KONTAN.CO.ID - Negara-negara Asia mulai melakukan berbagai skema barter energi untuk mengatasi kelangkaan pasokan akibat konflik di Timur Tengah, yang menjadi sumber utama energi kawasan. Melansir
Reuters Selasa (31/3/2026), Presiden Prabowo Subianto melakukan kunjungan ke Jepang pekan ini sebagai bagian dari upaya mencari solusi alternatif, termasuk kerja sama pertukaran bahan bakar.
Baca Juga: China Kejar Pajak dari Orang Kaya yang Pegang Saham Di Luar Negeri Langkah ini mencerminkan meningkatnya tekanan di kawasan, terutama setelah China melarang ekspor bahan bakar untuk melindungi kebutuhan domestiknya. Sementara itu, negara seperti Korea Selatan dan Thailand mulai memanfaatkan pelonggaran sanksi AS terhadap energi Rusia sebagai solusi sementara. Krisis Energi Makin Mendesak Dampak krisis terasa semakin berat, terutama bagi negara berkembang. Filipina menjadi negara pertama yang menetapkan darurat energi nasional. Sri Lanka memangkas hari kerja menjadi empat hari dan melakukan penjatahan bahan bakar, sementara Myanmar membatasi penggunaan kendaraan secara bergiliran.
Baca Juga: Drone Ukraina Serang Terminal Minyak Rusia di Pelabuhan Baltik Indonesia juga diperkirakan akan segera mengumumkan kebijakan pembatasan energi dalam waktu dekat. Dalam pertemuan dengan pelaku bisnis di Tokyo, Prabowo menegaskan pentingnya menjaga hubungan ekonomi yang rasional di tengah ketidakpastian geopolitik. “Situasi geopolitik di Timur Tengah menimbulkan ketidakpastian strategis terhadap keamanan energi,” ujarnya. Potensi Barter LNG dan LPG Dalam jangka pendek, Indonesia berpotensi menjalin kesepakatan untuk meningkatkan pasokan gas alam cair (LNG) ke Jepang, sebagai imbalan atas pasokan LPG yang sangat dibutuhkan untuk kebutuhan rumah tangga. Selain Indonesia, Jepang juga menjajaki skema barter serupa dengan India, yakni menukar LPG dengan nafta dan minyak mentah.
Baca Juga: Unilever Segera Lepas Bisnis Makanan ke McCormick, Dapat Uang Tunai US$ 15,7 Miliar Vietnam bahkan telah meminta bantuan Jepang untuk pasokan energi, sementara Filipina dilaporkan sudah menerima pasokan diesel dari Tokyo. Jepang sendiri sangat bergantung pada Timur Tengah, dengan sekitar 95% impor minyaknya berasal dari kawasan tersebut. Larangan Ekspor China Perparah Situasi Larangan ekspor bahan bakar olahan dari China dan Thailand berdampak besar, terutama bagi Vietnam yang bergantung pada kedua negara tersebut untuk lebih dari 60% kebutuhan bahan bakar jet. Otoritas penerbangan Vietnam kini mencari alternatif pasokan dari Brunei, India, Jepang, dan Korea Selatan. Menurut analis energi Jepang, Hiroshi Hashimoto, skema barter bilateral dapat membantu dalam jangka pendek, namun jika konflik berlangsung lama, diperlukan kerja sama multilateral antarnegara Asia.
Baca Juga: Rancang IPO Anak Usaha, Blackstone mencari valuasi hingga US$ 3 miliar Rusia Jadi Opsi Alternatif Rusia mulai muncul sebagai pemasok alternatif setelah Amerika Serikat memberikan pelonggaran sementara sanksi terkait konflik Ukraina. Korea Selatan untuk pertama kalinya kembali mengimpor nafta dari Rusia, sementara India meningkatkan pembelian minyak dari negara tersebut. Bangladesh, Thailand, dan Sri Lanka juga tengah menjajaki kerja sama serupa. Namun, negosiasi dengan perusahaan energi Rusia berpotensi terkendala waktu karena masa berlaku pelonggaran sanksi AS terbatas.
Baca Juga: Masuk Musim Kemarau, Kabut Asap Parah Mengancam Asia Tenggara Negara Kecil Rentan Negara-negara kecil seperti Selandia Baru mulai mengantisipasi risiko krisis pasokan energi. Pemerintahnya aktif berkomunikasi dengan pemasok utama seperti Singapura, Malaysia, dan Korea Selatan, serta pelaku perdagangan komoditas global. “Tanpa diversifikasi sumber energi, negara kecil seperti kami bisa terpinggirkan dalam perebutan pasokan bahan bakar global dalam beberapa bulan ke depan,” ujar pejabat energi Selandia Baru.