Asuransi Marine Hull Diproyeksikan Tumbuh Moderat pada 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lini bisnis asuransi marine hull atau rangka kapal mencatatkan kinerja impresif sepanjang tahun 2025. Pertumbuhan premi yang solid mencerminkan tingginya kebutuhan perlindungan terhadap armada kapal di tengah meningkatnya aktivitas pelayaran dan perdagangan.

Data Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) menunjukkan bahwa premi marine hull meningkat sebesar Rp467 miliar atau tumbuh 14,7% secara tahunan (year-on-year/YoY). Dengan demikian, total premi naik dari Rp3,19 triliun pada 2024 menjadi Rp3,65 triliun pada 2025.

Ketua Umum AAUI Budi Herawan mengungkapkan bahwa pertumbuhan ini ditopang oleh stabilnya aktivitas transportasi laut, pelayaran, serta perdagangan yang mendorong kebutuhan proteksi terhadap kapal.


Selain itu, pengamat asuransi Irvan Rahardjo menilai bahwa peningkatan kinerja juga dipengaruhi oleh naiknya klaim akibat kecelakaan teknis kapal. Hal ini tercermin dari data AAUI yang mencatat kenaikan nilai klaim dibayar dari Rp1,44 triliun pada 2024 menjadi Rp1,60 triliun pada 2025.

Baca Juga: Pasar Hati-Hati, Saham Bank Underperform

Memasuki tahun 2026, prospek asuransi marine hull diperkirakan masih akan tumbuh positif, meskipun dengan laju yang lebih moderat.

"Prospek asuransi marine hull tahun 2026 diprediksi tumbuh positif namun moderat," katanya kepada Kontan, Jumat (27/3/26).

Irvan menjelaskan, pertumbuhan tersebut akan ditopang oleh kebutuhan perlindungan kapal baru serta meningkatnya aktivitas logistik, terutama di tengah ketidakpastian geopolitik global dan ketatnya persaingan industri.

Namun demikian, sejumlah tantangan tetap membayangi kinerja sektor ini. Di antaranya adalah ketegangan keamanan di perairan internasional, fluktuasi nilai tukar mata uang, serta tekanan regulasi yang semakin kompleks.

Baca Juga: Kredit Masih Seret, Obligasi Jadi Pilihan Bank Parkir Likuiditas

Di sisi lain, konflik geopolitik yang terjadi di kawasan Timur Tengah pada awal 2026 turut memberikan dampak terhadap industri. Gangguan rantai pasok dan meningkatnya tensi perang dagang berpotensi menekan volume pelayaran global. Kondisi ini pada akhirnya dapat meningkatkan klaim serta mendorong kenaikan biaya reasuransi di tingkat global.

Merespons dinamika tersebut, AAUI menegaskan bahwa industri asuransi akan tetap mengedepankan strategi pertumbuhan yang diimbangi dengan prinsip kehati-hatian.

"Pendekatannya tetap harus seimbang antara pertumbuhan dan kehati-hatian," ujar Budi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News