KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Allianz Global Investors Asset Management Indonesia (AllianzGI Indonesia) mencatatkan dana kelolaan atau asset under management (AUM) sebesar Rp 35,97 triliun per akhir September 2026. Portofolio dana kelolaan tersebut didominasi oleh reksadana pendapatan tetap dengan nilai Rp 17,13 triliun atau setara 48% dari total dana kelolaan. Reksadana saham menjadi kelas aset terbesar kedua dengan dana kelolaan mencapai Rp 10,47 triliun atau sekitar 29%. Sementara itu, reksadana terproteksi dan reksadana campuran masing-masing mencatatkan dana kelolaan sebesar Rp 3,71 triliun dan Rp 3,48 triliun, dengan kontribusi masing-masing sekitar 10%.
Baca Juga: Harga Kripto Berpeluang Pulih, Pasar Waspadai Dampak Peretasan Binance Adapun reksadana pasar uang memiliki porsi terkecil, yakni Rp 1,17 triliun atau sekitar 3% dari total dana kelolaan. President Director at Allianz Global Investors Indonesia Aliyahdin (Adi) Saugi menjelaskan, kinerja setiap kelas aset reksadana memiliki tolok ukur atau brenchmark masing-masing. Meski demikian, di tengah sentimen internal maupun eksternal yang sedang bergejolak saat ini, hampir seluruh produk reksadana terdampak kondisi pasar. Memang, pasar keuangan Indonesia belakangan ini dihantam oleh sejumlah sentimen. Dari eksternal, kenaikan harga minyak jadi penekan. Sementara di internal, ancaman MCSI yang berpotemsi men-downgrade pasar saham domestik ke standalone market turut jadi tantangan. Tak ketinggalan, melemahnya rupiah bahkan ke level mendekati Rp 18.200 per dolar AS baru-baru ini juga mengerek imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) ke level tinggi. Saat ini saja, yield SBN tenor 10 tahun sudah di level 7,64%. Tentunya, sentimen-sentimen di atas turut berdampak ke kinerja return sejumlah reksadana, termasuk di AllianzGI sendiri. “Namun, jika dilihat berdasarkan profil risiko, reksadana saham menjadi produk yang paling terdampak. Dampaknya juga terjadi hampir di seluruh sektor dan berbagai ukuran perusahaan. Bahkan, saham perusahaan dengan fundamental bagus ikut mengalami penurunan,” ujar Adi dalam acara Media Roundtable AllianzGI di Senayan, Senin (2/11/2026).
Baca Juga: Rupiah Ditutup Melemah Rp 18.156 Per Dolar AS Hari Ini (2/11), Asia Terkoreksi Kendati begitu, Adi bilang, sebagai manager investasi pihaknya tak bisa mengambil keputusan dan mengubah strategi investasi hanya berdasarkan pergerakan jangka pendek. Untuk pemilihan underlying asset reksadana sahamnya, AllianzGI memperhatikan fundamental perusahan terutama perusahaan yang memiliki arus kas kuat, tidak terlalu sensitif terhadap perubahan suku bunga maupun nilai tukar, serta memiliki neraca keuangan yang sehat. “Saat ini, ada sejumlah saham yang harganya sudah lebih menarik dan menawarkan dividen cukup baik. Hal tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam strategi investasi saham,” lanjutnya. Untuk reksadana obligasi, pihaknya mengambil pendekatan yang lebih konservatif, dengan memilih obligasi dengan durasi menengah dan akan masuk apabila valuasinya lebih menarik dibandingkan instrumen jangka pendek dan tingkat volatilitasnya dinilai lebih terkendali. Terakhir, Adi menyebut untuk target AUM akah tetap optimistis tumbuh. Meski enggan membidik berapa persen kenaikannya, AllianzGI memiliki aspirasi untuk menjadi salah satu manager investasi yang signifikan di Indonesia.
Baca Juga: Minat Investasi Gen-Z di Kripto Meningkat, Literasi Keuangan Perlu Diperkuat “Untuk target AUM, tentu targetnya growth. Pertumbuhannya harus lebih tinggi dari market, harus bisa memperluas penetrasi pasar, dan melebarkan sayap di Indonesia,” pungkasnya. Hingga saat ini, AllianzGI memiliki tujuh produk reksadana. Mulai dari Allianz Rupiah Liquid Fund, Allianz Fixed Income Fund 2, Allianz USD Fixed Income Fund, Allianz Alpha Sector Rotation, Allianz Indo-Asia Equity Fund, Allianz Sri-Kehati Index Fund, dan Allianz High Dividend Global Sharia Equity Dollar. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News