Australia Putar Arah Kebijakan, RBA Kerek Suku Bunga ke 3,85%



KONTAN.CO.ID - Bank sentral Australia menaikkan suku bunga acuannya untuk pertama kali dalam dua tahun terakhir, seiring pertumbuhan ekonomi yang dinilai lebih kuat dari perkiraan dan inflasi yang diperkirakan akan bertahan di atas target dalam beberapa waktu ke depan.

Dalam keputusan kebijakan yang diumumkan Selasa (3/2/2026), Reserve Bank of Australia (RBA) menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 3,85%.

Keputusan tersebut diambil secara bulat oleh dewan RBA dan menjadi kenaikan suku bunga pertama sejak dua tahun terakhir, sekaligus terjadi hanya enam bulan setelah pemangkasan suku bunga terakhir pada Agustus lalu.


Baca Juga: Emas dan Perak Rebound Selasa (3/2), Naik Lebih dari 2% dari Level Terendah Sebulan

Dengan langkah ini, RBA bergabung dengan Bank of Japan sebagai dua bank sentral negara maju yang saat ini masih menempuh jalur pengetatan kebijakan moneter.

Sementara itu, pasar keuangan masih memperkirakan pemangkasan suku bunga di Amerika Serikat (AS), Inggris, dan Kanada, sedangkan Bank Sentral Eropa diperkirakan akan tetap menahan suku bunga dalam waktu cukup lama.

“Dengan RBA yang kini memperkirakan penurunan inflasi akan berjalan lebih lambat, risikonya jelas condong ke arah serangkaian kenaikan suku bunga, bukan sekadar langkah satu kali, terutama mengingat keputusan hari ini diambil secara bulat,” ujar Harry Murphy Cruise, Kepala Riset Ekonomi Oxford Economics Australia.

Pasar sebelumnya memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 78%, setelah inflasi kuartal IV-2025 tercatat lebih tinggi dari perkiraan dan tingkat pengangguran turun ke level terendah dalam tujuh bulan pada Desember.

Baca Juga: Pengusaha AS Ryan Serhant: Kerja 04.30 Pagi, Sukses Bukan untuk yang Ingin Santai

Dalam pernyataan resminya, dewan RBA menilai bahwa meskipun sebagian kenaikan inflasi dipicu faktor sementara, permintaan domestik tumbuh lebih cepat dari perkiraan, tekanan kapasitas ekonomi meningkat, dan kondisi pasar tenaga kerja semakin ketat.

“Dewan menilai inflasi kemungkinan akan tetap berada di atas target untuk beberapa waktu, sehingga peningkatan suku bunga dianggap tepat,” tulis RBA.

Merespons keputusan tersebut, dolar Australia menguat hampir 1,2% ke level US$0,7027. Sementara itu, kontrak berjangka obligasi pemerintah Australia tenor tiga tahun turun 10 tick ke 95,64.

Pelaku pasar kini meningkatkan taruhan pada kenaikan suku bunga lanjutan pada Mei mendatang, dengan probabilitas hampir 80%.

Secara keseluruhan, pasar memperkirakan tambahan pengetatan sekitar 40 basis poin sepanjang tahun ini.

Baca Juga: KKR Dekati Akuisisi Perusahaan Pusat Data Singapura, Transaksi Capai US$ 10 Miliar

Inflasi Jadi Tantangan Utama

RBA sebelumnya tidak menaikkan suku bunga seagresif bank sentral negara maju lainnya ketika inflasi melonjak, karena ingin menjaga pemulihan pasar tenaga kerja. Namun, strategi tersebut kini mulai diuji.

Tiga kali pemangkasan suku bunga yang dilakukan RBA sepanjang tahun lalu justru memicu kebangkitan kembali tekanan inflasi, sehingga bank sentral beralih ke sikap lebih hawkish pada akhir 2025 dan memicu ekspektasi percepatan siklus pengetatan.

Inflasi konsumen tercatat lebih tinggi dari perkiraan selama dua kuartal berturut-turut dan masih berada jauh di atas target RBA sebesar 2%–3%.

Inflasi inti, yang menjadi indikator utama RBA, tumbuh 0,9% secara kuartalan pada kuartal IV-2025, mendorong laju tahunan ke 3,4%—tertinggi dalam lebih dari satu tahun.

Baca Juga: Elonk Musk Sebut SpaceX Berhasil Cegah Militer Rusia Akses Jaringan Starlink

Data terbaru semakin memperkuat kebutuhan perubahan kebijakan moneter, termasuk penurunan tak terduga tingkat pengangguran ke level 4,1%, terendah dalam tujuh bulan, yang menandakan pasar tenaga kerja kembali mengetat.

Belanja konsumen yang kuat, harga properti di level tertinggi, serta kemudahan akses kredit bagi rumah tangga dan pelaku usaha turut memperkuat pandangan bahwa kondisi keuangan belum cukup ketat.

Dalam pembaruan ekonomi terpisah, RBA menyatakan belum yakin bahwa kondisi keuangan saat ini bersifat restriktif. Bahkan, beberapa indikator menunjukkan kondisi masih cukup longgar.

“Secara keseluruhan, jelas bahwa RBA memandang jalan menuju penurunan inflasi akan panjang dan berliku,” kata Abhijit Surya, Ekonom Senior Asia Pasifik Capital Economics.

Ia memperkirakan hanya akan ada satu kenaikan suku bunga lagi pada Mei. Namun, Surya menilai RBA masih berpotensi menaikkan suku bunga lebih tinggi, mengingat inflasi inti diperkirakan belum kembali ke titik tengah target 2%–3% hingga awal 2028.

Selanjutnya: Kode Redeem Bleach Soul Resonance Februari 2026, Mana yang Aktif? Cek Daftarnya

Menarik Dibaca: Fitur Canggih Vivo X200T: Android 16 dan AI Bikin Hidup Mudah