KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Investasi pada aset offshore masih dinilai menarik bagi investor Indonesia di tengah kondisi suku bunga global yang relatif tinggi dan penguatan dolar AS. CEO Pinnacle Investment Guntur Putra mengatakan, aset offshore, baik melalui reksa dana maupun Kontrak Pengelolaan Dana (KPD) discretionary offshore, dapat menjadi pilihan untuk memperluas diversifikasi portofolio. “Secara keseluruhan tentunya aset reksadana atau KPD Discretionary offshore tetap menarik, terutama untuk diversifikasi,” ujar Guntur kepada Kontan, Jumat (18/9/2026).
Baca Juga: Suku Bunga Global Tinggi, Begini Prospek Saham AS dan Kripto hingga Akhir 2026 Menurut dia, investor Indonesia selama ini cenderung terkonsentrasi pada aset berbasis rupiah dan pasar domestik. Karena itu, eksposur global dapat memberikan diversifikasi dari sisi mata uang, negara, maupun sumber return. Di tengah suku bunga global yang masih relatif tinggi, investor juga masih berpeluang memperoleh yield menarik dari instrumen berbasis dolar AS. Namun, Guntur mengingatkan agar investor tidak sekadar mengejar penguatan dolar AS atau return dalam jangka pendek. “Namun, pendekatannya perlu lebih selektif dan tidak sekadar mengejar penguatan dolar atau return jangka pendek,” jelasnya. Untuk pilihan aset, Guntur melihat peluang cukup menarik pada KPD global, khususnya strategi global multi-assets dan money market. Global fixed income juga dapat dipertimbangkan secara selektif karena masih menawarkan potensi income yang relatif menarik. Sementara itu, saham global tetap diperlukan untuk menangkap peluang pertumbuhan dalam jangka panjang. Bagi investor dengan dana lebih besar atau kategori Accredited Investor, Guntur menilai pendekatan melalui KPD atau discretionary fund global juga dapat menjadi alternatif. Menurutnya, melalui KPD, portofolio tidak harus terpaku pada satu produk atau kelas aset. Manajer investasi dapat lebih fleksibel mengalokasikan dana ke global bonds, equities, money market maupun instrumen lainnya sesuai kondisi pasar dan profil risiko investor. “Jadi, dibanding investor menentukan sendiri apakah saat ini harus masuk obligasi, saham atau ETF, melalui KPD alokasinya bisa dikelola secara lebih dinamis dan fleksibel,” kata Guntur.
Baca Juga: Aset Offshore Masih Prospektif saat Suku Bunga Tinggi, Ini Pilihan Investasinya Di sisi lain, Direktur Panin Asset Management Rudiyanto mengatakan kenaikan suku bunga memang dapat memberikan tekanan negatif terhadap saham. Namun, segmen tertentu masih memiliki peluang apabila mampu mencatatkan pertumbuhan laba bersih dan penjualan. Dari sisi instrumen, Rudiyanto juga melihat reksa dana memiliki sejumlah keunggulan bagi investor yang ingin mendapatkan eksposur investasi global. Salah satunya berkaitan dengan aspek perpajakan dan pengelolaan investasi. “Investasi via reksa dana memiliki dua keunggulan utama yaitu reksa dana bukan objek pajak, sedangkan kalau beli langsung di luar negeri kena pajak progresif dan keahlian MI dalam pengelolaan,” ungkap Rudiyanto. Sementara itu, Guntur menekankan sejumlah risiko yang perlu diperhatikan investor sebelum masuk ke aset offshore. Risiko nilai tukar menjadi salah satu faktor utama karena perubahan kurs dapat memengaruhi hasil investasi ketika dikonversikan kembali ke rupiah. Selain itu, investor perlu mencermati volatilitas suku bunga global, valuasi aset, serta kondisi geopolitik. Menurut Guntur, pengukuran imbal hasil juga sebaiknya tidak hanya melihat kinerja dalam dolar AS, tetapi mempertimbangkan hasil investasi dalam perspektif rupiah.
“Karena itu kami lebih menyukai pendekatan diversified dan bertahap,” ujarnya. Guntur menambahkan, investasi offshore sebaiknya tidak dipandang sebagai pengganti investasi domestik. Eksposur global lebih tepat digunakan untuk melengkapi portofolio dengan sumber return dan diversifikasi yang lebih luas.
Baca Juga: Rupiah Berpotensi Kembali Tertekan Pekan Depan, Ini Sentimennya Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News