Australia Amankan Pasokan Avtur dari China dan Pupuk dari Brunei



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pemerintah Australia mengumumkan telah mengamankan tiga pengiriman bahan bakar jet atau avtur dari China serta tambahan pasokan pupuk urea dari Brunei untuk memperkuat cadangan energi dan pupuk nasional di tengah gangguan rantai pasok akibat perang Iran.

Dalam pernyataan pada Selasa (19/5/2026), pemerintah Australia menyebutkan lebih dari 600.000 barel atau sekitar 100 juta liter avtur akan mulai tiba pada awal Juni. Kesepakatan tersebut tercapai setelah pembicaraan antara Perdana Menteri Anthony Albanese dan Perdana Menteri China Li Qiang.

China diketahui telah memperketat ekspor bahan bakar sejak Maret guna melindungi pasokan domestik setelah penutupan Selat Hormuz mengganggu arus distribusi minyak mentah dan bahan bakar global.


Baca Juga: Obligasi Dolar Australia HSBC Diserbu Investor, Pesanan Tembus US$ 2,5 Miliar

Selain avtur, Australia juga berhasil memperoleh tambahan 38.500 metrik ton pupuk urea dari Brunei guna mendukung kebutuhan petani dan sektor pertanian nasional.

Kedua pasokan tersebut diamankan melalui fasilitas ketahanan bahan bakar dan pupuk baru senilai 7,5 miliar dolar Australia atau sekitar US$ 5,36 miliar.

Program tersebut dibentuk untuk membantu sektor pertanian dan transportasi Australia menghadapi tekanan pasokan melalui berbagai dukungan finansial, termasuk pinjaman, penyertaan modal, jaminan, asuransi, hingga dukungan harga.

“Tambahan 600.000 barel bahan bakar jet akan membantu menjaga aktivitas Australia tetap berjalan, dan tambahan pupuk akan membantu memberikan kepastian bagi para petani kami,” kata Albanese dalam pernyataannya.

Tambahan avtur tersebut setara sekitar 1% dari total konsumsi tahunan bahan bakar jet Australia.

Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong mengatakan pemerintah Australia juga bekerja sama dengan negara-negara di kawasan untuk merespons guncangan ekonomi global dan memastikan kelancaran distribusi bahan bakar penting.

Australia yang selama ini mengimpor sebagian besar kebutuhan bahan bakarnya mulai mengalami kelangkaan lokal sejak konflik di Timur Tengah pecah pada akhir Februari. Ketegangan geopolitik di kawasan tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global dan rantai distribusi komoditas strategis.