AS–Venezuela Sepakat Ekspor Minyak US$2 Miliar, Pasokan China Terancam



KONTAN.CO.ID - Venezuela dan Amerika Serikat mencapai kesepakatan ekspor minyak mentah Venezuela ke AS senilai hingga US$2 miliar, sebagaimana diumumkan Presiden AS Donald Trump pada Selasa (6/1/2026).

Kesepakatan ini dinilai menjadi langkah strategis yang mengalihkan pasokan minyak Venezuela dari China, sekaligus membantu Caracas menghindari pemangkasan produksi yang lebih dalam.

Trump menyebut perjanjian tersebut sebagai hasil negosiasi utama yang menekan Venezuela agar membuka akses lebih luas bagi perusahaan minyak AS.


Baca Juga: Dolar Bergerak Terbatas Rabu (7/1) Pagi, Pelaku Pasar Menanti Data Ekonomi AS

Ia sebelumnya menuntut agar pemerintahan sementara Venezuela memberikan “akses penuh” kepada Amerika Serikat dan perusahaan swasta terhadap industri migas negara tersebut.

Venezuela saat ini memiliki jutaan barel minyak yang tertahan di kapal tanker dan fasilitas penyimpanan akibat blokade ekspor yang diberlakukan AS sejak pertengahan Desember.

Blokade tersebut merupakan bagian dari tekanan Washington terhadap pemerintahan Presiden Nicolas Maduro, yang berpuncak pada penangkapan Maduro oleh pasukan AS akhir pekan lalu.

Pemerintah Venezuela menyebut penangkapan itu sebagai penculikan dan menuding AS berupaya merebut cadangan minyak Venezuela.

Trump mengatakan Venezuela akan “menyerahkan” sekitar 30 juta hingga 50 juta barel minyak yang terkena sanksi kepada AS. Minyak tersebut akan dijual pada harga pasar, dengan hasil penjualan dikendalikan langsung oleh pemerintah AS.

“Minyak ini akan dijual dengan harga pasar, dan dana hasil penjualannya akan dikelola oleh saya sebagai Presiden Amerika Serikat, untuk memastikan digunakan demi kepentingan rakyat Venezuela dan Amerika Serikat,” tulis Trump di media sosial.

Baca Juga: Bursa Australia Menguat Rabu (7/1), Sektor Pertambangan Memimpin Reli

Menteri Energi AS Chris Wright ditunjuk untuk mengeksekusi kesepakatan ini. Minyak Venezuela akan diambil langsung dari kapal dan dikirim ke pelabuhan-pelabuhan AS.

Untuk tahap awal, pasokan tersebut kemungkinan dialihkan dari kargo yang sebelumnya ditujukan ke China, yang selama satu dekade terakhir menjadi pembeli utama minyak Venezuela, terutama sejak sanksi AS diberlakukan pada 2020.

Harga minyak mentah AS turun lebih dari 1,5% setelah pengumuman tersebut, seiring ekspektasi meningkatnya pasokan minyak Venezuela ke pasar AS.

Chevron Kuasai Aliran Minyak Venezuela ke AS

Saat ini, aliran minyak Venezuela ke AS sepenuhnya dikendalikan oleh Chevron, mitra utama PDVSA, melalui izin khusus dari pemerintah AS.

Chevron diketahui mengekspor sekitar 100.000–150.000 barel per hari minyak Venezuela ke AS dan menjadi satu-satunya perusahaan yang tetap melakukan pengapalan tanpa gangguan dalam beberapa pekan terakhir.

Baca Juga: Neymar Perpanjang Kontrak Bersama Santos hingga 2026, Bidik Kembali ke Piala Dunia

Belum jelas apakah Venezuela akan memperoleh akses langsung ke hasil penjualan minyak tersebut. Sanksi AS masih membuat PDVSA terisolasi dari sistem keuangan global, dengan rekening bank dibekukan dan transaksi dolar AS diblokir.

Venezuela menjual minyak andalannya, Merey, dengan diskon sekitar US$22 per barel di bawah harga Brent untuk pengiriman di pelabuhan domestik, sehingga nilai kesepakatan ini diperkirakan mencapai US$1,9 miliar.

Pemerintahan sementara Presiden Delcy Rodriguez yang juga berada di bawah sanksi AS sejak 2018 belum memberikan komentar resmi terkait kesepakatan tersebut.

Opsi Lelang hingga Cadangan Strategis AS

Pejabat Venezuela dan AS juga membahas mekanisme penjualan minyak, termasuk opsi lelang bagi pembeli AS serta penerbitan lisensi baru untuk mitra bisnis PDVSA.

Lisensi serupa sebelumnya memungkinkan perusahaan seperti Chevron, Reliance (India), CNPC (China), serta Eni dan Repsol (Eropa) mengakses minyak Venezuela.

Selain itu, kedua pihak turut mendiskusikan kemungkinan penggunaan minyak Venezuela untuk Strategic Petroleum Reserve (SPR) AS di masa depan, meski Trump belum menyinggung opsi ini secara terbuka.

Baca Juga: Pertumbuhan Sektor Jasa Jepang Melambat pada Desember, PMI Tunjukkan Tekanan Biaya

Menteri Dalam Negeri AS Doug Burgum menyebut peningkatan aliran minyak berat Venezuela ke kawasan Teluk AS sebagai “kabar baik” bagi keamanan lapangan kerja, harga bensin, dan pemulihan ekonomi Venezuela.

“Dengan teknologi dan kemitraan Amerika, Venezuela memiliki peluang untuk membangun kembali ekonominya,” ujar Burgum.

Sebelum sanksi diberlakukan, kilang AS di Gulf Coast mengimpor sekitar 500.000 barel per hari minyak Venezuela.

Saat ini, PDVSA terpaksa memangkas produksi karena keterbatasan kapasitas penyimpanan. Tanpa jalur ekspor baru, pemangkasan produksi lebih lanjut sulit dihindari.

Selanjutnya: Prakiraan Cuaca Surabaya dan Wilayah Jawa Timur Hari Ini Rabu (7/1/2026)

Menarik Dibaca: Promo Alfamidi Ngartis Periode 1-15 Januari 2026, Beli 1 Gratis 1 dan Beli 2 Gratis 1