KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (
ACES), pengelola jaringan ritel AZKO, mencatatkan kinerja keuangan yang lebih baik dari perkiraan pada kuartal II-2026. Kinerja laba ACES terdorong oleh keuntungan selisih kurs (foreign exchange gain) yang meningkat signifikan. Analis Mirae Asset Sekuritas Putu Chantika Putri dalam riset Jumat (7/8/2026) mengatakan, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk ACES pada kuartal II-2026 tumbuh 50,4% secara tahunan menjadi Rp 228 miliar. Dengan demikian, laba bersih sepanjang semester I-2026 mencapai Rp390 miliar atau meningkat 33,3% secara
year on year (yoy), setara dengan 54% dari proyeksi konsensus untuk tahun penuh 2026. “Pertumbuhan laba terutama didorong oleh keuntungan valuta asing yang mencapai Rp138 miliar pada semester I-2026, meningkat dibandingkan hanya Rp 11 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya,” ujar Putu dalam risetnya.
Baca Juga: Jelang Delisting, Indointernet (EDGE) Telah Serap 7,1 Juta Saham di Harga Rp 11.500 Menurut dia, sebagian besar keuntungan valuta asing tersebut dibukukan pada kuartal II-2026, berasal dari deposito jangka pendek dalam dolar Amerika Serikat (AS) senilai US$ 47,5 juta. Dari sisi operasional, margin laba kotor alias gross profit margin (GPM) ACES meningkat menjadi 48,6% pada kuartal II/2026. Perbaikan tersebut didukung oleh penyesuaian harga sekitar 10% pada April 2026 untuk mengompensasi kenaikan biaya pengadaan. Secara kumulatif, margin laba kotor semester I-2026 tercatat sebesar 47,4%, relatif stabil dibandingkan 47,3% pada periode yang sama tahun lalu. Namun, kenaikan margin kotor tersebut belum sepenuhnya mampu menutup dampak pelemahan leverage operasional, sehingga margin EBIT turun menjadi 6,1% dari 6,5% pada kuartal II-2025. Putu menjelaskan, apabila tidak memperhitungkan keuntungan valuta asing, laba inti ACES pada kuartal II-2026 justru mengalami penurunan 32,7% yoy. Secara semester I-2026, laba inti turun 10,3% yoy. Dari sisi pendapatan, pertumbuhan penjualan ACES melambat menjadi 2,5% YoY pada kuartal II-2026 dari 10,1% YoY pada kuartal I-2026. Putu menyebut perlambatan tersebut dipengaruhi oleh normalisasi pascamusim libur hari raya, tekanan volume akibat kenaikan harga, serta kontribusi NEKA yang masih terbatas. Meski demikian, kinerja pendapatan semester I-2026 masih berada dalam kisaran target pertumbuhan manajemen untuk tahun penuh 2026, yakni sebesar 6%-8% YoY.
Baca Juga: Rupiah Ditutup Menguat ke Rp 17.897 Per Dolar Hari Ini (7/8), Asia Bervariasi Hal tersebut tercermin dari pertumbuhan penjualan toko yang sama alias same store sales growth (SSSG) Juni 2026 sebesar 2,2%, berada di batas bawah panduan manajemen. Menurut Putu, pertumbuhan penjualan masih terjadi secara luas di berbagai wilayah, namun wilayah luar Jawa mengalami kinerja yang lebih lemah akibat basis pertumbuhan yang tinggi serta perlambatan aktivitas ekonomi di kawasan pertambangan. Di tengah meningkatnya kompetisi setelah kembalinya merek ACE Hardware ke Indonesia, ACES tetap optimistis terhadap posisi bisnisnya. Putu menilai diferensiasi produk, layanan purnajual, serta keahlian staf di dalam toko menjadi faktor pendukung utama daya saing ACES. Selain itu, persaingan dari kanal daring dinilai mulai lebih rasional seiring meningkatnya biaya komisi marketplace dan biaya operasional yang mempersempit keunggulan harga dibandingkan peritel offline. Dari sisi ekspansi, laju pertumbuhan pesaing juga dinilai masih bertahap. ACE Hardware tercatat baru membuka dua toko di Jakarta, sementara AZKO dan NEKA masing-masing telah mencapai sekitar 33% dan 25% dari target ekspansi gerai tahun 2026. Manajemen Aspirasi Hidup Indonesia memperkirakan margin EBIT pada semester II-2026 akan membaik dari posisi saat ini sebesar 6,1%. Namun, kecepatan pemulihan akan sangat bergantung pada efektivitas eksekusi strategi operasional. Sejumlah langkah yang masih berjalan antara lain pengurangan sekitar 400 staf dan personel keamanan melalui peningkatan produktivitas serta pemanfaatan teknologi, menjaga hari persediaan pada kisaran 240-250 hari, serta meningkatkan belanja pemasaran pada semester II-2026 dengan batas sekitar 1,5% dari penjualan untuk mendukung momentum penjualan akhir tahun.
Baca Juga: Wijaya Karya (WIKA) Buka Suara Soal Rencana Kemenkeu Ambil Alih Saham Whoosh Putu menilai, meskipun pertumbuhan pendapatan Aspirasi Hidup Indonesia masih menghadapi tekanan akibat lemahnya konsumsi, katalis positif jangka pendek terhadap saham ACES masih terbatas. “Sustained recovery pada SSSG dan produktivitas toko masih diperlukan untuk mendukung potensi re-rating saham,” tulis Putu.
Saat ini, saham ACES diperdagangkan pada valuasi sekitar 7,8 kali proyeksi price to earnings ratio (P/E) tahun fiskal 2026, sekitar satu standar deviasi di bawah rata-rata lima tahunnya. Adapun risiko utama yang perlu diperhatikan investor mencakup pelemahan permintaan, perbaikan produktivitas yang lebih lambat dari perkiraan, kenaikan biaya angkut, perubahan bauran produk, serta pelemahan nilai tukar rupiah. Harga saham ACES ditutup turun 1,1% di Rp 358 per saham pada Jumat (7/8/2026). Dalam lima hari saham ACES turun 0,56%. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News