Asuransi Bintang (ASBI) Sudah Lakukan Simulasi New RBC Jelang Aturan Baru OJK



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Asuransi Bintang Tbk (ASBI) mencermati rencana penerapan metode perhitungan permodalan industri asuransi melalui skema risk based capital (RBC) baru yang tengah disiapkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Perusahaan menyatakan telah siap menghadapi implementasi ketentuan tersebut.

Presiden Direktur Asuransi Bintang HSM Widodo mengatakan, skema New RBC dinilai mampu memperkuat pengukuran solvabilitas industri asuransi. Menurutnya, pendekatan baru tersebut juga memberikan perspektif yang lebih forward looking terhadap kecukupan modal perusahaan.

“New RBC memperkuat pengukuran metric solvency atau core solvency, sekaligus tetap mengakui sisi komersial perusahaan melalui overall solvency. Jadi, perspektif terhadap kecukupan modal menjadi lebih berimbang dan forward looking,” ujar Widodo kepada Kontan, Kamis (7/5/2026).


Widodo menyebutkan, Asuransi Bintang bahkan telah melakukan simulasi dan perhitungan New RBC secara rutin setiap bulan. Hal itu dimungkinkan karena implementasi IFRS 17 di perusahaan telah berjalan penuh.

Baca Juga: Pembiayaan Pergadaian Syariah Melonjak 35,38% per Maret 2026

"Pada kuartal I-2026, Asuransi Bintang mencatat core solvency sebesar 193% dan overall solvency sebesar 305%," tuturnya.

Selain itu, Widodo menilai penerapan struktur permodalan berbasis tiering tidak memberikan tekanan tambahan terhadap perusahaan. Sebab, Asuransi Bintang tidak bermain di produk-produk yang mensyaratkan ekuitas hingga Rp 1 triliun.

“Asuransi Bintang memang menargetkan menuju ekuitas Rp 500 miliar. Jadi, tidak ada tekanan terhadap return on equity (ROE) dibanding jika harus menuju ekuitas Rp 1 triliun,” katanya.

Ia menyebutkan, posisi ekuitas perusahaan pada kuartal I-2026 telah mencapai Rp 465 miliar dan ditargetkan melampaui Rp 500 miliar pada kuartal II-2027.

Widodo menambahkan, perusahaan juga tidak menghadapi kendala berarti dalam proses transisi menuju New RBC. Menurutnya, berbagai langkah strategis telah dilakukan sejak tiga tahun terakhir, termasuk penyesuaian menuju IFRS 17 dan penguatan ekuitas.

Baca Juga: Jasindo Syariah Perketat Klaim, Cuaca Ekstrem Jadi Ancaman Utama

Lebih lanjut, strategi asset liability management (ALM) yang diterapkan perseroan disebut memberikan dampak positif terhadap tingkat solvabilitas perusahaan. Berdasarkan laporan audited sepanjang tahun 2025, RBC lama Asuransi Bintang tercatat sebesar 176,08%. Sementara berdasarkan skema baru, core solvency mencapai 185% dan overall solvency sebesar 319%.

Sebagai informasi, OJK saat ini tengah menyusun Peraturan OJK (POJK) terkait perhitungan solvabilitas perusahaan asuransi dan reasuransi sebagai bagian dari penyempurnaan kerangka ketentuan solvensi industri asuransi.

Ke depan, New RBC akan menerapkan struktur permodalan berbasis tiering, yakni tier 1 dan tier 2, dengan pendekatan yang lebih sensitif terhadap risiko dan bersifat forward looking.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News