KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penyelenggaraan Asian Games Aichi-Nagoya 2026 memasuki paruh kompetisi dengan China terus mendominasi perolehan medali emas. Di tengah persaingan olahraga yang ketat, panitia penyelenggara Jepang justru harus meminta maaf atas sejumlah kendala logistik yang terjadi selama ajang berlangsung. Sekretaris Jenderal panitia lokal Aichi-Nagoya Asian Games Organising Committee (AINAGOC), Satoshi Murate, mengatakan lonjakan jumlah atlet dan ofisial menjadi salah satu faktor yang membuat layanan akomodasi dan transportasi mengalami gangguan. Menurut Murate, terdapat sekitar 2.000 atlet dan ofisial tambahan yang datang sehingga memberikan tekanan terhadap sumber daya penyelenggara.
"Ada kesalahan dalam akomodasi dan transportasi, karena berbagai alasan," kata Murate. "Bagaimanapun penyebabnya, AINAGOC bertanggung jawab menyediakan layanan tersebut, dan saya dengan tulus meminta maaf atas kesalahan yang terjadi," ujarnya. Murate menambahkan, panitia terus melakukan evaluasi terhadap berbagai kendala yang muncul untuk memastikan persoalan serupa tidak kembali terjadi. "Staf kami bekerja setiap hari untuk mengidentifikasi penyebab dari setiap kesalahan dan memastikan hal tersebut tidak terjadi lagi. Saya rasa Anda dapat melihat bahwa akomodasi dan transportasi telah meningkat pesat dibandingkan dengan hari-hari awal," kata Murate.
Baca Juga: China dan AS Sepakati Pengurangan Tarif Timbal Balik US$30 Miliar Jepang Kejar Perolehan Emas Asian Games Sebelumnya
Terlepas dari persoalan logistik, Jepang masih berada di jalur untuk meningkatkan pencapaian pada Asian Games Aichi-Nagoya dibandingkan perolehan mereka di Asian Games Hangzhou 2023. Jepang sebelumnya mengoleksi 52 medali emas pada Asian Games Hangzhou tiga tahun lalu. Chef de Mission Jepang Kosei Inoue mengatakan kontingen tuan rumah menunjukkan perkembangan yang stabil hingga paruh pertama kompetisi. "Pada titik tengah ini, kami diberi tahu oleh tim strategi bahwa kami berkembang secara stabil dalam hal jumlah medali, termasuk medali emas, serta jumlah medali secara keseluruhan," ujar Inoue. Namun, Inoue mengakui Jepang masih perlu belajar dari China yang menjadi salah satu kekuatan terbesar dalam olahraga Asia. "Untuk tim Jepang, hal itu merupakan dorongan besar dan kesempatan untuk belajar, baik untuk Asian Games kali ini maupun masa depan olahraga," katanya. "Kami dapat belajar banyak dari mereka. Kami ingin terus berkembang dan terus bekerja keras untuk mengejar mereka, meskipun hanya sedikit demi sedikit," ujar mantan juara Olimpiade cabang judo tersebut.
Baca Juga: Banjir Rendam Bangkok, Pemerintah Tetapkan Ibu Kota Thailand sebagai Zona Bencana China Tembus 100 Medali Emas
Di tengah sejumlah persoalan yang dialami tuan rumah, China terus menunjukkan dominasinya di Asian Games Aichi-Nagoya. Kontingen China berhasil melewati pencapaian 100 medali emas dalam ajang olahraga terbesar di Asia tersebut. Sejumlah emas tambahan China datang dari berbagai cabang olahraga. Pada cabang kano sprint, Wang Nan mengulangi keberhasilannya dari tiga tahun lalu dengan kembali meraih dua medali emas Asian Games. Ia memenangkan nomor kayak tunggal 500 meter pada hari terakhir pertandingan kano sprint. Di cabang menembak, Han Jiayu memastikan medali emas nomor 50 meter rifle 3 posisi putri melalui tembakan terakhirnya. Hasil tersebut sekaligus menjadi medali emas ketiganya di Asian Games Aichi-Nagoya. China juga mengawali kompetisi loncat indah dengan sempurna. Mereka merebut emas nomor synchronized 10 meter platform putri dan synchronized 3 meter springboard putra di Tokyo Aquatics Centre.
Atlet Esports Jepang Berusia 11 Tahun Raih Emas
Salah satu kisah menarik datang dari cabang esports. Atlet Jepang berusia 11 tahun, Yuki Kurihara, berhasil meraih medali emas setelah tampil dominan dalam nomor gim puzzle Puyo Puyo Champions. Kurihara mengalahkan wakil Korea Selatan Kang Dong Shin di Aichi Sky Expo Hall. Dengan penampilan yang tenang dan presisi, Kurihara mampu melewati lawannya yang jauh lebih berpengalaman. Meski tampil seperti atlet profesional sepanjang pertandingan, Kurihara menunjukkan kegembiraan khas anak-anak ketika menerima medali. "Medali emasnya sangat indah, berkilau dan berat. Selain itu, boneka hadiahnya sangat lucu, dan keren karena juga berwarna emas," kata Yuki. Kang menerima hasil pertandingan tersebut dengan lapang. Ia mengakui kemampuan Yuki berada di atas levelnya.
Baca Juga: Iran Tawarkan Buka Selat Hormuz dalam 7 Hari, Trump Disebut Menolak Marathon dan Angkat Besi Tambah Cerita di Asian Games
Dari cabang atletik, Ichitaka Yamashita berhasil memberikan medali emas bagi Jepang melalui nomor marathon putra. Ia menunggu momen yang tepat sebelum melancarkan akselerasi dan mengamankan kemenangan dalam kondisi lintasan yang basah. Para penonton Jepang yang memadati ruas jalan memberikan dukungan kepada Yamashita.
Sementara itu, Bahrain meraih emas pada nomor marathon putri melalui Shitaye Eshete. Atlet tersebut menunjukkan pengalaman untuk meraih kemenangan setelah melewati persaingan ketat. India juga mencatatkan prestasi dengan menyapu bersih medali emas cabang kabaddi. Tim putra dan putri India sama-sama mengalahkan Iran pada pertandingan final. Sementara dari cabang angkat besi, atlet junior Asia Albert Delos Santos dari Filipina meraih medali perunggu di kelas 70 kilogram. Prestasi tersebut memiliki arti khusus bagi keluarga Delos Santos. Kedua orangtuanya merupakan mantan atlet angkat besi nasional Filipina, sementara saudara perempuannya, Dessa, pernah memperkuat Filipina pada Asian Games di Jakarta delapan tahun lalu.