KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri asuransi perjalanan masih melihat peluang pertumbuhan hingga akhir 2026 di tengah kenaikan harga avtur dan biaya penerbangan. Kondisi tersebut mendorong perusahaan asuransi untuk memperkuat distribusi, edukasi, serta menyediakan produk yang terjangkau dan relevan dengan kebutuhan masyarakat. Ketua Umum AAUI Budi Herawan mengatakan bahwa kenaikan harga avtur belum tentu mendorong perubahan strategi bisnis perusahaan asuransi secara fundamental. Namun, perusahaan perlu memperkuat produk yang sederhana, relevan, dan terjangkau.
Baca Juga: Harga Emas Turun, Ticket Size Pembiayaan Gadai Budi Gadai Tetap Stabil Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah memperluas distribusi melalui kerja sama dengan maskapai, online travel agent, dan ekosistem pariwisata. Embedded insurance juga dapat dimanfaatkan agar konsumen memperoleh perlindungan saat membeli tiket atau layanan perjalanan. Gangguan operasional penerbangan yang terjadi belakangan ini turut menjadi momentum untuk meningkatkan edukasi mengenai manfaat asuransi perjalanan. Pada awal September 2026, sebaran abu vulkanik akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau berdampak terhadap operasional penerbangan. Kementerian Perhubungan mencatat delapan bandara sempat ditutup. Berdasarkan monitoring pada 6 September, sebanyak 373 penerbangan terdampak. "Kejadian tersebut menggambarkan bahwa risiko perjalanan tidak hanya berupa kecelakaan, tetapi juga delay, pembatalan penerbangan,
missed connection maupun tambahan biaya ketika perjalanan terganggu," ungkapnya kepada Kontan, Senin (28/9/2026). Ia menambahkan, cakupan perlindungan atas pembatalan atau keterlambatan akibat cuaca, bencana alam, dan abu vulkanik bergantung pada manfaat, syarat, serta pengecualian dalam masing-masing polis.
Proyeksi Asuransi Perjalanan hingga Akhir 2026 Budi Herawan melihat peluang bisnis asuransi perjalanan hingga akhir tahun masih cukup terbuka, terutama didukung mobilitas masyarakat selama libur Natal dan Tahun Baru. Meski demikian, industri perlu mencermati sejumlah faktor yang dapat memengaruhi permintaan. Faktor tersebut mencakup harga avtur dan tiket pesawat, daya beli masyarakat, nilai tukar rupiah untuk perjalanan internasional, kondisi geopolitik, cuaca ekstrem, aktivitas gunung berapi, serta gangguan operasional penerbangan. Kenaikan harga tiket dapat menekan anggaran perjalanan. Namun, meningkatnya nilai perjalanan dan frekuensi gangguan penerbangan juga dapat mendorong kebutuhan terhadap perlindungan asuransi.
"Harapannya, kondisi tersebut dapat meningkatkan kesadaran bahwa asuransi perjalanan bukan sekadar tambahan saat membeli tiket, melainkan bagian dari pengelolaan risiko perjalanan," ujar Budi Herawan. Ia menegaskan, tantangan industri ke depan adalah menyediakan perlindungan yang terjangkau, mudah dipahami, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Baca Juga: Asuransi Asei Genjot Travel Insurance, Sasar UMKM hingga Perjalanan Internasional Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News