Astra International (ASII) Serap 47% dari Capex 2026, Simak Rekomendasi Sahamnya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Astra International Tbk (ASII), emiten raksasa di sektor otomotif, mencatatkan realisasi belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp 17 triliun hingga Juni 2026, dari total anggaran capex tahun 2026 yang dipatok sebesar Rp 36 triliun. Dengan begitu, penyerapan capex perseroan baru mencapai 47% dari target tahun ini.

Realisasi serapan capex Astra di periode tersebut menunjukkan peningkatan dibandingkan periode yang semester I-2025, di mana penyerapan capex Astra kala itu sekitar 34%.

Head of Corporate Investor Relations Astra International Tira Ardianti mengungkapkan sebagian besar dari realisasi capex di periode Januari-Juni 2026 digunakan untuk akuisisi tambang emas PT Arafura Surya Alam yang dilakukan oleh, PT United Tractors Tbk (UNTR). 


Selebihnya merupakan belanja modal rutin, yang sebagian besar dialokasikan untuk pembelian alat berat guna mendukung bisnis kontraktor pertambangan di lingkup grup United Tractors.

Baca Juga: Mata Uang Kripto Pulih dalam Sepekan, Cek Prospek Harga BTC & ETH Hingga Akhir 2026

Untuk sisa tahun berjalan, Tira menyebut bahwa Astra akan lebih selektif dan disiplin dalam mengalokasikan sisa anggaran belanja modal. Fokusnya diarahkan pada pengeluaran yang mampu menopang pertumbuhan bisnis perusahaan ke depan.  

Tira juga menegaskan, evaluasi terhadap penggunaan capex akan terus dilakukan secara berkala untuk memastikan setiap belanja modal benar-benar berkontribusi pada produktivitas bisnis.

"Tentunya belanja modal ini dari waktu ke waktu terus kami evaluasi ya, dan kami pastikan bahwa belanja modal itu harus mendukung produktivitas bisnis ke depannya,"  ujar Tira, Rabu (23/9/2026).

Secara terpisah, Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menilai serapan 47% di semester I-2026 tidak serta merta menandakan pengereman belanja modal, jika mengacu pada pola realisasi tahun penuh 2025.

Namun, komposisinya tetap perlu dicermati, mengingat mayoritas dari capex Rp 17 triliun terserap untuk akuisisi tambang emas Arafura Surya Alam oleh UNTR, bukan untuk ekspansi organik di lini bisnis otomotif di tengah kinerja UNTR yang melemah dan laba bersih Grup Astra yang turun 7% secara tahunan (YoY). 

"Manajemen menyatakan sisa semester kedua akan lebih disiplin, konsisten dengan pola ASII yang biasa menyesuaikan pace belanja sesuai kondisi bisnis berjalan," ucap Abida kepada Kontan, Kamis (24/9/2026).

Baca Juga: Rupiah Tertekan Sentimen Global, Simak Proyeksinya untuk Pekan Depan

Berkaca dari pola tahun 2025 di mana realisasi Rp 32 triliun justru melampaui revisi guidance yang lebih rendah, ASII punya rekam jejak fleksibel menyesuaikan capex naik maupun turun tergantung peluang strategis yang muncul, seperti akuisisi tambang emas tahun ini. 

Jika tidak ada akuisisi besar tambahan di semester kedua tahun 2026, realisasi penuh Rp 36 triliun tergolong menantang mengingat manajemen sudah mengindikasikan pendekatan lebih selektif untuk sisa Rp 19 triliun.

Siapkan Tiga Bisnis Inti

Disisi lain, Abida juga berpandangan strategi ASII yang mengandalkan tiga bisnis inti yaitu otomotif, jasa keuangan dan solusi pertambangan dan alat berat sudah berada di jalur yang tepat. Ketiga bisnis itu berkontribusi 90% laba grup, menjadikannya segmen dengan keunggulan kompetitif jelas, sehingga fokus modal mengurangi risiko capital misallocation ke bisnis non-inti. 

"Ini penajaman prioritas, bukan penyempitan drastis, sejalan dengan ambisi TSR low-teens yang jauh lebih tinggi dari rata-rata 10 tahun terakhir sekitar 6%," ucap Abida.

Adapun Abida merekomendasikan buy untuk saham ASII dengan target harga Rp6.850 per saham. Rekomendasi tersebut mengacu pada metode valuasi sum-of-the-parts (SOTP), dengan estimasi forward price to earnings ratio (PE) sebesar 7,2 kali yang dinilai masih tergolong menarik.

Rekomendasi tersebut juga ditopang oleh proyeksi pertumbuhan laba bersih per saham (EPS) ASII yang solid, dengan estimasi compound annual growth rate (CAGR) mencapai 28,4% sepanjang periode tahun 2026 hingga 2028.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News