KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (
IHSG) menguat 0,94% sepanjang pekan ini, tetapi tekanan jual investor asing masih membayangi pergerakan pasar saham. Meski berhasil
rebound pada akhir pekan, kenaikan IHSG belum cukup kuat untuk mengonfirmasi pembalikan tren. Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup naik 1,04% atau 62,48 poin ke level 6.093,76 pada perdagangan Jumat (9/10/2026). Namun, investor asing masih mencatatkan
net sell atau jual bersih sebesar Rp 2,44 triliun sepanjang sepekan.
Baca Juga: Di September IHSG Anjlok 6,96% & Asing Net Sell Rp10,24 Triliun, OJK Ungkap Sebabnya Analis BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda menilai, penguatan IHSG pada akhir pekan terjadi setelah indeks sempat menyentuh level 5.995,82. Level 6.000 menjadi penopang psikologis yang beberapa kali memicu
rebound. Meski demikian, secara teknikal IHSG masih berada di bawah
moving average (MA) 20, yakni rata-rata pergerakan indeks selama 20 periode perdagangan, di sekitar level 6.244. Kondisi ini menunjukkan bahwa tren pelemahan belum sepenuhnya berakhir. "Penguatan ini belum mengonfirmasi pembalikan tren," ujar Reza. Untuk pekan depan, IHSG menghadapi level resistance terdekat di 6.155 dan 6.215. Jika mampu menembus 6.215, indeks berpeluang melanjutkan rebound menuju MA20 di level 6.244. Sebaliknya, jika kembali turun di bawah 6.000, IHSG berisiko melanjutkan koreksi dengan level
support berikutnya di 5.854.
Baca Juga: Dana Asing Keluar Rp 106,9 Triliun, Saham CPO dan Batubara Justru Menguat Head of Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menambahkan, penguatan IHSG pada Jumat sejalan dengan pergerakan bursa Asia dan kenaikan harga emas. Namun, secara mingguan indeks masih belum mampu menembus MA20. Dari eksternal, arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve atau The Fed, turut memengaruhi sentimen pasar. Data ketenagakerjaan AS yang lebih lemah dari perkiraan sempat memunculkan harapan bahwa The Fed akan melonggarkan kebijakan moneternya. Namun, risalah rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) kembali mengindikasikan kemungkinan kenaikan suku bunga satu kali pada akhir 2026.
Ekspektasi tersebut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun hingga 5,3% dan memperkuat indeks dolar AS, sehingga menambah tekanan terhadap rupiah.
Baca Juga: IHSG Rebound ke Posisi 6.118 Hari Ini (5/10) Meski Masih Ada Net Sell Asing Reza menilai, pergerakan IHSG pada pekan depan masih dibayangi sejumlah risiko eksternal, mulai dari sikap The Fed yang cenderung ketat, kenaikan imbal hasil US Treasury, tekanan terhadap rupiah, hingga tingginya harga minyak. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News