KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Astra Graphia Tbk (
ASGR) memutuskan membagikan dividen final sebesar Rp 284,59 miliar atau Rp 211 per saham. Dengan demikian, total dividen tunai tahun buku 2025 mencapai Rp 241 per saham, termasuk dividen interim. Nilai tersebut mencerminkan payout ratio yang melampaui laba bersih 2025 sebesar Rp 270,61 miliar. Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menilai kebijakan dividen tersebut tergolong agresif, namun masih wajar dan positif.
“Rasio payout di atas 100% mencerminkan likuiditas kas internal yang sangat besar dan minimnya urgensi capex ekspansif jangka pendek,” ujarnya kepada Kontan, Senin (20/4/2026).
Baca Juga: IHSG Berpotensi Bergerak Sideways pada Selasa (21/4), Cermati Rekomendasi Analis Menurut Wafi, dengan total dividen Rp 241 per saham, yield ASGR menjadi sangat menarik bahkan berpotensi mencapai dua digit. Namun, investor tetap perlu mencermati risiko
dividend trap menjelang
ex-date. “Sangat menarik dengan potensi
dividend yield dua digit, tapi investor wajib mewaspadai risiko
dividend trap saat
ex-date,” imbuhnya. Ia juga mengingatkan, keberlanjutan kebijakan dividen seperti ini cenderung sulit dipertahankan karena sebagian bersumber dari saldo laba ditahan. “Penggunaan saldo laba ditahan bersifat
one-off, sehingga ke depan nilai dividen akan kembali normal mengikuti laba bersih berjalan,” jelasnya. Dari sisi fundamental, Wafi menilai ASGR tengah berada dalam fase transisi di tengah tren digitalisasi. “Bisnis tradisional akan stagnan, sementara pertumbuhan ke depan akan bertumpu pada ekspansi segmen layanan solusi teknologi informasi,” katanya. Ia pun merekomendasikan beli saham ASGR dengan target harga di level Rp 2.100. Senada, Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Adrian Djie menilai kebijakan dividen ini merupakan upaya manajemen dalam mengoptimalkan imbal hasil bagi pemegang saham.
Baca Juga: Jelang RDG BI, Begini Proyeksi Rupiah untuk Besok (21/4) “Langkah ini diperkirakan tidak akan mengganggu kelangsungan operasional perusahaan dalam jangka pendek,” ujarnya. Menurut Adrian, yield dividen yang tinggi memang meningkatkan daya tarik saham ASGR. Namun, risiko
dividend trap tetap perlu diantisipasi oleh investor. “Investor tetap perlu mewaspadai potensi penurunan harga saham setelah pembagian dividen,” katanya. Terkait sumber dividen, Adrian menilai penggunaan saldo laba ditahan masih relatif aman, mengingat posisi saldo laba ditahan ASGR yang kuat, yakni sekitar Rp1,89 triliun. Di sisi bisnis, ia memperkirakan segmen solusi dokumen akan menghadapi tekanan dalam jangka panjang akibat digitalisasi. Sebaliknya, segmen teknologi informasi diproyeksikan menjadi motor pertumbuhan baru.
“Pertumbuhan ke depan akan ditopang oleh layanan IT seperti
managed service dan
cloud,” jelasnya. Namun demikian, secara valuasi Adrian menilai saham ASGR saat ini sudah diperdagangkan di atas rata-rata
price to earnings ratio dalam tiga tahun terakhir. Untuk jangka pendek, ia memperkirakan pergerakan harga saham ASGR berpotensi menuju level Rp1.905 dengan support di kisaran Rp1.825. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News