JAKARTA. Penutupan layanan wealth management di 23 bank selama satu bulan ini memang merugikan bisnis asuransi jiwa. Namun, industri asuransi dan perbankan masih bisa mendongkrak premi dari nasabah bank. Terutama dari nasabah bank kalangan menengah ke bawah, yang sampai saat ini belum tergarap secara optimal. Nasabah kalangan menengah ke bawah adalah yang memiliki simpanan di bawah Rp 100 juta. Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat, per Maret 2011, jumlah nasabah di kelompok itu sekitar 96,51 juta. Menurut Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), dari jumlah itu hanya 29,6 juta orang yang memiliki polis asuransi jiwa. Artinya, pemasaran asuransi melalui perbankan alias bancassurance hanya sekitar 30,6%. Sementara, 69,4% belum tersentuh layanan asuransi. "Ini pasar yang cerah bagi asuransi, karena mereka juga membutuhkan asuransi," kata Isa Rachmatarwata, Kepala Biro Perasuransian Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK), Selasa (10/5).
Asuransi bakal menggeber bancassurance
JAKARTA. Penutupan layanan wealth management di 23 bank selama satu bulan ini memang merugikan bisnis asuransi jiwa. Namun, industri asuransi dan perbankan masih bisa mendongkrak premi dari nasabah bank. Terutama dari nasabah bank kalangan menengah ke bawah, yang sampai saat ini belum tergarap secara optimal. Nasabah kalangan menengah ke bawah adalah yang memiliki simpanan di bawah Rp 100 juta. Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat, per Maret 2011, jumlah nasabah di kelompok itu sekitar 96,51 juta. Menurut Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), dari jumlah itu hanya 29,6 juta orang yang memiliki polis asuransi jiwa. Artinya, pemasaran asuransi melalui perbankan alias bancassurance hanya sekitar 30,6%. Sementara, 69,4% belum tersentuh layanan asuransi. "Ini pasar yang cerah bagi asuransi, karena mereka juga membutuhkan asuransi," kata Isa Rachmatarwata, Kepala Biro Perasuransian Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK), Selasa (10/5).