Astra Otoparts mendorong kinerja anak usaha



JAKARTA. Tak main-main, tahun ini, PT Astra Otoparts Tbk mengalokasikan belanja modal atawa capital expenditure (capex) sampai Rp 6 triliun. Kalau dibandingkan dengan anggaran capex 2013, angka ini melejit 100%. Selain dana capex jumbo, perusahaan itu fokus menggarap pasar komponen roda empat.

Jika menilik laporan keuangan perusahaan berkode AUTO di Bursa Efek Indonesia (BEI) ini per 31 Desember 2013, cuma ada kas dan setara kas Rp 1,48 triliun. Jadi, besar kemungkinan pendanaan tahun ini juga mengandalkan pihak ketiga.

Namun hingga periode kuartal I-2014, Astra Otoparts baru membelanjakan capex Rp 700 miliar. Dana ini untuk membayar uang muka pembelian mesin. Ini artinya, penyerapan anggaran baru 11,67% dari total capex.


Darmawan Widjaja, Direktur Astra Otoparts Tbk menyampaikan dalam paparan publik, Selasa (15/4), Rp 3,5 triliun dari capex untuk menunjang kinerja anak perusahaan. Sayang, Darmawan tak menyebut anak perusahaan mana yang dimaksud. Dia juga belum mau menyampaikan rinci rencana ekspansi Astra Otoparts tahun ini.

Di tempat yang sama, Hamdani Dzulkarnaen Salim, Presiden Direktur Astra Otoparts bilang, perusahaan mengejar target pertumbuhan lebih besar tahun ini. "Rasanya kami tetap konsisten dengan strategi merger atau akuisisi," kata Hamdani, tanpa menyebutkan rencananya lebih detail.

Hanya, sebelumnya, perusahaan pernah menyampaikan ingin mengalokasikan dana Rp 500 miliar hingga Rp 1 triliun untuk biaya akuisisi tahun ini. Seperti Anda mungkin ingat, tahun lalu, perusahaan melakukan beberapa aksi akuisisi dan menjalin kongsi bisnis. Semisal pada April 2013, perusahaan mengakuisisi 51% saham PT Pakoakuina, produsen pelek ban.

Selain strategi merger dan akuisisi, tahun ini, Astra Otoparts memasang dua strategi lain. Pertama, fokus menggarap pasar onderdil kendaraan roda empat. Hamdani beralasan pertumbuhan ceruk pasar onderdil ini lebih menjanjikan ketimbang pasar onderdil kendaraan roda dua. Dus, perusahaan akan menambah koleksi produk.

Kedua, perusahaan akan  memperbesar pasar ritel dengan menambah jaringan Shop & Drive. Saat ini jumlah gerai Shop & Drive ada 300 gerai. "Minggu lalu ada pilot project Shop & Bike tapi masih harus menunggu bagaimana respon pasar," beber Hamdani.

Terpukul pelemahan rupiah

Berbekal aneka rencana bisnis ini, Astra Otoparts berharap pertumbuhan penjualan onderdil sejalan dengan pertumbuhan industri otomotif. Sayang Johnny Darmawan, Komisaris Astra Otoparts tak mau membeberkan berapa persisnya target yang dikejar. "Kami juga harus lihat dahulu siapa nanti yang jadi presiden Indonesia," kilah Johnny.

Sekadar mengingatkan, tahun lalu pendapatan Astra Otoparts memang masih tumbuh 29,29% menjadi Rp 10,7 triliun. Namun laba bersih perusahaan melorot 4,46% menjadi Rp 1 triliun.

Hamdani menyebutkan dua alasan terjadi penurunan laba. Pertama, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS). Astra Otoparts terpukul oleh kurs lantaran mayoritas bahan baku onderdil diimpor.

Oleh karena itu, perusahaan akan meningkatkan efisiensi dengan menekan produk yang dikembalikan (rejection). Perusahaan ini juga berupaya mencari produk substitusi.

Kedua, kenaikan upah minimum provinsi (UMP). Perusahaan akan meningkatan produktivitas dari tiap pekerja. Plus, berupaya  meningkatkan fungsi dari peralatan yang yang telah dimiliki.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Anastasia Lilin Yuliantina