KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham-saham perbankan berkapitalisasi besar (big banks) kembali menjadi incaran investor asing. Kondisi ini terjadi seiring valuasi saham yang semakin murah setelah mengalami tekanan jual sepanjang pekan ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 20,16 poin atau 0,40% ke 5.050,42 pada akhir perdagangan Jumat (6/11/2026). Total volume perdagangan saham di bursa hari ini mencapai 47,15 miliar saham, dengan total nilai Rp 9,97 triliun. Arus modal asing berhasil mencatatkan nilai beli bersih (net foreign) sebesar Rp 328,2 miliar. Dari total nilai beli di seluruh pasar yang mencapai Rp 3,8 triliun berbanding nilai jual Rp 3,4 triliun, aliran dana asing paling deras masuk ke saham big banks.
Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menempati urutan pertama sebagai incaran utama dengan nilai beli asing mencapai Rp 216 miliar.
Baca Juga: Direksi Bank Multiarta Sentosa Tambah Kepemilikan 7.200 Saham MASB Mengekor di belakangnya, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) mencetak nilai beli asing Rp 93 miliar, disusul PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) sebesar Rp 32 miliar, dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) senilai Rp 22 miliar. Geliat akumulasi di pengujung pekan ini menjadi angin segar setelah rentetan koreksi yang terjadi beberapa hari sebelumnya. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai dinamika harga yang menekan saham big banks sepekan terakhir sejatinya dipicu oleh kecemasan investor global terkait isu reklasifikasi dan potensi penurunan bobot pasar saham Indonesia oleh MSCI. "Sebagai instrumen dengan tingkat likuiditas paling tebal di IHSG, emiten perbankan jumbo kerap dijadikan sumber pencairan dana (source of liquidity) utama bagi modal asing saat terjadi penyesuaian portofolio regional," ujar Nafan kepada Kontan, Jumat (6/11/2026). Tekanan tersebut, lanjut Nafan, juga diperberat oleh volatilitas nilai tukar rupiah serta arah kebijakan moneter higher-for-longer dari Bank Indonesia yang memberi tantangan ekstra pada beban biaya dana perbankan. Sentimen tambahan juga datang dari penataan kembali daftar saham short selling oleh BEI yang mendorong terjadinya rebalancing jangka pendek. Meski demikian, aksi jual intensif tersebut justru memposisikan indikator teknikal saham big banks berada pada area jenuh jual (oversold). Memasuki pekan depan, emiten-emiten ini diproyeksikan mulai memasuki fase konsolidasi menuju pemulihan secara bertahap (gradual recovery). "Dari sisi fundamental, valuasi berdasarkan rasio Price-to-Book Value (PBV) perbankan nasional saat ini telah terdiskon dan berada di dekat rentang rata-rata batas bawah historisnya (historical lower-bound valuation), sehingga memberikan margin of safety yang menarik bagi investor jangka panjang," papar Nafan.
Baca Juga: BSI Kembali Terbitkan Sukuk Berkelanjutan Senilai Rp 2 Triliun Sebagai katalis penopang, Nafan menyoroti pengumuman hasil review berkala indeks MSCI pada 11 November 2026 mendatang yang diharapkan mampu memberikan kepastian alokasi modal dan meredakan ketidakpastian pasar asing.
Secara fundamental, perbankan domestik tetap solid ditopang oleh tingkat kecukupan modal (CAR) yang tebal, pertumbuhan kredit yang stabil di atas 12%, serta wacana pembagian dividen interim yang akan menjadi bantalan penahan harga. Menyikapi prospek dan valuasi tersebut, Nafan memberikan rekomendasi akumulasi beli untuk saham BBCA dengan target harga (TP) di Rp 6.775 per saham. Ia juga merekomendasikan akumulasi beli untuk saham BMRI dengan target harga Rp 5.375 per saham. Sementara itu, untuk saham BBRI, Nafan menyematkan rekomendasi add dengan target harga Rp 3.360 per saham. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News