KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Astra International Tbk (
ASII) mengumumkan rencana penambahan kepemilikan saham di anak usahanya, PT Astra Otoparts Tbk (
AUTO), melalui skema Penawaran Tender Sukarela alias
Voluntary Tender Offer (VTO). Berdasarkan keterbukaan informasi Senin (31/8/2026), ASII berencana membeli saham AUTO sebanyak-banyaknya 238.442.293 lembar saham, atau setara 4,947% dari total modal disetor dan ditempatkan Astra Otoparts. "Harga penawaran tender sukarela yang diajukan perusahaan ialah sebesar Rp 3.600 per saham, dengan total nilai maksimal transaksi sebesar Rp 858,39 miliar," kata Corporate Secretary ASII, Gita Tiffani Boer dalam keterangannya, Senin (31/8/2026).
Baca Juga: Yield SBN Naik, Investasi Asuransi, Penjaminan dan Dana Pensiun Menyusut 0,15% YtD Apabila seluruh saham yang menjadi objek penawaran tender sukarela berhasil diserap, kepemilikan ASII pada AUTO akan meningkat sebanyak-banyaknya 4.094.228.630 saham yang mewakili 84,947% dar modal ditempatkan dan disetor AUTO. ASII juga menegaskan memiliki dana yang cukup untuk melaksanakan pembayaran penuh atas aksi korporasi tersebut. Adapun dana penawaran tender sukarela bersumber dari kas internal ASII. Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi mengatakan VTO tersebut kemungkinan besar akan diminati oleh pemegang saham minoritas mengingat premium harga yang ditawarkan cukup signifikan. Menurutnya, keberanian ASII membayar premium besar ini kemungkinan didasari pertimbangan strategis dan biasanya menjadi sinyal keyakinan perusahaan induk terhadap prospek nilai AUTO ke depan. "Dari sisi kepemilikan, transaksi ini akan langsung menambah porsi saham ASII di AUTO, dengan magnitude yang cukup berarti karena mencakup hampir 5% dari total saham beredar," kata Wafi kepada Kontan, Senin (31/8/2026). Wafi memaparkan prospek AUTO pasca VTO berpotensi bergerak ke dua arah. Di satu sisi, jika banyak pemegang saham minoritas menerima penawaran tender, free float AUTO akan berkurang sehingga dapat menimbulkan kekhawatiran terhadap likuiditas saham dalam jangka panjang. Di sisi lain, berkurangnya jumlah saham beredar tersebut juga berpotensi menciptakan efek scarcity value yang positif, terutama apabila permintaan terhadap saham AUTO tetap tinggi sementara pasokan di pasar menyusut.
Baca Juga: Saratoga Investama (SRTG) Rugi Rp 3,87 Triliun Semester I, Ini Strategi Investasinya Adapun bagi investor yang memilih tidak menerima tender dan tetap mempertahankan posisinya, investor pada dasarnya sedang bertaruh pada prospek nilai AUTO ke depan, seiring dengan kepemilikan dan dukungan strategis ASII yang semakin besar. Dihubungi terpisah, Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama berpendapat penawaran tender sukarela AUTO cukup menarik karena ASII menawarkan harga Rp 3.600 per saham dengan premium yang cukup tinggi dibandingkan harga historis sebelum pengumuman. Premium tersebut memberikan insentif bagi pemegang saham publik untuk merealisasikan keuntungan, terutama bagi investor yang memiliki saham AUTO di harga rata-rata yang lebih rendah. Dus, peluang partisipasi investor dalam VTO relatif besar. Di sisi lain, besarnya saham yang ditargetkan hanya sekitar 4,97% sehingga apabila minat investor melebihi jumlah tersebut, terdapat kemungkinan saham yang dapat dijual melalui tender tidak seluruhnya terserap secara proporsional. "Secara strategis, langkah ini juga dapat dibaca sebagai bentuk keyakinan ASII terhadap prospek jangka panjang AUTO dan upaya memperkuat integrasi bisnis otomotif di dalam Grup Astra," ujar Elandry. Bagi AUTO, dukungan induk yang semakin kuat menjadi sentimen positif dari sisi fundamental. Namun, investor perlu membedakan antara harga tender dengan valuasi saham setelah periode VTO selesai. Harga Rp3.600 merupakan harga penawaran dalam aksi korporasi dan belum tentu menjadi harga keseimbangan AUTO di pasar sekunder setelah tender berakhir. Setelah katalis VTO selesai, pergerakan saham berpotensi kembali mengikuti fundamental, valuasi, serta kinerja industri otomotif.
Baca Juga: Saham Darma Henwa (DEWA) Berpotensi Bangkit, Kontrak SSC Jadi Katalis Utama Wafi menyarankan dua pertimbangan utama bagi investor dalam aksi korporasi ini.
Pertama, mengevaluasi apakah menerima tender merupakan keputusan yang rasional, mengingat mengunci keuntungan dari premium ini dinilai lebih menarik dibandingkan menanggung risiko melanjutkan hold tanpa kepastian yang jelas.
Kedua, bagi investor yang memiliki keyakinan kuat terhadap nilai jangka panjang AUTO terlebih dengan dukungan ASII yang kian besar, dapat mempertahankan posisinya dengan ekspektasi potensi apresiasi harga saham ke depan. Sementara itu, Elandry menambahkan untuk investor yang sudah memiliki AUTO, harga tender Rp 3.600 dapat menjadi salah satu momentum untuk merealisasikan keuntungan apabila harga perolehannya cukup jauh di bawah harga tersebut.
Sementara untuk investor yang baru ingin masuk, sebaiknya tidak semata-mata mengejar saham karena adanya harga tender Rp 3.600, terutama apabila harga pasar sudah mendekati level penawaran. Investor perlu memperhitungkan potensi upside yang tersisa dibandingkan risiko normalisasi harga setelah VTO berakhir. Untuk jangka menengah-panjang, AUTO masih menarik dicermati dengan mempertimbangkan posisi perusahaan sebagai salah satu pemain utama komponen otomotif, kekuatan ekosistem Grup Astra, serta potensi pertumbuhan bisnis
replacement market dan ekspor.
Baca Juga: Harga Ether Masih Terkoreksi, Begini Proyeksinya hingga Akhir 2026 Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News