KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Hasil investasi asuransi syariah masih tertekan hingga semester I-2026. Menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Hasil investasi asuransi syariah tercatat sebesar Rp503 miliar pada Juni 2026, turun sekitar 49,7% secara tahunan dibandingkan posisi Juni 2025 yang mencapai sekitar Rp1 triliun. Di tengah tekanan hasil investasi tersebut, sejumlah perusahaan asuransi syariah mengandalkan instrumen pendapatan tetap untuk menjaga portofolio di tengah dinamika pasar keuangan.
Baca Juga: Kredit Citi Indonesia Tumbuh 8,05%, Pipeline Semester II Capai Rp 5 Triliun Misalnya, PT Zurich General Takaful Indonesia (Zurich Syariah) mencatatkan pertumbuhan hasil investasi sebesar 18% secara tahunan. Presiden Direktur Zurich Syariah Hilman Simanjuntak mengatakan bahwa perusahaan tidak melakukan perubahan drastis terhadap portofolio investasi mereka. "
Kinerja investasi kami dijaga melalui pengelolaan yang berhati-hati, patuh syariah, dan berfokus pada optimalisasi alokasi aset," ujarnya kepada Kontan, Kamis (20/8/26). Selain itu, mereka juga menyesuaikan durasi aset dengan pergerakan suku bunga untuk menyeimbangkan imbal hasil dan risiko di tengah volatilitas pasar. Oleh karena itu, hingga saat ini kinerja investasi Zurich Syariah masih didorong oleh aset pendapatan tetap, khususnya Surat Berharga Syariah Negara (SBSN). Namun, Hilman menyebut bahwa perusahaan juga melakukan diversifikasi terukur ke instrumen lain, seperti deposito syariah dan obligasi korporasi syariah. Strategi serupa dilakukan juga oleh PT Asuransi Jasindo Syariah atau Jasindo Syariah yang juga menerapkan prinsip kehati-hatian, kepatuhan regulasi, dan menjaga keselarasan antara aset dan liabilitas perusahaan untuk menjaga portofolio investasi mereka. Sekretaris Perusahaan Jasindo Syariah, Wahyudin menegaskan bahwa pengelolaan investasi perseroan tidak sekadar diarahkan pada optimalisasi imbal hasil saja. Melainkan, tetap menjaga kualitas aset investasi guna mendukung operasional kebutuhan operasional dan pemenuhan kewajiban perusahaan secara berkelanjutan. "
Perseroan menerapkan keseimbangan antara potensi imbal hasil dan likuiditas melalui penempatan dana pada instrumen yang memiliki fundamental kuat." ujarnya kepada Kontan. Sejalan dengan itu, instrumen yang bisa dimanfaatkan adalah deposito syariah dan sukuk. Menurutnya, di antara instrumen tersebut sukuk korporasi menjadi salah satu pilihan karena berpotensi memberikan imbal hasil yang kompetitif sekaligus tetap sejalan dengan prinsip investasi syariah yang diterapkan perseroan. Senada, Pengamat Asuransi Syariah Wahyudin Rahma juga berpendapat bahwa instrumen pendapatan tetap berbasis syariah, terutama sukuk negara atau SBSN masih jadi pilihan utama dalam berinvestasi. Ini karena instrumen tersebut relatif stabil, bisa memberikan imbal hasil yang menarik, dan sesuai dengan karakteristik liabilitas industri asuransi syariah. Ke depannya, kedua perusahaan masih melihat peluang perbaikan kinerja investasi hingga akhir tahun. Zurich Syariah melihat peluang tersebut timbul seiring potensi meredanya volatilitas pasar keuangan dan terjaganya kondisi makroekonomi.
Sementara itu, Jasindo Syariah menilai prospek investasi tetap positif dengan mempertimbangkan membaiknya fundamental ekonomi domestik, dipertahankannya peringkat Indonesia pada level investment grade, serta meningkatnya optimisme terhadap prospek perekonomian nasional. Meski begitu, masih ada sejumlah hal yang patut dicermati industri asuransi syariah dalam menjaga kinerja investasi di paruh kedua tahun 2026. Mulai dari dinamika global, perkembangan geopolitik, hingga perkembangan makroekonomi. Dengan mencermati hal-hal tersebut, diharapkan para pemain di industri asuransi syariah bisa menjaga ketahanan dan kualitas portofolio investasi mereka secara berkelanjutan.
Baca Juga: BRI Finance Catat Pertumbuhan Laba 89% pada Semester I-2026 Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News