Aston Martin Pangkas 20% Karyawan, Respons Tarif AS dan Lesunya Pasar China



KONTAN.CO.ID – LONDON. Produsen mobil mewah asal Inggris, Aston Martin (AML.L), mengumumkan rencana pemangkasan tenaga kerja hingga 20% sebagai bagian dari strategi pemulihan kinerja di tengah tekanan tarif impor Amerika Serikat (AS) dan melemahnya permintaan di China.

Perusahaan yang dikenal luas sebagai merek mobil ikonik dalam film James Bond ini menyatakan bahwa langkah efisiensi tersebut ditujukan untuk memperbaiki struktur biaya dan memperkuat posisi keuangan.

Target Penghematan £40 Juta per Tahun

Aston Martin mengungkapkan, pemangkasan dari total sekitar 3.000 karyawan diharapkan menghasilkan penghematan tahunan sekitar 40 juta pound sterling (sekitar US$54 juta).


Baca Juga: Aston Martin Babak Belur Akibat Tarif Trump, Pemerintah Inggris Diminta Turun Tangan

Manajemen tidak merinci jadwal implementasi pemutusan hubungan kerja (PHK), namun menegaskan sebagian besar penghematan akan terealisasi pada tahun ini. Angka tersebut sudah termasuk pengurangan 5% tenaga kerja yang diumumkan pada tahun lalu.

Selain efisiensi tenaga kerja, perusahaan juga memangkas rencana belanja modal lima tahunnya menjadi 1,7 miliar pound sterling dari sebelumnya 2 miliar pound sterling. Penyesuaian ini dilakukan dengan menunda sejumlah investasi dalam pengembangan teknologi kendaraan listrik (electric vehicle/EV).

Saham Menguat di Tengah Tekanan Fundamental

Di awal perdagangan, saham Aston Martin sempat menguat hampir 5% setelah sebelumnya mengalami penurunan selama sembilan sesi berturut-turut. Kenaikan ini mencerminkan respons positif investor terhadap langkah efisiensi yang diumumkan manajemen.

Namun secara fundamental, perusahaan masih menghadapi tantangan berat, terutama terkait arus kas dan tingkat utang yang tinggi.

Aston Martin tercatat memiliki utang sebesar 1,38 miliar pound sterling dan menghadapi kesulitan dalam menghasilkan arus kas yang stabil. Meski demikian, perusahaan telah menerima suntikan modal dari miliarder Kanada sekaligus Chairman Lawrence Stroll, serta melalui sejumlah kesepakatan strategis lainnya.

Baca Juga: Trump Klaim Rekor Bursa Saham, Janjikan Insentif Dana Pensiun

Manajemen menyebut tarif impor AS sebagai faktor yang “sangat mengganggu” operasional perusahaan. Selain itu, permintaan di China—pasar otomotif terbesar dunia—dinilai “sangat lesu”, sehingga semakin menekan kinerja penjualan global.

Proyeksi 2026 dan Harapan dari Valhalla Hybrid

Aston Martin memperkirakan masih akan terjadi arus kas keluar tambahan pada 2026. Meski demikian, perusahaan optimistis akan terjadi “perbaikan material” dalam kinerja keuangan.

Perusahaan menargetkan margin kotor di kisaran tinggi 30% serta laba operasional yang disesuaikan (adjusted EBIT) mendekati titik impas (breakeven). Target tersebut didukung oleh rencana pengiriman sekitar 500 unit supercar hybrid terbarunya, Aston Martin Valhalla.

Pada tahun buku 2025, Aston Martin membukukan rugi operasional sebesar 259,2 juta pound sterling.

Sebagai bagian dari upaya memperkuat neraca keuangan, pekan lalu perusahaan juga menandatangani kesepakatan senilai 50 juta pound sterling untuk menjual hak branding permanen (perpetual branding rights) atas tim Formula One miliknya.

Selanjutnya: Barantin Siapkan 3.930 Personel dalam Pengawasan Komoditas Pangan Selama Ramadan

Menarik Dibaca: Ramadhan With OYO, Ada Diskon Menginap hingga 75% dan Gratis Tambahan Menginap