Aston Martin Terancam Gugatan Kreditur, Penjualan Hak Merek Dipersoalkan



KONTAN.CO.ID - Sejumlah kreditur Aston Martin mengancam akan menempuh jalur hukum setelah mengetahui rencana produsen mobil mewah asal Inggris tersebut menjual sebagian hak merek (branding) dan penamaan sebagai bagian dari paket pendanaan utang baru.

Mengutip laporan Financial Times yang dilansir Reuters, Senin (3/8/2026), kelompok kreditur tersebut telah mengirimkan "letter before action" kepada dewan direksi Aston Martin pada Minggu (2/8).

Baca Juga: Grab Revisi Naik Target Pendapatan 2026, Buyback Saham US$ 750 Juta


Surat tersebut merupakan pemberitahuan awal sebelum gugatan hukum diajukan.

Dalam surat itu, para kreditur memperingatkan bahwa mereka dapat meminta pengadilan membatalkan transaksi pendanaan yang dipimpin HPS Investment Partners, perusahaan investasi yang dimiliki BlackRock, sekaligus berupaya menghentikan pelepasan sejumlah aset kekayaan intelektual Aston Martin.

Pada Juli lalu, Aston Martin memperoleh fasilitas pendanaan utang senilai £550 juta atau sekitar US$ 738,4 juta.

Paket pendanaan tersebut terdiri dari pinjaman berjaminan (secured term loan) sebesar £450 juta, pinjaman tambahan (delayed draw term loan) sebesar £100 juta, serta kapasitas penambahan utang terpisah senilai £100 juta.

Menurut laporan tersebut, sejumlah kreditur yang memiliki piutang sekitar £1,3 miliar terhadap Aston Martin tidak diberi penjelasan rinci mengenai struktur transaksi tersebut.

Reuters menyebut belum dapat memverifikasi laporan tersebut secara independen. Aston Martin maupun HPS juga belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar di luar jam kerja.

Baca Juga: Trump Klaim Pembicaraan dengan Iran Berlangsung, Teheran Membantah Ada Negosiasi

Penjualan hak merek jadi sorotan

Financial Times melaporkan bahwa sebagian kesepakatan pendanaan bergantung pada rencana Aston Martin mengalihkan 51,1% kepemilikan hak kekayaan intelektual non-otomotif kepada perusahaan pengembang merek asal Amerika Serikat, Authentic Brands.

Selain itu, pencairan tambahan pendanaan sebesar £100 juta dari paket HPS disebut hanya akan dilakukan apabila transaksi penjualan hak merek tersebut berhasil diselesaikan.

HPS sendiri diketahui juga merupakan investor di Authentic Brands.

Menurut laporan itu, Aston Martin menolak membagikan rincian perjanjian dengan HPS kepada sebagian krediturnya, sehingga memicu kekhawatiran terkait struktur pendanaan dan pengalihan aset perusahaan.

Baca Juga: Harga Minyak Anjlok 7% ke Level Terendah Tiga Pekan, Trump Tunda Serangan ke Iran

Tertekan penjualan dan tarif AS

Aston Martin saat ini tengah menghadapi tekanan keuangan akibat melemahnya penjualan kendaraan, penerapan tarif impor Amerika Serikat, serta permintaan yang lesu di pasar China.

Kondisi tersebut mendorong produsen mobil mewah berusia 113 tahun itu melakukan berbagai langkah efisiensi, termasuk memangkas biaya operasional dan mencari sumber pendanaan baru untuk memperkuat likuiditas perusahaan.