Australia dan Kepulauan Solomon Pererat Hubungan di Tengah Ketegangan Pasifik



KONTAN.CO.ID - SYDNEY. Australia dan Kepulauan Solomon sepakat mempererat hubungan bilateral di tengah memanasnya situasi keamanan di kawasan Pasifik setelah uji coba rudal balistik China dari kapal selam nuklir menuai kecaman sejumlah negara.

Perdana Menteri Australia Anthony Albanese mengatakan Canberra tidak ingin melihat tindakan apa pun yang berpotensi mengganggu perdamaian dan keamanan di Pasifik.

Ia menyebut uji coba rudal China itu sebagai langkah provokatif yang bisa memicu ketegangan baru di kawasan.


Baca Juga: Kebakaran Kilang Minyak Australia Perburuk Krisis BBM di Tengah Konflik Iran

“Tidak ada keraguan ini tindakan provokatif dari China, dan itu mengganggu stabilitas kawasan,” kata Albanese dalam konferensi pers bersama Perdana Menteri Solomon Islands Matthew Wale di Honiara, Selasa (7/7/2026).

Albanese juga menyoroti bahwa China disebut tidak memberi pemberitahuan 48 jam sebelumnya sesuai prosedur. Namun, menurut dia, perhatian utama justru terletak pada fakta bahwa rudal itu ditembakkan dari kapal selam bertenaga nuklir.

Berdasarkan laporan kantor berita Xinhua, kapal selam nuklir milik Angkatan Laut China melepaskan rudal dengan hulu ledak tiruan ke arah perairan internasional di Pasifik pada Senin pukul 12.01 waktu setempat.

Rudal itu disebut jatuh di wilayah yang telah ditentukan, meski lokasi pastinya tidak dijelaskan.

Aksi China itu langsung memancing kritik dari Amerika Serikat, Australia, Jepang, Selandia Baru, dan Taiwan. Kementerian Luar Negeri China sendiri meminta negara-negara lain tidak membesar-besarkan peristiwa tersebut.

Baca Juga: Diduga Membocorkan Informasi Rahasia, Otoritas Australia Periksa Mitra KPMG

Di balik ketegangan itu, Australia dan Kepulauan Solomon tetap mendorong hubungan yang lebih erat.

Keduanya sepakat melanjutkan perundingan menuju perjanjian komprehensif baru, sejalan dengan langkah Australia yang belakangan juga memperkuat kerja sama keamanan dengan Fiji dan Vanuatu.

“Kami ingin proses ini dipercepat, tentu dengan tetap menjaga kualitas,” ujar Albanese. 

Wale, yang mulai menjabat pada Mei lalu, menegaskan China memang mitra penting bagi negaranya, tetapi bukan berarti bebas melakukan hal yang mengancam keamanan kawasan.

“Kami tidak ingin negara mana pun, China, Amerika, siapa pun, menguji rudal balistik antarbenua di kawasan Kepulauan Pasifik,” kata Wale. 

Baca Juga: Ini Daftar Negara yang Repatriasi Warganya Akibat Terjebak Konflik di Timur Tengah

Kepulauan Solomon selama ini dipandang sebagai negara Pasifik dengan hubungan paling dekat ke Beijing, terutama setelah meneken pakta keamanan dengan China pada 2022.

Kesepakatan itu sempat memicu kekhawatiran di Amerika Serikat dan mendorong Australia memperkuat diplomasi keamanan di kawasan.

Sementara itu, pejabat Taiwan Joseph Wu ikut melontarkan kritik. Lewat unggahan di media sosial, ia menyebut China kembali menunjukkan diri sebagai pihak yang suka menekan negara lain.

Langkah Australia dan Kepulauan Solomon ini menandai upaya menjaga keseimbangan di tengah perebutan pengaruh yang makin tajam di Pasifik, saat isu keamanan, aliansi, dan kehadiran militer besar menjadi sorotan utama.