KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (
IHSG) masih tertekan menjelang akhir kuartal III-2026. Namun, di tengah tekanan tersebut, investor asing mulai kembali mengakumulasi saham berkapitalisasi besar, terutama sektor perbankan. Pada Jumat (4/9/2026), IHSG melemah 0,47% ke level 6.636,475. Secara
year to date (YtD), IHSG masih turun 23,25%, seiring aksi jual asing yang mencapai
net sell Rp 68,05 triliun. Meski begitu, sejumlah sekuritas masih melihat ruang penguatan IHSG hingga akhir tahun. Kiwoom Sekuritas Indonesia mempertahankan target IHSG 2026 di 7.250-7.700.
Baca Juga: Asing Banyak Melego Saham-Saham Ini Saat IHSG Menguat 1,82% ke 6.636 dalam Sepekan VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia Oktavianus Audi menilai koreksi IHSG lebih banyak dipicu arus dana dan sentimen pasar, bukan pelemahan fundamental. "Bukan pelemahan fundamental," kata Audi kepada Kontan, Minggu (6/9/2026). Pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026 sebesar 5,29% secara tahunan dinilai masih menjadi penopang. Suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) 5,75% juga dinilai memberi ruang pelonggaran jika rupiah tetap stabil. Audi menyebut level 7.000 menjadi pijakan penting sebelum IHSG menuju target Kiwoom. Evaluasi MSCI pada November juga berpotensi menjadi katalis masuknya dana asing, meski investor masih menunggu kepastian hasil evaluasi tersebut. Sementara itu, Chief Economist & Head of Research Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Wisnubroto melihat akumulasi asing mulai kembali dalam beberapa pekan terakhir, terutama pada saham bank big caps.
Baca Juga: Intip Level Support Kuat IHSG Agar Bisa Tetap Menguat Hari Ini (3/9) Pemulihan IHSG dan rupiah yang relatif stabil turut memperbaiki sentimen pasar. Mirae Asset mempertahankan target IHSG akhir 2026 di 6.800 untuk skenario dasar dan 7.800 dalam skenario optimistis. Sebaliknya, skenario pesimistis berada di 5.500. RHB Sekuritas Indonesia juga mempertahankan target dasar IHSG di 7.300. Dalam skenario optimistis, IHSG berpotensi mencapai 8.100 jika kebijakan membaik, arus dana asing menguat, rupiah stabil, dan kondisi global lebih kondusif. Adapun skenario pesimistis berada di 6.600. Di sisi lain, J.P. Morgan Sekuritas memangkas target IHSG akhir 2026 menjadi 7.000 dari sebelumnya 9.100.
Head of Equity Research J.P. Morgan Indonesia Benny Kurniawan menilai laba emiten Indonesia masih tumbuh sekitar 6% secara tahunan pada semester I-2026, tetapi pertumbuhannya diperkirakan melambat pada semester II.
Baca Juga: Asing Net Buy Rp 1,85 Triliun Sepekan, Saham The Big Four Bank Banyak Diburu Dengan kondisi tersebut, keberlanjutan akumulasi asing di saham big caps, stabilitas rupiah, serta hasil evaluasi MSCI akan menjadi faktor penting bagi pemulihan IHSG hingga akhir tahun. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News