KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Astra International Tbk (
ASII) mendapatkan restu untuk melakukan pembelian kembali alias
buyback saham senilai Rp 8 triliun. Hal itu diputuskan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa 2026 yang digelar pada Jumat (17/7/2026). Presiden Direktur Astra, Rudy, mengucapkan terima kasih kepada seluruh
stakeholders atas dukungan penuh yang telah diberikan selama ini kepada perseroan. Ada dua mata acara dalam rapat tersebut.
Dalam mata acara pertama, pemegang saham menyetujui pengalihan sebagian saham hasil program pembelian kembali saham ASII periode 3 yang berlangsung sejak 16 Maret 2026 sampai 15 Juni 2026, dengan jumlah keseluruhan tidak melebihi 100 juta saham. Ini untuk digunakan dalam rangka pelaksanaan program kepemilikan saham manajemen (Program MSOP).
Baca Juga: Jersey Bola Bisa Jadi Alternatif Investasi, Ini Faktor Penentu Harganya Pemegang saham juga memberikan wewenang kepada Komite Nominasi dan Remunerasi ASII, untuk menetapkan harga pelaksanaan atas pengalihan saham dan jumlah atau besaran kewajiban pembayaran oleh manajemen Perseroan, dengan mengacu pada ketentuan dan/atau peraturan perundang-undangan yang berlaku. “Kemudian, memberikan wewenang kepada Direksi Perseroan untuk melakukan segala tindakan lainnya yang diperlukan terkait pengalihan saham untuk pelaksanaan Program MSOP, dengan mengacu pada ketentuan dan/atau peraturan perundang-undangan yang berlaku,” katanya dalam keterangan resmi yang diterima Kontan, Jumat (17/7/2026). Dalam mata acara kedua, pemegang saham menyetujui pembelian kembali saham ASII sesuai dengan POJK Nomor 29/2023, dengan jumlah sebanyak-banyaknya Rp 8 triliun, tidak termasuk biaya perantara pedagang efek dan biaya lain yang berkaitan dengan pembelian kembali saham tersebut. Pemegang saham juga memberikan kuasa dan wewenang kepada Direksi Perseroan untuk melaksanakan tindakan-tindakan yang diperlukan sehubungan dengan pembelian kembali saham tersebut sesuai ketentuan perundang-undangan dan peraturan yang berlaku. “Termasuk, tetapi tidak terbatas untuk menentukan harga pembelian kembali saham,” katanya. Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Adrian Djie memandang, aksi korporasi ini tidak akan membebani kinerja keuangan ASII. Sebab, posisi permodalan dan arus kas perseroan masih kuat.
Baca Juga: Rupiah Mulai Menguat, Simak Proyeksi dan Sentimen Penggerak Pekan Depan Secara teoretis,
buyback saham juga dapat memberikan sentimen positif dalam jangka pendek karena mendongkrak permintaan di pasar. “Ini sekaligus menjadi sinyal keyakinan manajemen bahwa valuasi saham saat ini sedang
undervalued,” katanya kepada Kontan, Jumat (17/7/2026). Melansir RTI, saham ASII saat ini ada di Rp 5.100 per saham. Harganya sudah turun 23,88% sejak awal tahun alias
year to date (YTD). Jika tekanan negatif di pasar modal secara umum mulai mereda, ASII punya potensi penguatan saham. Apalagi, saat ini ASII juga diperdagangkan pada valuasi yang menarik, yaitu di sekitar level PE -1 Standar Deviasi dalam jangka waktu historis 5 tahun. “Namun perlu diperhatikan juga, jika sentimen negatif kembali bermunculan tentunya akan ada potensi penurunan,” tuturnya. Ke depan, kinerja ASII diproyeksikan bisa dapat katalis jika segmen komoditas bisa berkontribusi lebih positif. Sebagai gambaran, pendapatan ASII turun 5,63% secara tahunan (YoY) ke Rp 78,66 triliun pe 31 Maret 2026. Laba bersih ASII pun turun 15,61% YoY menjadi Rp 5,85 triliun di kuartal I-2026. Penurunan laba ASII di tiga bulan pertama tahun 2026 disebabkan oleh kontribusi yang lebih rendah dari divisi Alat Berat, Pertambangan, Konstruksi, dan Energi. Pada periode tersebut, Astra mencatat beberapa
non-recurring charges dan penyesuaian nilai wajar atas investasi-investasi ekuitas. Tanpa memperhitungkan hal ini, laba bersih ASII turun 8% menjadi Rp 6,8 triliun. Per Juni 2026, ASII juga melaporkan penjualan mobil sebanyak 40.235 unit pada bulan Juni 2026. Berdasarkan data penjualan yang dirilis Astra pada Jumat (10/7), pencapaian tersebut meningkat 3,8% secara bulanan (MtM) dibandingkan Mei 2026 yang sebanyak 38.768 unit. Secara tahunan, penjualan pada bulan Juni juga melonjak 37%
year on year (yoy) dibandingkan Juni 2025 yang tercatat 29.365 unit. Adapun, sepanjang periode Januari–Juni 2026 penjualan mobil Astra mencapai 222.371 unit, naik sekitar 10,2% dibandingkan realisasi periode yang sama tahun lalu yang sebanyak 201.633 unit.
Menurut Adrian, sentimen positif pendukung kinerja ASII adalah peningkatan harga batu bara dibandingkan tahun 2025, pemulihan operasional tambang Martabe milik PT United Tractors Tbk (UNTR), serta diversifikasi bisnis yang membuat ASII lebih tangguh di tengah tantangan makroekonomi dan ketidakpastian geopolitik. “Di sisi lain, risiko yang perlu diwaspadai meliputi pelemahan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK), persaingan pangsa pasar kendaraan bermotor yang semakin ketat, serta volatilitas harga minyak dunia,” katanya. Adrian pun merekomendasikan
trading buy untuk saham ASII dengan target harga jangka pendek di level Rp 5.300 per saham. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News