KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Astra International Tbk (
ASII) akan mempertahankan fokus investasinya pada tiga lini bisnis utama hingga 2027. Ketiga bisnis tersebut mencakup otomotif, jasa keuangan, serta solusi pertambangan dan alat berat. Strategi tersebut menjadi bagian dari upaya Astra menjaga pertumbuhan bisnis sekaligus mengoptimalkan alokasi modal. Pasalnya, ketiga lini bisnis tersebut berkontribusi sekitar 90% terhadap total laba Astra International. Head of Corporate Investor Relations Astra International, Tira Ardianti mengatakan, sejalan dengan fokus bisnis tersebut, alokasi belanja modal dan investasi perseroan juga akan diprioritaskan pada ketiga bisnis inti tersebut.
Salah satu langkah konkret yang mencerminkan strategi tersebut adalah rencana Astra menambah kepemilikan saham di PT Astra Otoparts Tbk (AUTO) melalui skema Voluntary Tender Offer (VTO), dengan harga penawaran Rp3.600 per saham. Apabila seluruh target saham dapat diperoleh, transaksi tersebut membutuhkan dana sekitar Rp858 miliar. Langkah tersebut sejalan dengan fokus perseroan memperkuat tiga bisnis inti, khususnya sektor otomotif melalui penguatan bisnis komponen. "Ini contoh konkrit Astra fokus pada bisnis inti. Astra melakukan investasi, dengan mengutamakan bisnis yang memiliki strategic fit dengan Astra, dan mampu menghasilkan tingkat pengembalian yang baik, serta dapat memperkuat ekosistem Astra," kata Tira di Jakarta, Rabu (23/9/2026).
Baca Juga: Katalis Tetap dari Harga CPO, Simak Prospek dan Rekomendasi Saham Astra Agro (AALI) Meski demikian, Astra tetap membuka peluang investasi di luar bisnis inti atau wider businesses selama peluang tersebut memenuhi kriteria investasi yang telah ditetapkan perusahaan. Tira menegaskan, investasi pada portofolio di luar bisnis inti diperkirakan tidak akan dilakukan dalam skala besar. Adapun nilai pasti investasi pada segmen tersebut belum dapat disampaikan karena masih dalam tahap pembahasan dan evaluasi internal.
Prospek Astra
Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama mengatakan, fokus ASII pada sektor otomotif, jasa keuangan, serta solusi pertambangan dan alat berat cukup logis untuk memperkuat alokasi modal. Pasalnya, ketiga lini tersebut selama ini menjadi mesin utama laba grup. "Strategi ini juga bisa membuat belanja modal lebih disiplin dan diarahkan ke bisnis yang sudah memiliki skala, ekosistem, serta competitive advantage yang kuat," ucap Elandry kepada Kontan, Rabu (23/9/2026). Namun, Elandry menilai tantangan Astra adalah karakter tiga bisnis tersebut yang masih cukup siklikal. Karena itu, keberhasilan strategi hingga 2027 akan sangat bergantung pada kemampuan Astra menjaga keseimbangan kontribusi antarsegmen. Pada semester I-2026, misalnya, laba dari bisnis otomotif masih tumbuh 9% dan jasa keuangan meningkat 6%. Namun, laba dari solusi pertambangan dan alat berat justru turun 46%. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya diversifikasi di antara tiga bisnis inti Astra untuk membantu meredam dampak siklus pada masing-masing sektor. Ke depan, sejumlah sentimen positif berpotensi mendukung kinerja Astra, antara lain pemulihan penjualan kendaraan, perbaikan daya beli masyarakat, pertumbuhan pembiayaan Astra Financial, serta normalisasi aktivitas pertambangan dan alat berat. Penjualan mobil Astra pada semester I-2026 tercatat tumbuh 10% secara tahunan. Di sisi lain, bisnis jasa keuangan masih mampu mencatat pertumbuhan laba. Rencana share buyback ASII hingga Rp8 triliun juga menjadi tambahan sentimen positif dari sisi shareholder return. Meski demikian, investor tetap perlu mencermati sejumlah risiko. Beberapa di antaranya adalah pelemahan daya beli, persaingan di industri otomotif terutama dengan masuknya merek baru dan kendaraan listrik, dampak suku bunga terhadap pembiayaan, serta volatilitas harga komoditas dan kebijakan pertambangan. Risiko tersebut telah terlihat pada semester I-2026. Laba bersih ASII turun 19% menjadi Rp12,5 triliun, terutama dipengaruhi melemahnya kontribusi bisnis pertambangan dan alat berat serta adanya non-recurring items.
Baca Juga: Direktur Bumi Resources (BRMS) Ini Beli 750.500 Saham BRMS Rekomendasi Saham ASII
Dari sisi prospek saham, Elandry masih melihat peluang positif bagi ASII dalam jangka menengah hingga panjang, terutama apabila pemulihan sektor otomotif berlanjut dan kontribusi bisnis pertambangan kembali normal. Menurut Elandry, fokus Astra pada tiga bisnis inti berpotensi membuat penggunaan modal menjadi lebih efisien. Kebijakan buyback juga dapat memberikan dukungan terhadap shareholder return.
Namun, investor tetap perlu memperhatikan proses pemulihan laba karena kinerja ASII pada semester I-2026 belum sepenuhnya kuat. Secara valuasi, Elandry menilai saham ASII masih menarik untuk strategi akumulasi atau buy on weakness, dengan target harga di kisaran Rp7.000-Rp7.300. "Katalis menuju target tersebut terutama berasal dari recovery otomotif, pertumbuhan jasa keuangan, normalisasi bisnis alat berat dan pertambangan, serta disiplin capital allocation. Risiko utamanya tetap pelemahan konsumsi dan recovery sektor pertambangan yang lebih lambat dari perkiraan," tutupnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News