KONTAN.CO.ID - Pemerintah Australia mengalokasikan dana sebesar A$2,5 miliar atau sekitar US$1,76 miliar untuk membantu mempertahankan operasional smelter aluminium Tomago milik Rio Tinto setelah 2028. Melansir
Reuters Kamis (13/8/2026), Tomago merupakan fasilitas peleburan aluminium terbesar di Australia sekaligus salah satu konsumen listrik terbesar di negara tersebut.
Baca Juga: Ford Pindahkan Produksi Lincoln dari China ke AS Mulai 2030 Dukungan pemerintah diberikan saat Australia beralih dari pembangkit listrik berbasis batu bara menuju energi terbarukan. Paket dukungan tersebut akan membantu menyediakan 3 gigawatt kapasitas pembangkit listrik baru untuk memenuhi kebutuhan energi smelter. Pendanaan akan dilakukan bersama oleh pemerintah federal Australia dan pemerintah negara bagian New South Wales. Kesepakatan itu juga mencakup perjanjian pembelian listrik (power purchase agreement/PPA) baru yang dirancang untuk menyediakan listrik yang andal dan kompetitif secara internasional. Mulai 2033, seluruh pasokan listrik yang digunakan Tomago ditargetkan berasal dari energi terbarukan. Menurut Rio Tinto, langkah tersebut akan memangkas emisi karbon langsung dan tidak langsung dari fasilitas tersebut sekitar 25%.
Baca Juga: Laba Bersih Singtel Naik 21% Jadi S$831 Juta pada Kuartal I 2026 Sempat Terancam Tutup Tomago sebelumnya menghadapi ancaman penutupan setelah kontrak pasokan listrik berbasis batu bara yang dipasok AGL Energy berakhir pada akhir 2028. Pada Oktober lalu, Rio Tinto memperingatkan bahwa smelter tersebut dapat terpaksa ditutup apabila tidak memperoleh pasokan listrik yang layak secara komersial setelah 2028. Dalam kesepakatan terbaru, Tomago akan menandatangani kontrak listrik selama 10 tahun untuk periode 2029-2038. Tomago juga akan menginvestasikan sedikitnya A$1,1 miliar ke fasilitas tersebut sebagai bagian dari kesepakatan. Dari jumlah itu, sekitar A$100 juta akan dialokasikan untuk mendukung upaya dekarbonisasi lebih lanjut. "Kesepakatan ini berarti Australia dapat mempertahankan salah satu kemampuan manufaktur strategisnya, sekaligus membantu Tomago Aluminium tetap kompetitif dalam memproduksi aluminium yang dibutuhkan untuk transisi energi global," kata CEO Rio Tinto Aluminium & Lithium, Jérôme Pécresse.
Baca Juga: Lionel Messi Ragu Lanjutkan Karier Usai Ayahnya Meninggal Transisi Energi Jadi Tantangan Tomago dibangun pada abad lalu ketika Australia masih mengandalkan listrik murah dari pembangkit berbahan bakar batu bara. Namun, biaya energi yang tinggi kini menjadi tantangan bagi sejumlah smelter aluminium Australia dalam proses transisi menuju energi terbarukan. Pemerintah Australia sebelumnya telah menggelontorkan lebih dari A$5 miliar untuk membantu sejumlah fasilitas industri strategis, termasuk smelter Boyne milik Rio Tinto, smelter tembaga Mt Isa milik Glencore, dua smelter milik Nyrstar yang dikendalikan Trafigura, serta fasilitas baja Whyalla. Tomago diperkirakan akan memperoleh pasokan listrik dari Snowy Hydro, perusahaan pembangkit listrik milik pemerintah Australia, mulai 2028.
Baca Juga: Saham Asia Menguat, Pasar Kurangi Ekspektasi Kenaikan Bunga The Fed Pemerintah federal Australia sejak Desember lalu telah berupaya mengamankan pasokan energi jangka panjang dengan harga tetap untuk smelter tersebut. Fasilitas Tomago mempekerjakan lebih dari 1.000 pekerja tetap dan sekitar 200 pekerja kontraktor. Tomago Aluminium dikelola secara independen dan mayoritas sahamnya dimiliki Rio Tinto, bersama Gove Aluminium Finance dan Norsk Hydro.