Asuransi Umum Bidik Pertumbuhan Premi Konservatif pada 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Memasuki 2026 perusahaan asuransi umum mematok target pertumbuhan premi dengan kencenderungan konservatif, seiring meningkatnya kompleksitas risiko yang dihadapi industri asuransi.

Salah satu pelaku industri asuransi umum yakni PT Asuransi Digital Bersama Tbk (YOII) menargetkan pertumbuhan premi yang moderat dan berkelanjutan pada 2026, dengan tetap mengedepankan kualitas pertumbuhan dan prinsip kehati-hatian.

Corporate Secretary Asuransi Digital Bersama (YOII) Rahmat Dwiyanto mengatakan, perusahaan berharap dapat mencatatkan pertumbuhan premi positif dibandingkan realisasi tahun 2025, seiring dengan fokus perusahaan pada penguatan fundamental bisnis.


Baca Juga: BP Tapera Salurkan Dana FLPP Senilai Rp 34,64 Triliun Sepanjang Tahun 2025

"Kami menargetkan pertumbuhan premi yang moderat dan berkelanjutan, dengan tetap mengedepankan kualitas pertumbuhan dan kehati-hatian. Perusahaan berharap dapat mencatatkan pertumbuhan premi positif dibandingkan realisasi 2025," kata Rahmat kepada Kontan, Jumat (26/12/2025).

Untuk mendorong kinerja premi, YOII akan mengandalkan lini asuransi gaya hidup (lifestyle insurance) yang dinilai memiliki potensi sejalan dengan kebutuhan masyarakat. Produk yang menjadi fokus antara lain asuransi kendaraan bermotor, asuransi perjalanan, asuransi harta benda atau properti, serta asuransi aneka.

Namun demikian, perusahaan juga mencermati sejumlah tantangan, terutama dalam menjaga keseimbangan antara daya saing produk, kualitas underwriting, dan pengelolaan risiko di tengah persaingan industri yang semakin ketat. Adapun strategi yang disiapkan YOII pada 2026 meliputi penguatan selektivitas underwriting, optimalisasi saluran distribusi yang telah ada, serta peningkatan efisiensi operasional. 

Selain itu, YOII akan terus melakukan evaluasi portofolio bisnis, pengembangan produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar, serta penguatan manajemen risiko agar pertumbuhan dapat dicapai secara sehat dan berkelanjutan. Hingga akhir November 2025, YOII membukukan pendapatan premi sekitar Rp 631 miliar, tumbuh 112% secara tahunan. 

PT Asuransi Jasa Indonesia atau Jasindo juga membidik pertumbuhan pendapatan premi yang terukur pada 2026, seiring upaya perusahaan memperkuat fondasi bisnis secara berkelanjutan dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian.

Baca Juga: Pemangkasan Suku Bunga Buka Peluang Perbaikan Kinerja Pergadaian pada 2026

Sekretaris Perusahaan Jasindo, Brellian Gema Widayana mengatakan, target tersebut disusun dengan mempertimbangkan realisasi kinerja sepanjang 2025, perkembangan kondisi ekonomi, serta arah strategi perusahaan ke depan.

“Memasuki 2026, Jasindo menetapkan target pertumbuhan premi yang positif dan terukur dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian,” ujar Brellian kepada Kontan, Jumat (26/12/2025).

Sebagai informasi, sebelumnya Jasindo menargetkan pendapatan premi sebesar Rp 5,79 triliun untuk sepanjang tahun 2025. Untuk mendukung pencapaian target tahun depan atau 2026, Jasindo mengandalkan lini bisnis asuransi harta benda sebagai salah satu kontributor utama premi.

Segmen ini mencakup perlindungan aset properti, industri, energi, hingga infrastruktur strategis. Selain itu, Jasindo juga menjalankan berbagai program penugasan pemerintah, antara lain Asuransi Barang Milik Negara (BMN) serta perlindungan di sektor pertanian padi dan ternak sapi.

Dari sisi komersial, asuransi energi, baik onshore maupun offshore, serta asuransi rekayasa ditargetkan menjadi penggerak utama kinerja premi pada 2026.

“Di sisi lain, kami menyadari masih terdapat tantangan dalam meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya perlindungan aset di tengah dinamika risiko yang semakin kompleks,” jelasnya.

Baca Juga: Saham Perbankan Diproyeksikan Bangkit pada 2026, Ini Sentimen Pemicunya

Untuk itu, Jasindo akan melanjutkan perluasan edukasi publik sekaligus memperkuat kerja sama dengan mitra distribusi. Langkah ini diharapkan dapat memperluas jangkauan layanan perusahaan serta mendorong pertumbuhan premi yang berkelanjutan sepanjang 2026.

Berdasarkan laporan keuangan Jasindo, hingga November 2025, jumlah pendapatan premi bruto tercatat mencapai Rp 3,32 triliun. Capaian tersebut tumbuh sekitar 1,8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 3,26 triliun.

Pengamat asuransi Irvan Rahardjo memproyeksikan kinerja industri asuransi umum pada 2026 belum menunjukkan perbaikan signifikan. Pertumbuhan sektor ini masih akan dibayangi oleh perlambatan ekonomi nasional serta tekanan kualitas kredit.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diproyeksikan stagnan di kisaran 5% pada 2026, sesuai proyeksi Bank Dunia, akan membatasi ruang ekspansi industri asuransi umum. Angka tersebut berada di level yang sama dengan proyeksi pertumbuhan hingga akhir 2025.

“Dengan  demikian  pertumbuhan  asuransi  umum  tahun  depan tidak lebih baik dari tahun 2025 ini," kata Irvan kepada Kontan, Minggu (28/12/2025).

Ia menambahkan, tantangan utama datang dari rendahnya daya beli masyarakat akibat terbatasnya penciptaan lapangan kerja serta masih tingginya angka pemutusan hubungan kerja (PHK). Kondisi ini berpotensi menekan permintaan produk asuransi secara keseluruhan.

Baca Juga: BSI Optimistis Ekonomi RI Tangguh pada Kuartal I-2026

Di sisi lain, tingginya klaim asuransi kredit menjadi sinyal memburuknya kualitas kredit. Menurut Irvan, kondisi tersebut tidak terlepas dari praktik penetapan harga premi yang belum sepenuhnya mencerminkan tingkat risiko.

“Klaim asuransi kredit yang tinggi mengindikasikan kualitas kredit yang rendah, sementara pricing belum sesuai dengan risiko yang ditanggung,” kata dia.

Irvan menyebut, lini usaha utama yang masih menjadi andalan industri asuransi umum meliputi asuransi properti, asuransi kendaraan bermotor, dan asuransi kredit. Namun, masing-masing lini tetap menghadapi tantangan, terutama praktik underpricing yang masih marak di industri.

Untuk menjaga keberlanjutan bisnis, Irvan menilai pelaku industri perlu memperkuat strategi melalui peningkatan sinergi dan kolaborasi dengan sektor perbankan. Salah satu langkah yang dapat ditempuh adalah penerapan mekanisme berbagi risiko atau burden sharing antara bank dan perusahaan asuransi.

“Sudah bukan waktunya lagi perbankan menjadikan asuransi hanya sebagai sumber fee based income. Perbankan juga perlu mempertimbangkan peran asuransi sebagai penanggung risiko,” jelasnya.

Selanjutnya: Keringanan Hukuman Pidana Pajak Jika Utang Lunas

Menarik Dibaca: Mengawali 2026, Story (IP) Memimpin Kripto Top Gainers 24 Jam

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News