KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja asuransi syariah kembali membaik. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kontribusi asuransi syariah mencapai Rp9,15 triliun per Mei 2026, angka ini naik jika dibandingkan posisinya di bulan April 2026 yang sebesar Rp7,35 triliun. Selain itu, OJK juga membukukan aset asuransi jiwa syariah sebesar Rp37,72 triliun pada Mei 2026, naik dibandingkan periode Mei 2025 senilai Rp34,48 triliun. Sejumlah pemain asuransi jiwa syariah menanggapi
rebound ini sebagai pemulihan kinerja yang positif.
Baca Juga: Harga BBM Naik, Adira Finance Prediksi Minat Kendaraan Listrik Meningkat Direktur Utama PT Asuransi Allianz Life Syariah Indonesia (Allianz Syariah) Elmie A. Najas mengatakan bahwa tekanan terhadap bisnis asuransi, khususnya akibat peningkatan inflasi medis dan penyesuaian yang dilakukan oleh banyak pelaku industri turut memengaruhi pertumbuhan kontribusi termasuk di segmen syariah. "Kami melihat pergerakan kontribusi pada paruh pertama 2026 masih dipengaruhi oleh dinamika industri secara keseluruhan," ujarnya kepada Kontan, Kamis (16/7/26). Kendati begitu, ia menilai permintaan terhadap solusi perlindungan syariah masih relatif tinggi meski masyarakat juga makin selektif dalam mengambil keputusan finansial di tengah kondisi ekonomi saat ini. Selain itu,
Chief Customer Marketing PT Prudential Sharia Life Assurance (Prudential Syariah) Vivin Arbianti Gautama menilai pemulihan ini didorong oleh kombinasi faktor musiman dan menguatnya permintaan masyarakat terhadap produk perlindungan berbasis syariah. Menurutnya, normalisasi siklus bisnis setelah periode April membuat aktivitas ekonomi dan transaksi rumah tangga kembali normal sehingga produksi bisnis baru dan pembayaran kontibusi turut menguat. Selain itu, berakhirnya momentum Ramadan dan Idulfitri mendorong keluarga kembali memprioritaskan perencanaan keuangan jangka panjang, termasuk untuk memiliki asuransi. "Selesainya musim liburan besar mengembalikan prioritas keuangan keluarga ke perencanaan jangka panjang," ujarnya pada Senin, (13/7/26).
Rebound yang terjadi pada bulan Mei ini dinilai bukan sekadar faktor musiman karena menunjukkan kebutuhan perlindungan syariah di Indonesia masih tinggi seiring dengan meningkatnya kesadaran akan kebutuhan proteksi kesehatan.
Baca Juga: Perkuat Mitigasi Risiko Dunia Usaha, Askrindo Gandeng Apindo Kalimantan Utara Apalagi, literasi keuangan syariah terus mencatat tren pertumbuhan yang menunjukkan minat masyarakat terhadap solusi syariah juga ikut meningkat. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News