KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Dolar Australia (AUD) dan dolar Selandia Baru (NZD) masih berpeluang pulih hingga akhir 2026, meski penguatan dolar Amerika Serikat (AS) berpotensi membatasi kenaikan kedua mata uang tersebut. Pergerakan selanjutnya akan dipengaruhi oleh perkembangan inflasi AS, kebijakan bank sentral, serta kemampuan AUD dan NZD bertahan di level teknikal penting. Berdasarkan data Trading Economics pada Selasa (13/10/2026) pukul 18.23 WIB, pasangan AUD/USD berada di level 0,697 atau melemah 0,25% secara harian. Meski terkoreksi, pasangan mata uang ini masih menguat 2,33% dalam sebulan terakhir. Sementara itu, NZD/USD berada di level 0,561, terkoreksi 0,44% secara harian. Dalam sebulan terakhir, pasangan mata uang ini masih mencatatkan penguatan sebesar 2,98%.
Analis PT Finex Bisnis Solusi Futures, Brahmantya Himawan menyebut, AUD dan NZD masih memiliki peluang pemulihan hingga akhir tahun. Namun, penguatan keduanya diperkirakan berlangsung selektif di tengah tekanan dari dolar AS.
Baca Juga: Prospek AUD dan NZD Dibayangi Efek dari Ketergantungan Ekspor dengan China “Menurut saya, AUD dan NZD masih memiliki peluang pemulihan hingga akhir tahun, tetapi penguatannya cenderung selektif dan tidak berlangsung secara linear. Sementara CAD masih berpotensi menghadapi tekanan apabila ekonomi Kanada belum menunjukkan perbaikan signifikan,” ujar Brahmantya kepada Kontan, Selasa (13/10/2026). Brahmantya memproyeksikan AUD/USD bergerak di kisaran 0,6800–0,7200 hingga akhir 2026. Adapun NZD/USD diperkirakan berada pada rentang 0,5500–0,5800. Dari sisi teknikal, AUD/USD perlu menjaga area support 0,6890–0,6865. Jika menembus ke bawah area tersebut, support berikutnya berada di sekitar 0,6830. Sebaliknya, level 0,7000 menjadi resistance terdekat yang perlu dilewati untuk membuka ruang penguatan menuju 0,7088 hingga 0,7200. Untuk NZD/USD, Brahmantya mencermati support di 0,5500 dan resistance pada rentang 0,5800–0,5900. Pergerakan di antara level tersebut dapat menjadi acuan investor dalam menilai keberlanjutan pemulihan dolar Selandia Baru. Selain faktor teknikal, arah dolar AS juga menjadi penentu pergerakan kedua mata uang. Kenaikan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah berpotensi meningkatkan risiko inflasi global dan memperkuat ekspektasi kebijakan moneter ketat dari Federal Reserve.
Baca Juga: Nilai Tukar AUD/IDR Melonjak 12,59% pada September 2026, Intip Pemicu Utamanya Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo mengatakan, arah mata uang berbasis komoditas juga perlu dilihat dari prospek kebijakan suku bunga masing-masing negara, terutama ketika dolar AS masih mendapat dukungan dari sentimen global.
“Menurut saya, skenario dasarnya adalah AUD relatif lebih kuat selama RBA tetap lebih hawkish, NZD sangat bergantung pada keputusan 28 Oktober, dan CAD bergantung pada inflasi serta arah dolar AS,” ujar Sutopo. Maka, investor perlu mencermati perkembangan inflasi AS, arah kebijakan The Fed, indeks dolar AS, serta keputusan bank sentral Australia dan Selandia Baru. Jika tekanan inflasi AS membuat The Fed mempertahankan sikap hawkish, ruang penguatan AUD dan NZD berpotensi tetap terbatas meski keduanya masih memiliki peluang pemulihan hingga akhir tahun.
Baca Juga: Beda Arah Kebijakan Bank Sentral, Begini Prospek Valas Komoditas AUD, NZD dan CAD Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News