KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Perusahaan Semen Seluruh Indonesia (Asperssi) memaparkan kinerja produksi dan penjualan industri semen sepanjang tahun 2025. Asperssi juga memetakan peluang dan tantangan yang bakal mengiringi industri semen pada tahun 2026. Sebagai informasi, Asperssi merupakan nama baru dari Asosiasi Semen Indonesia (ASI). Perubahan nama dari ASI menjadi Asperssi telah ditetapkan melalui Surat Keputusan Menteri Hukum Republik Indonesia pada 9 Desember 2025. Ketua Asperssi Lilik Unggul Raharjo mengungkapkan bahwa asosiasi ini terdiri dari 16 perusahaan yang setiap anggota memiliki pabrik terintegrasi.
Asperssi mencatat sepanjang tahun 2025, volume produksi semen nasional menyusut sekitar 4,5% secara tahunan atau year on year (yoy) dari 67,8 juta ton menjadi 64,7 juta ton.
Baca Juga: Industri EV Indonesia Masuki Masa Konsolidasi Tahun Ini Penurunan produksi ini sejalan dengan penjualan semen di pasar dalam negeri yang sedang melandai. Menurut data Asperssi, penjualan domestik semen menurun sekitar 1,5% (yoy) dari 64,9 juta ton menjadi 63,9 juta ton pada 2025. Lilik menyoroti empat faktor yang menahan laju industri semen sepanjang tahun lalu. Mulai dari faktor kondisi ekonomi, penurunan daya beli masyarakat, pemotongan anggaran infrastruktur, serta realisasi program 3 juta rumah yang belum optimal. "(Di pasar dalam negeri) segmen terbesar masih retail sekitar 71%," kata Lilik kepada Kontan.co.id, Kamis (15/1/2026). Ketika penjualan di dalam negeri lesu, penjualan semen ke pasar ekspor justru melaju. Asperssi mencatat penjualan semen ke pasar ekspor melonjak sekitar 32,2% (yoy) dari 0,99 juta ton menjadi 1,32 juta ton sepanjang tahun 2025. Ekspor semen terutama menyasar pasar Timor Leste dengan kontribusi sekitar 39%. Diikuti oleh Australia (27%), Maldives (14%), Papua Nugini (12%) dan Filipina (8%). Kenaikan juga terjadi pada ekspor produk setengah jadi (clinker). Volume ekspor clinker meningkat sekitar 12,8% (yoy) dari 10,9 juta ton menjadi 12,3 juta ton sepanjang tahun lalu. Mayoritas ekspor clinker menyasar Bangladesh dengan kontribusi mencapai 73%. Pasar ekspor clinker lainnya adalah Taiwan (17%), Australia (7%), Srilanka (2%) dan Mozambique (1%). Adapun, volume produksi clinker naik tipis sekitar 0,2% (yoy) dari 57,1 juta ton menjadi 57,3 juta ton sepanjang tahun lalu.
Outlook Industri Semen Tahun 2026
Asperssi memprediksi pasar semen dalam negeri akan mendaki pada tahun ini. Hanya saja, level pertumbuhannya tidak terlalu tinggi. Lilik memperkirakan penjualan semen di dalam negeri akan naik sekitar 1% - 2%. "Dengan catatan pertumbuhan ekonomi lebih baik dari 2025, anggaran infrastruktur naik, dan proyek 3 juta rumah berjalan sesuai rencana," kata Lilik. Peluang untuk mengungkit penjualan semen berasal dari proyek infrastruktur publik, proyek swasta dari segmen industri dan properti, serta program 3 juta rumah. Jika terealisasi sesuai target, Asperssi mengekspektasikan program 3 juta rumah bisa mengungkit permintaan hingga 6,7 juta ton.
Baca Juga: Wadah Industri Semen Berganti Nama dari ASI Jadi Asperssi, Ini Alasannya Selain itu, pelaku industri semen juga masih melihat peluang untuk menggelar ekspansi ke pasar ekspor. "Berpotensi tumbuh jika logistik dan biaya dioptimalkan serta peluang di pasar baru," ungkap Lilik.
Di sisi lain, para pelaku industri mewaspadai risiko dari pemulihan daya beli masyarakat kelas menengah - bawah yang lambat. Selain itu, ada faktor ketidakpastian global berupa suku bunga, eskalasi geo-politik dan harga komoditas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News