Aswata luncurkan kontra bank garansi



JAKARTA. Kendati ekonomi tahun depan sepertinya rada meredup, usaha penjaminan proyek masih memiliki potensi besar. Tengok saja, sejumlah perusahaan asuransi memperkuat bisnis surety bond ini.

Salah satunya, Asuransi Wahana Tata (Aswata), yang menggandeng Bank BNI, menyediakan produk kontra bank garansi. M. Th. Ratnawati, Direktur Pemasaran Asuransi Wahana Tata, menjelaskan sebelumnya sudah beberapa kali pihaknya bekerjasama dengan BNI. "Namun, ini pertama kali kami bekerjsama menerbitkan produk kontra bank garansi," kata dia, Senin (9/12).

Kerjasama ini diharapkan memudahkan nasabah mendapatkan kepastian kelangsungan proyek. Pengusaha bisa meminta bank garansi dari BNI dan mendapat penjaminan kontra bank garansi dari Aswata. "Dari sisi biaya, lebih efisien dan proses lebih cepat," kata Ratnawati. Produk kontra bank garansi ini bisa digunakan untuk menjamin mulai dari pasokan pengadaan barang hingga keseluruhan kelangsungan proyek konstruksi.


Tahun depan, Aswata menargetkan penjaminan sekitar Rp 5 miliar, khusus dengan Bank BNI. Meski menggenjot bisnis baru ini, Aswata akan selektif memilih nasabah.

Untuk mendorong pertumbuhan tahun depan, Aswata berencana menerbitkan produk baru dan memperluas jalur distribusi. Kerjasama dengan BNI merupakan salah satu cara Aswata memperluas jalur distribusi lewat bank atau bancassurance.

Aswata, yang juga menawarkan asuransi kendaraan bermotor, kebakaran, hingga marine cargo, berencana menggandeng bank lain tahun depan. Selain itu, Aswata sedang memantapkan jalur telemarketing, untuk melengkapi jalur agen dan broker.

Tahun depan, dengan perhelatan pemilihan umum, Aswata menargetkan pertumbuhan konservatif. "Kami tidak memasang target tinggi untuk tahun depan, kemungkinan 10%," kata dia.

Tahun ini, Aswata menargetkan pendapatan premi Rp 1,8 triliun, dan tahun depan Rp 2 triliun. "Kami optimistis mencapai target tahun ini," kata Ratnawati.

Tahun depan, unit syariah Aswata juga akan beroperasi lantaran sudah mengantongi izin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sejak Oktober lalu. Divisi dengan nama Aswata Tafakul ini memiliki modal awal Rp 25 miliar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Sanny Cicilia