Asuransi Marine Cargo Masih Berpeluang Tumbuh pada 2026, Ini Faktor Pendorongnya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) memproyeksikan kinerja asuransi marine cargo masih memiliki peluang tumbuh di tahun 2026.

Pandangan tersebut merujuk pada kinerja asuransi marine cargo sepanjang 2025 yang tetap mencatat pertumbuhan cukup resilien meskipun berada dalam tekanan dan persaingan yang ketat.

"Lini marine cargo tetap relatif resilien meskipun berada di tengah tekanan persaingan tarif dan penyesuaian biaya logistik," ujar Ketua Umum AAUI Budi Herawan kepada Kontan, Minggu (18/1/2026).


Berdasarkan data industri asuransi umum, premi marine cargo hingga Kuartal III 2025 tercatat sekitar Rp 4,1 triliun dengan pertumbuhan sekitar 2% secara tahunan dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.

Baca Juga: AAUI: Rasio Klaim Asuransi Kesehatan yang Sehat Berada di Kisaran 60%–75%

Ia mengatakan bahwa pertumbuhan ekspor nasional memiliki keterkaitan erat dengan kinerja asuransi marine cargo.

Hal ini terjadi karena aktivitas perdagangan internasional yang terus berjalan mendorong kebutuhan perlindungan atas pengiriman barang, baik untuk ekspor maupun impor.

Struktur komoditas ekspor Indonesia yang didominasi sektor mineral dan hasil pertambangan, termasuk mineral fuels seperti batu bara dan nikel, menunjukkan bahwa pengiriman barang bernilai tinggi melalui jalur laut masih berlangsung aktif.

Kondisi tersebut berpotensi terus mendorong pertumbuhan premi pada lini asuransi marine cargo seiring dengan kesadaran pelaku usaha untuk meningkatkan mitigasi risiko logistik.

"Ke depan dengan ekspor yang masih tumbuh serta diversifikasi tujuan perdagangan, asuransi marine cargo memiliki ruang untuk terus berkembang," katanya.

Kendati demikian, Budi melihat industri ini tetap akan dihadapkan pada sejumlah tantangan yang membuat perusahaan asuransi harus lebih disiplin dalam mengelola risiko.

Baca Juga: AAUI: Lini Asuransi Kesehatan Masih akan Dihadapkan Sejumlah Tantangan

Beberapa di antaranya adalah kompetisi tarif yang ketat, volatilitas nilai barang kiriman, risiko geopolitik, dan potensi gangguan rantai pasok.

Oleh karena itu, perusahaan asuransi diharapkan bisa menerapkan strategi yang tidak hanya berfokus pada peningkatan premi saja, melainkan dengan pendekatan pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan.

Langkah tersebut dapat ditempuh melalui sejumlah cara, seperti selektivitas risiko, penguatan kerja sama dengan pelaku logistik dan perdagangan, penyesuaian wording dan klausula pertanggungjawaban, dan memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kualitas dan layanan klaim.

"Dengan strategi tersebut, diharapkan kinerja marine cargo tetap tumbuh sejalan dengan dinamika perdagangan nasional dan global," tutup Budi.

Selanjutnya: BNI Catat Respons Positif Usai Naikkan Bunga Deposito Valas ke 4%

Menarik Dibaca: 10 Manfaat Konsumsi Tape Singkong untuk Kesehatan Tubuh yang Jarang Diketahui

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News