Asuransi Umum Sebut Prospek Asuransi Kendaraan Listrik Masih Cerah ke Depannya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah perusahaan asuransi umum menilai prospek asuransi kendaraan listrik masih cerah ke depannya. PT Great Eastern General Insurance Indonesia (GEGI) misalnya, menyebut prospek itu tak terlepas dari pangsa pasar kendaraan listrik terus meningkat dari tahun ke tahun. 

Dengan demikian, Marketing Director Great Eastern General Insurance Indonesia, Linggawati Tok mengatakan hal tersebut dapat berdampak terhadap meningkatnya penetrasi asuransi kendaraan listrik.

"Dengan demikian, market bisa memiliki data kendaraan listrik yang cukup ke depannya. Ditambah, membuat peluang produk yang lebih khusus, seperti proteksi baterai, charging equipment, dan embedded insurance yang terintegrasi dengan ekosistem kendaraan listrik," ungkap Linggawati kepada Kontan, Rabu (29/7/2026).


Terkait kinerja, Linggawati menyampaikan kinerja premi asuransi kendaraan listrik di Great Eastern General Insurance Indonesia meningkat sebesar 136% hingga Juni 2026, jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Senada, PT Asuransi Digital Bersama Tbk (YOII) memandang prospek asuransi kendaraan listrik cukup menjanjikan ke depannya. Corporate Secretary PT Asuransi Digital Bersama Tbk (YOII) Rahmat Dwiyanto menyebut hal itu tak terlepas dari meningkatnya penetrasi kendaraan listrik di Indonesia. 

Baca Juga: OJK Kaji Aturan Tarif Premi Asuransi Kendaraan Listrik, Fokus Bahas Pengumpulan Data

Seiring kondisi tersebut, dia bilang YOII akan terus memantau perkembangan pasar dan peluang pengembangan produk yang sesuai dengan karakteristik risiko kendaraan listrik.

Sejalan dengan strategi perusahaan sebagai penyedia asuransi gaya hidup, Rahmat mengatakan YOII akan terus mengembangkan produk yang relevan dengan kebutuhan masyarakat melalui pemanfaatan teknologi dan analisis data agar keputusan bisnis dapat dilakukan secara lebih cepat, tepat, dan berbasis kebutuhan pasar. 

"Apabila ekosistem kendaraan listrik makin matang, kami melihat peluang untuk menghadirkan solusi perlindungan yang lebih spesifik bagi segmen tersebut," ucap Rahmat kepada Kontan, Rabu (29/7/2026).

Lebih lanjut, Rahmat mengatakan kinerja asuransi kendaraan listrik di YOII saat ini masih terbatas. Sebab, Rahmat bilang portofolio asuransi kendaraan bermotor perusahaan masih di bawah 5% dari total premi sepanjang Semester I-2026, karena YOII baru kembali memasarkan produk tersebut pada awal 2025. 

"Selain itu, lebih dari 90% portofolio kendaraan yang kami tanggung masih didominasi kendaraan berbahan bakar konvensional dan hybrid, sehingga kontribusi kendaraan listrik terhadap premi perusahaan masih belum signifikan," tuturnya.

Berdasarkan laporan keuangan perusahaan di situs resmi, YOII mencatatkan premi bruto sebesar Rp 211,76 miliar pada Semester I-2026. Nilai klaim yang dibukukan mencapai Rp 56,45 miliar. 

Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) juga menilai prospek asuransi kendaraan listrik cukup menjanjikan ke depannya. Ketua Umum AAUI, Budi Herawan mengatakan hal itu sejalan dengan makin pesatnya perkembangan ekosistem kendaraan elektrifikasi di Indonesia. 

Selain meningkatnya penjualan kendaraan, Budi menerangkan pemerintah juga terus mendorong pengembangan industri kendaraan listrik melalui berbagai kebijakan, sedangkan produsen otomotif makin banyak menghadirkan model baru di pasar Indonesia. 

Baca Juga: Penjualan Kendaraan Listrik Meningkat, Begini Dampaknya ke Perusahaan Asuransi

"Kondisi tersebut akan memperluas basis risiko yang membutuhkan perlindungan asuransi," katanya kepada Kontan, Jumat (31/7/2026).

Ke depannya, AAUI melihat produk asuransi kendaraan listrik akan berkembang makin spesifik. Budi bilang keberadaan produk itu tidak hanya memberikan perlindungan terhadap kendaraan secara umum, tetapi juga mengakomodasi kebutuhan perlindungan atas baterai, peralatan pengisian daya (charging equipment), layanan bantuan darurat (roadside assistance), hingga berbagai manfaat tambahan lainnya sesuai perkembangan teknologi dan kebutuhan konsumen.

Pada saat yang sama, Budi menyebut perusahaan asuransi juga akan makin mengoptimalkan pemanfaatan data klaim dan pengalaman underwriting. 

"Dengan demikian, tarif premi maupun cakupan perlindungan dapat makin akurat," ujarnya.

Budi optimistis bahwa seiring makin matangnya ekosistem kendaraan listrik, didukung kolaborasi antara perusahaan asuransi, regulator, produsen kendaraan, perusahaan pembiayaan, bengkel, dan penyedia infrastruktur pengisian daya, penetrasi asuransi kendaraan listrik di Indonesia akan terus meningkat dan mampu memberikan perlindungan yang lebih komprehensif kepada masyarakat. 

Sementara itu, Pengamat Asuransi, Wahyudin Rahman menilai prospek lini asuransi kendaraan listrik akan positif ke depannya. Dia bahkan memperkirakan produk asuransi kendaraan listrik akan makin spesifik.

Baca Juga: AAUI: Peningkatan Penjualan Kendaraan Listrik Bisa Berdampak Positif bagi Asuransi

"Hal itu mencakup perlindungan baterai, charging equipment, risiko kebakaran akibat baterai, bantuan darurat, hingga layanan berbasis telematika," ujarnya kepada Kontan, Senin (3/8/2026).

Seiring meningkatnya data klaim dan ekosistem kendaraan listrik, Wahyudin memproyeksikan tarif dan cakupan perlindungan juga akan makin kompetitif dan sesuai kebutuhan pasar.

Wahyudin juga menilai kenaikan pangsa pasar mobil listrik bekalangan ini dapat menjadi angin segar bagi kinerja asuransi kendaraan listrik. Dia bilang kondisi tersebut berpotensi meningkatkan kinerja premi asuransi kendaraan listrik, karena jumlah objek pertanggungan bertambah. 

"Namun, pertumbuhan premi belum tentu sebanding dengan penjualan, karena kendaraan belum tentu diasuransikan jika beli cash. Selain itu, profil risiko kendaraan listrik juga masih berkembang," kata Wahyudin.

Wahyudin menerangkan ada sejumlah tantangan utama bagi industri asuransi dalam menyediakan produk asuransi kendaraan listrik. Tantangannya, meliputi basis standar yang belum ada, keterbatasan data klaim, biaya perbaikan baterai yang tinggi, minimnya bengkel dan teknisi tersertifikasi, serta nilai suku cadang yang mahal. Akibatnya, dia bilang sebagian risiko belum dapat dijamin secara optimal atau preminya masih relatif tinggi. 

Baca Juga: OJK Soroti Tantangan Asuransi Kendaraan Listrik

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News