KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Australia menegaskan komitmennya untuk terus mengembangkan ekspor daging sapi ke Indonesia meski nilai tukar rupiah tengah melemah. Langkah ini dipandang sebagai bagian dari upaya menjaga ketahanan pangan sekaligus memperkuat kemitraan dagang jangka panjang kedua negara. Meat and Livestock Australia (MLA) menyatakan Indonesia tetap menjadi pasar strategis bagi ekspor daging sapi dan ternak hidup Australia.
General Manager International Markets MLA, Andrew Cox, mengatakan pihaknya tetap fokus memperluas pasar di Indonesia karena perannya yang krusial dalam mendukung pasokan pangan dan kesehatan masyarakat.
Baca Juga: Industri Susu Lokal Tertekan Biaya Pakan dan Tingginya Harga Sapi Impor “Kami sangat bersemangat untuk mengembangkan pasar ini dan kami menyadari peran yang dimainkan oleh ternak hidup Australia dan daging sapi khususnya dalam ketahanan pangan,” ujar Andrew dalam acara
Taste and Create with Australia di Jakarta Selatan, Selasa (28/4/2026). Di tengah tekanan nilai tukar rupiah, Andrew mengakui kondisi perdagangan global masih menantang. Situasi tersebut turut memengaruhi daya beli dan dirasakan langsung oleh konsumen. Meski demikian, MLA tetap melihat prospek pasar Indonesia sebagai peluang jangka panjang yang tidak bisa diabaikan. Senada, Trade Commissioner Western Australia, Bryce Green, menegaskan bahwa hubungan dagang dengan Indonesia dibangun dengan perspektif jangka panjang. Menurutnya, sebagian besar produsen dan eksportir Australia Barat memandang Indonesia sebagai mitra strategis yang berkelanjutan. Bryce menambahkan, keberlanjutan kerja sama menjadi faktor penting bagi pelaku usaha yang ingin membangun bisnis lintas negara.
Baca Juga: Kuota Impor Dipangkas, Harga Daging Sapi Naik Indonesia dinilai memiliki potensi besar untuk menciptakan hubungan perdagangan yang saling menguntungkan, baik bagi eksportir Australia maupun pasar domestik. Dengan komitmen tersebut, Australia berharap ekspor daging sapi ke Indonesia tetap terjaga, sekaligus memperkuat stabilitas pasokan di tengah dinamika ekonomi global. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News