatan menjadi penguat terbesar dengan kenaikan 0,8%, sedangkan yuan China turun 0,1%. Rupiah Indonesia bergerak relatif stabil pada perdagangan Jumat. Namun, mata uang Garuda masih berada di jalur pelemahan mingguan terbesar sejak Mei 2026. Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuannya pada pekan ini. Keputusan tersebut diambil setelah BI menaikkan suku bunga acuan secara kumulatif 100 basis poin pada Mei dan Juni untuk menopang rupiah yang melemah. Perhatian investor selanjutnya tertuju pada data inflasi Indonesia September yang akan dirilis pekan depan. Ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan inflasi tahunan meningkat menjadi 3,3%. "Kenaikan harga beras diperkirakan akan tetap menjadi faktor pendorong utama, sementara dampak lanjutan dari tingginya biaya pangan juga kemungkinan akan turut meningkatkan inflasi inti," kata Deepali Bhargava, regional head of research Asia-Pacific di ING.
Baca Juga: Sinar Mas Agro (SMAR) Siapkan Dana Lunasi Obligasi Jatuh Tempo Rp 958 Miliar Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) tenor 30 tahun bertahan di dekat level tertinggi sejak 2004. Kenaikan harga minyak, ekonomi AS yang masih tangguh serta kekhawatiran terhadap kondisi fiskal AS memicu kekhawatiran inflasi bertahan tinggi. Harga minyak turun 0,9%, tetapi masih berada di level tinggi sekitar US$105 per barel. Di pasar saham, indeks MSCI untuk saham negara berkembang naik 0,1% dan berada di jalur kenaikan mingguan setelah mencatat pelemahan selama dua pekan berturut-turut. Kenaikan indeks saham Korea Selatan dan Taiwan yang didominasi sektor teknologi membantu mengimbangi pelemahan di sejumlah pasar lainnya. Investor juga mencermati perkembangan perang Iran. Sumber Reuters mengatakan negosiator AS dan Iran tengah mengeksplorasi jalan keluar perang secara bertahap yang berpotensi membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri blokade ekonomi Washington terhadap Iran. Di sisi lain, kekhawatiran terhadap prospek saham teknologi dan kecerdasan buatan (AI) masih menjadi perhatian investor. " AI adalah batu penjuru yang tidak boleh retak," kata Ipek Ozkardeskaya, senior analyst di Swissquote.
Baca Juga: BEI Gelar International Capital Market Summit 2026, Hadirkan Pelaku Pasar Global Menurut Ozkardeskaya, apabila narasi pertumbuhan AI mulai terganggu, salah satu penopang utama pasar dapat melemah dan memicu koreksi pasar yang signifikan. Di emerging Europe, saham naik 0,3%. Indeks acuan Romania menjadi penguat terbesar dengan kenaikan 0,9%, disusul saham Hungaria yang naik 0,3%. Saham Turki menguat 0,5%, tetapi masih berada di dekat level terendah dalam enam bulan. Investor masih mencermati kekhawatiran terhadap stabilitas keuangan domestik. Presiden Turki Tayyip Erdogan pada Kamis (24/9/2026) mengatakan krisis yang baru-baru ini terjadi terkait dana investasi tidak menimbulkan risiko terhadap sistem keuangan maupun perekonomian negara secara luas. Sebagian besar mata uang di kawasan tersebut menguat terhadap euro. Forint Hungaria naik 0,6% setelah bank sentral negara itu menurunkan target inflasi pada Selasa (22/9/2026).
Baca Juga: Bitcoin dan Ethereum Kompak Naik 8%, Ini Katalis hingga Akhir 2026 "Penurunan target inflasi seharusnya positif bagi forint secara marginal, meskipun faktor global kemungkinan lebih penting dalam jangka pendek," kata strategis Bank of America Global Research dalam sebuah catatan. Sementara itu, zloty Polandia naik tipis 0,3%, meski masih berada di sekitar level terlemah sejak awal 2024. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News