JAKARTA. Keoknya nilai rupiah membuat Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) menaikkan lagi harga jual mobilnya pada bulan ini. Adapun besaran kenaikan harga jualnya 2% sampai 5%. Salah satu ATPM yang menaikkan harga jual mobilnya itu adalah Honda Prospect Motor (HPM). Honda menaikkan harga jual mobil untuk semua tipe mobil yang dimilikinya. Kenaikan itu pun sudah berlangsung selama lima kali sejak November 2008. “Jadi hampir saban bulan kami menaikkan harga jual mobil. Total kenaikan harga jualnya itu sekitar 15%- 20%,” kata Marketing and After Sales Service Director HPM, Jonfis Fandy, Jumat (10/4 di Jakarta. Salah satu alasan Honda tetap menaikkan harga adalah cost produksi yang kian membengkak. Saat ini, biaya produksi mereka masih belum tercover dengan baik. Pasalnya, pelemahan terhadap nilai tukar rupiah terhadap dolar terus berlangsung. “Kami masih harus menanggung kenaikan biaya produksi akibat pelemahan ini sekitar 30%,” tandasnya. Bahkan dengan kurs dolar yang sekarang ini sekitar Rp 11.160 juga masih belum menutupi cost produksi ATPM. “Dengan kenaikan yang sekarang ini saja, selisih biaya produksinya masih sekitar 15% lagi. Makanya kami berencana untuk tetap menaikkan harga jual pada bulan depan,” tandasnya.
ATPM Ramai-Ramai Naikkan Harga Jual Mobil
JAKARTA. Keoknya nilai rupiah membuat Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) menaikkan lagi harga jual mobilnya pada bulan ini. Adapun besaran kenaikan harga jualnya 2% sampai 5%. Salah satu ATPM yang menaikkan harga jual mobilnya itu adalah Honda Prospect Motor (HPM). Honda menaikkan harga jual mobil untuk semua tipe mobil yang dimilikinya. Kenaikan itu pun sudah berlangsung selama lima kali sejak November 2008. “Jadi hampir saban bulan kami menaikkan harga jual mobil. Total kenaikan harga jualnya itu sekitar 15%- 20%,” kata Marketing and After Sales Service Director HPM, Jonfis Fandy, Jumat (10/4 di Jakarta. Salah satu alasan Honda tetap menaikkan harga adalah cost produksi yang kian membengkak. Saat ini, biaya produksi mereka masih belum tercover dengan baik. Pasalnya, pelemahan terhadap nilai tukar rupiah terhadap dolar terus berlangsung. “Kami masih harus menanggung kenaikan biaya produksi akibat pelemahan ini sekitar 30%,” tandasnya. Bahkan dengan kurs dolar yang sekarang ini sekitar Rp 11.160 juga masih belum menutupi cost produksi ATPM. “Dengan kenaikan yang sekarang ini saja, selisih biaya produksinya masih sekitar 15% lagi. Makanya kami berencana untuk tetap menaikkan harga jual pada bulan depan,” tandasnya.