Askrindo Perkuat Ketahanan Bisnis Hadapi Risiko Bencana dan Serangan Siber



KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. PT Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo) memperkuat ketahanan operasional untuk menjaga kelangsungan bisnis di tengah meningkatnya risiko bencana alam dan ancaman siber. 

Langkah ini menjadi krusial bagi industri asuransi dan penjaminan yang dituntut tetap memberikan layanan tanpa gangguan, sekalipun terjadi force majeure.

Penguatan tersebut dilakukan melalui penerapan Business Continuity Management System (BCMS), sebuah kerangka kerja yang memastikan proses bisnis tetap berjalan dalam berbagai kondisi darurat. 


Bagi Askrindo, BCMS bukan sekadar pemenuhan regulasi, melainkan strategi bisnis untuk menjaga kepercayaan nasabah, mitra, dan pemangku kepentingan.

Baca Juga: OJK Pantau Daya Tahan Asuransi Hadapi Risiko Bencana Alam

Direktur Kepatuhan, SDM, dan Manajemen Risiko Askrindo, R. Mahelan Prabantarikso, menjelaskan bahwa risiko dalam bisnis asuransi tidak bisa dihindari, tetapi dapat dikelola. 

Karena itu, Askrindo menyiapkan tata kelola keberlanjutan bisnis secara terintegrasi, mulai dari kebijakan, infrastruktur, sumber daya manusia, teknologi informasi, hingga standar operasional.

“BCMS menjadi fondasi agar perusahaan tetap beroperasi saat risiko terjadi. Yang kami jaga adalah kesinambungan layanan dan keandalan proses bisnis,” ujar Mahelan dalam siaran pers, Rabu (4/1/2026).

Saat ini, fokus penerapan BCMS di Askrindo diarahkan pada pengelolaan gangguan akibat bencana alam seperti gempa bumi, serta risiko buatan manusia seperti serangan siber. 

Baca Juga: Simak Strategi Cerdas Melindungi Keuangan dari Risiko Bencana Alam

Sejumlah uji coba telah dilakukan di berbagai kantor cabang dan dinilai efektif. Bahkan, skema BCMS pernah diimplementasikan saat terjadi gempa bumi dan mampu menjaga operasional tetap berjalan sesuai rencana.

Mahelan menegaskan, keberhasilan BCMS tidak hanya bergantung pada dokumen atau sistem, tetapi pada konsistensi latihan dan pembudayaan di seluruh lini organisasi. “BCMS harus otomatis dijalankan saat dibutuhkan. Itu hanya bisa dicapai jika terus dilatih,” katanya.

Sebagai bagian dari holding Asuransi dan Penjaminan Indonesia Financial Group (IFG), Askrindo juga memastikan penerapan BCMS selaras dengan standar global. 

Perusahaan tercatat telah mempertahankan sertifikasi ISO 22301:2019 tentang Business Continuity Management System sejak 2019 dan kini memasuki siklus ketiga, setelah melalui audit komprehensif oleh British Standards Institution (BSI). 

Sertifikasi ini menjadi indikator kesiapan operasional Askrindo di tengah kompleksitas risiko industri keuangan.

Baca Juga: RalaliFood Perkuat Kapasitas Pangan Darurat di Tengah Tingginya Risiko Bencana

Perspektif risiko kebencanaan turut diperkuat melalui paparan dari Dr. Ruben Damanik dari PT Reasuransi MAIPARK Indonesia. 

Ia menekankan bahwa posisi geografis Indonesia di kawasan ring of fire membuat risiko gempa bumi tidak hanya mengancam aset fisik, tetapi juga kelangsungan operasional perusahaan.

“Tanpa perencanaan keberlanjutan yang matang, gangguan bisa berdampak sistemik pada bisnis. Business Continuity Management menjadi kebutuhan, bukan pilihan,” ujarnya.

Seluruh penguatan komitmen tersebut disosialisasikan melalui Kampanye Budaya BCMS yang digelar di Graha Askrindo, Jakarta, pada 4 Februari 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya internal Askrindo untuk menanamkan kesadaran keberlanjutan bisnis di seluruh organisasi.

Selanjutnya: Kabar Minyak Rusia Masuk Indonesia, Ini Penjelasan Pertamina

Menarik Dibaca: 9 Manfaat Konsumsi Buah Ceri secara Rutin untuk Kesehatan Tubuh

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News