AS–Sekutu Barat Bentrok dengan Rusia dan China di PBB Soal Program Nuklir Iran



KONTAN.CO.ID – NEW YORK. Amerika Serikat (AS) dan sekutu Baratnya terlibat perdebatan sengit dengan Rusia dan China terkait niat nuklir Iran dalam pertemuan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Kamis.

Perdebatan ini muncul ketika Washington berupaya memberikan pembenaran lebih lanjut atas perang yang dilancarkannya terhadap Iran dua pekan lalu.

Dalam rapat Dewan Keamanan PBB yang beranggotakan 15 negara dan bulan ini dipimpin oleh United Nations Security Council dengan kepemimpinan AS, Rusia dan China berusaha memblokir pembahasan mengenai komite yang dibentuk untuk mengawasi serta menegakkan sanksi PBB terhadap Iran.


Namun upaya tersebut gagal setelah 11 negara anggota menolak langkah tersebut, sementara dua negara memilih abstain.

Utusan AS untuk PBB, Mike Waltz, menuduh Moskow dan Beijing berupaya melindungi Teheran dengan menghambat kerja Komite 1737, yakni badan yang mengawasi penerapan sanksi terhadap Iran.

Menurut Waltz, seluruh negara anggota PBB seharusnya menjalankan embargo senjata terhadap Iran, melarang transfer maupun perdagangan teknologi rudal, serta membekukan aset keuangan yang terkait.

“Seluruh negara anggota PBB harus menerapkan embargo senjata terhadap Iran, melarang transfer dan perdagangan teknologi rudal, serta membekukan aset keuangan terkait,” ujar Waltz dalam pertemuan tersebut.

Baca Juga: Pinjaman Baru China Februari Hanya 900 Miliar Yuan, Di Bawah Perkiraan

Ia menegaskan bahwa ketentuan sanksi yang hendak diberlakukan kembali bukanlah kebijakan sewenang-wenang, melainkan dirancang secara spesifik untuk mengatasi ancaman dari program nuklir, rudal, dan persenjataan konvensional Iran, termasuk dukungan Teheran terhadap kelompok yang dianggap terlibat dalam aksi terorisme.

Waltz juga menilai Rusia dan China tidak menginginkan komite sanksi berfungsi efektif karena keduanya ingin melindungi mitra mereka, Iran, serta mempertahankan kerja sama pertahanan yang kini kembali dilarang.

Ia menambahkan bahwa pekan lalu International Atomic Energy Agency (IAEA) kembali menegaskan Iran merupakan satu-satunya negara di dunia tanpa senjata nuklir yang telah memproduksi dan menimbun uranium yang diperkaya hingga tingkat 60%. Selain itu, Iran disebut menolak memberikan akses kepada IAEA terhadap stok uranium tersebut.

Rusia dan China Bantah Tuduhan

Di sisi lain, duta besar Rusia untuk PBB, Vasily Nebenzya, menuduh AS dan sekutunya menyebarkan “histeria” terkait dugaan rencana Iran untuk memperoleh senjata nuklir, yang menurutnya tidak pernah dikonfirmasi oleh laporan IAEA.

Nebenzya menilai narasi tersebut digunakan sebagai dalih untuk melancarkan aksi militer baru terhadap Teheran dan memicu eskalasi besar di Timur Tengah serta kawasan lain.

Sementara itu, perwakilan China di PBB, Fu Cong, menyebut Washington sebagai pihak yang memicu krisis nuklir Iran.

Menurutnya, AS telah menggunakan kekuatan militer secara terang-terangan terhadap Iran di tengah proses negosiasi diplomatik, sehingga membuat upaya penyelesaian melalui jalur diplomasi menjadi sia-sia.

Iran Tegaskan Program Nuklir Bersifat Damai

Duta Besar Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, menegaskan bahwa program nuklir Iran sepenuhnya bertujuan damai.

Baca Juga: India Tunda Kesepakatan Dagang dengan AS di Tengah Investigasi Tarif Trump

Ia juga menyatakan Teheran tidak akan mengakui upaya apa pun untuk memberlakukan kembali sanksi terhadap negaranya.

Presiden AS Donald Trump menggunakan isu program nuklir Iran sebagai alasan utama untuk melancarkan serangan terhadap negara tersebut. Trump menyatakan awal bulan ini bahwa Iran akan memiliki senjata nuklir dalam waktu dua minggu jika AS tidak menyerang tiga fasilitas nuklir utama Iran pada Juni lalu.

Namun sejumlah sumber menyebut klaim tersebut tidak didukung oleh penilaian intelijen AS.

Inggris dan Prancis Dukung Pemberlakuan Kembali Sanksi

Sementara itu, Inggris dan Prancis menyatakan kepada Dewan Keamanan bahwa pemberlakuan kembali sanksi terhadap Iran dapat dibenarkan karena Teheran dinilai gagal meredakan kekhawatiran internasional terkait program nuklirnya.

Prancis menyebut IAEA kini tidak lagi dapat menjamin bahwa program nuklir Iran sepenuhnya bersifat damai. Selain itu, stok bahan nuklir Iran disebut telah cukup untuk memproduksi hingga 10 perangkat senjata nuklir.