Aspebindo Dorong Pemenuhan DMO Batubara untuk Industri Semen



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Pemasok Energi, Mineral, dan Batubara Indonesia (Aspebindo) meminta pemerintah memastikan pasokan batubara untuk industri semen tetap terjaga, terutama ketika terjadi gangguan cuaca yang berpotensi menghambat distribusi energi.

Ketua Umum Aspebindo Anggawira mengatakan, kondisi pasokan batubara yang kembali membaik belum dapat menjadi indikator bahwa seluruh kebutuhan domestic market obligation (DMO) industri semen telah terpenuhi.

Aspebindo menyambut pernyataan terbaru Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang menyebut pasokan batubara untuk industri semen telah kembali aman setelah sebelumnya mengalami gangguan.


Meski demikian, Anggawira menilai kondisi tersebut masih perlu dipastikan melalui realisasi pengiriman serta kecukupan stok batubara di masing-masing pabrik semen.

Baca Juga: SETC Perkuat Kolaborasi Pemerintah dan Swasta untuk Dorong UMKM Naik Kelas

"Penilaiannya harus menggunakan data alokasi, kontrak, realisasi pengiriman, dan penerimaan batubara di pabrik," katanya kepada Kontan, Rabu (30/9/2026).

Menurut Aspebindo, pemenuhan DMO juga perlu diukur berdasarkan manfaat yang benar-benar diterima oleh pengguna batubara di dalam negeri.

Anggawira menjelaskan, pemenuhan kewajiban secara agregat perlu dibarengi dengan kepastian bahwa industri domestik memperoleh volume, kualitas, serta jadwal pasokan yang sesuai dengan kebutuhannya.

"DMO harus adil bagi seluruh industri domestik, baik BUMN maupun swasta," katanya.

Aspebindo juga menilai kebutuhan batubara untuk industri semen perlu mendapat perhatian karena sektor tersebut memiliki peran dalam pembangunan infrastruktur dan perumahan serta penyerapan tenaga kerja.

Baca Juga: Bisnis Logistik Tumbuh, CKB Logistics Optimalkan Hub Osowilangun

"Pembagian pasokan perlu berdasarkan pada kebutuhan dan risiko gangguan operasi secara transparan," katanya.

Untuk mencegah gangguan pasokan kembali terjadi, Aspebindo mendorong adanya sistem pemantauan terpadu yang menghubungkan data kebutuhan pabrik, kesiapan pemasok, jadwal pengiriman kapal, hingga realisasi penerimaan batubara.

Dengan sistem tersebut, potensi kekurangan pasokan diharapkan dapat terdeteksi lebih awal sehingga langkah antisipasi bisa dilakukan sebelum persediaan batubara di pabrik mencapai level kritis.

"Dengan begitu, kekurangan dapat diketahui dan ditangani sebelum stok mencapai kondisi kritis," tandas Anggawira.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News