KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja PT Astra International Tbk (ASII) diproyeksikan kembali menguat pada paruh kedua 2026 seiring membaiknya pasar otomotif, ketahanan bisnis jasa keuangan, serta pemulihan operasional tambang emas Martabe. Meski demikian, pelemahan daya beli dan risiko penurunan permintaan kendaraan masih menjadi perhatian bagi prospek bisnis perseroan. Christopher Rusli, Analis Ciptadana Sekuritas Asia mencatat pendapatan semester I – 2026 ASII sebesar Rp 157,9 triliun, turun 3,0% secara year on year (yoy). Sementara laba bersih mencapai Rp 12,5 triliun (turun 19,2% yoy) yang sebagian terbebani oleh kerugian non-berulang sebesar Rp 2,4 triliun terkait penyesuaian nilai wajar dan penurunan nilai aset.
Tiga Mesin Pertumbuhan Astra
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand mengatakan, prospek kinerja ASII hingga akhir tahun terbilang solid dengan strategic review yang memfokuskan tiga mesin pertumbuhan inti. Yakni Automotive, Financial Services, dan HEMCE, yang bersama-sama berkontribusi sekitar 90% laba grup. “EPS growth tahun 2026 – 2028 (FY26-28F) diproyeksikan tetap solid di 28,4%, dengan katalis tambahan dari ekspansi auto parts dan diversifikasi UNTR ke metallurgical coal,” ujar Abida kepada Kontan, Selasa (18/8/2026). Baca Juga: ETF Emas Dapat Menjadi Pilihan Diversifikasi Portofolio di Tengah Harga Emas Tinggi Meski prospek pertumbuhan masih positif, Abida melihat terdapat dua risiko utama bagi ASII. Pertama, pelemahan rupiah yang dapat meningkatkan harga kendaraan dan komponen impor sehingga berpotensi menekan daya beli. Kedua, daya beli masyarakat yang masih rentan akibat suku bunga tinggi yang membebani cicilan kredit kendaraan bermotor. Di sisi lain, sejumlah sentimen positif berpotensi menopang saham ASII. Abida mencermati rencana buyback saham senilai Rp 8 triliun dalam 12 bulan ke depan yang menciptakan demand non-discretionary, dividend payout ratio sebesar 45%-50% yang memberikan yield menarik, serta ambisi TSR low-teens yang jauh lebih tinggi dibandingkan annualized return 10 tahun terakhir yang hanya sekitar 6%. “Sentimen negatif, pelemahan rupiah dan daya beli yang masih menjadi risiko utama versi manajemen sendiri,” terang Abida.Persaingan Mobil 4W Astra
Sementara itu, UBS Sekuritas Indonesia turut mencermati perkembangan persaingan kendaraan roda empat di Indonesia melalui pameran otomotif Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026. Pengamatan tersebut dilakukan untuk mengukur lanskap persaingan 4W serta dampaknya terhadap bisnis 4W Astra dalam 12 bulan ke depan. Temuan UBS Sekuritas Indonesia menunjukkan risiko persaingan terhadap pangsa pasar 4W Astra relatif stabil. Bahkan, tingkat risiko secara keseluruhan dinilai relatif menurun dibandingkan tren jangka panjang sejak pameran otomotif 2024. “Pada GIIAS 2026, kami mencatat peningkatan program pembelian kembali 4W dari para pemain lama (Toyota, Hyundai, Mitsubishi) yang sebagian besar tidak ada pada GIIAS 2024-2025,” ujar Igor Putra, Analis UBS Sekuritas Indonesia dalam risetnya pada 10 Agustus 2026. Igor menilai program pembelian kembali kendaraan tidak hanya ditawarkan oleh produsen kendaraan listrik berbasis baterai atau Battery Electric Vehicle (BEV) asal China. Menurut dia, Original Equipment Manufacturer (OEM) lama juga berpotensi mengikuti strategi tersebut.ASII Chart by TradingView